Story

Industri, Waktunya Teladani Apel Gaya Militer

Kita nggak bekerja sendirian, melainkan satu kesatuan. Itu intinya kenapa apel, briefing, komunikasi, dan koordinasi sebelum memulai pekerjaan di pagi hari jadi penting. Kita berbeda dengan militer, tapi setidaknya bisa belajar dari mereka soal disiplin dan komando.

Setiap pagi di kompleks perkantoran, rumah sakit, di bawah jembatan layang, atau di sisi jembatan penyeberangan dan halte Transjakarta, apa yang kamu perhatikan?

Satpam atau polisi, berdiri tegap dalam posisi istirahat di tempat, membentuk beberapa barisan. Menghadap satu orang dari mereka yang tengah memberi komando. Apel pagi. Dan nggak hanya pagi, apel juga dilangsungkan dalam waktu-waktu lainnya dalam sehari.

Seorang CEO, pemimpin perusahaan kreatif digital yang tengah berkembang, pernah bertanya-tanya apa perlunya mereka ini sering-sering apel. Apa yang diomongin, barangkali itu-itu lagi. Soalnya kerjaan mereka juga kan udah jelas koridornya. Ya misalnya, bapak satpam, nongkrong siaga di pos-nya, sesekali ngobrol, mondar-mandir menjaga semua hal berjalan normal, aman.

Baca juga: Art vs. Design

Apel pagi dulu, Pak! (Foto: senkomsidoarjo.org)

Lewat satu kesempatan volunteer bersama tim gabungan militer dan sipil, saya paham betapa apel adalah bagian yang nggak pernah lepas dari keseharian pasukan berseragam. Saya pernah mau bolos apel pagi dan mau tidur lagi, malah disamper dan akhirnya apel dengan belek menyembul di sudut mata. Apel pagi isinya pengecekan anggota, briefing untuk aktivitas hari itu, pengumuman, penekanan untuk selalu mengedepankan faktor keamanan dan kesehatan, dan sesi motivasi juga. Itu. Kadang pake yel-yel dulu bahkan.

Siang hari seringkali ada apel luar biasa kalau ada dinamika baru di lapangan yang harus dikomunikasikan. Kalau malam, wajib hukumnya berkumpul menutup hari sama-sama, mengapresiasi kerja hari ini, dan menyanyikan lagu Padamu Negeri. Apel malam menandakan berakhirnya “jam kerja” hari itu.

Baca juga: Beda Belum Tentu Lebih Baik, Kenapa Harus Anti-mainstream?

Industri ini jauh lebih dinamis daripada itu. Dari jam ke jamnya hampir selalu ada perubahan. Tapi, nggak selalu dari kita duduk bareng di pagi hari, briefing, seperti halnya anggota militer berdiri bareng sebelum mulai kerja. Atau seperti halnya kita di bangku sekolah dasar, berlari ke gerbang sebelum bel dan lonceng apel dibunyikan. Belum tentu pula kita saling mengapresiasi di ujung hari dalam “apel” malam, atau sekedar rutin saling mengucapkan “Otsukaresamadeshita” (thanks for your hard work) sebelum pulang kepada rekan kerja, seperti di Jepang.

Kita nggak bekerja sendirian, melainkan satu kesatuan. Itu intinya kenapa apel, briefing, komunikasi, dan koordinasi sebelum memulai pekerjaan di pagi hari jadi penting. Bukan datang langsung tenggelam dalam kubikel masing-masing, berkutat dengan layar sendirian.

Baca juga: Mengapa Uber adalah Game Changer

Setiap lingkungan kerja emang ada porsi dan kebijakan masing-masing dalam menggelar “apel” berkala untuk tim. Kita emang nggak perlu berbaris di luar ruang kantor pagi-pagi untuk briefing dengan muka tegang dan tangan dilipat ke belakang, atau malah teriak yel-yel pagi biar semangat. Cukup duduk bareng di space nyaman di sudut kantor, membahas ceklis yang dikerjakan bersama. (This works for small team of startup-type company)

Kita berbeda dengan militer, tapi setidaknya bisa belajar dari mereka soal disiplin dan komando. Miskomunikasi, miskoordinasi, dan misunderstanding hampir selalu kejadian, dan nggak jarang fatal akibatnya. Komando mengajarkan kita untuk percaya pada pemimpin, dan kerja bareng sesuai prioritas harian yang sudah ditetapkan. That way, work gets easier. Dan, kalau saja “Otsukaresamadeshita” tadi bisa jadi bagian dari kultur kerja kita, pagi berikutnya pasti akan terasa lebih menyenangkan.

Baca juga: Kenapa Anak Muda Harus Jadi “King”, Bukan “Jack of All Trades”

Header image credit: hdwallpaperscool.com