Opinion

Detektif Swasta VS Polisi, Kenapa Sistem Memperlambat Hasil

Kalau semua orang mau sedikit aja go to a greater length, dunia akan jadi tempat yang lebih baik. Dan mungkin akhirnya polisi bisa jadi sekeren detektif swasta di cerita fiksi.

Sore ini gue baru saja selesai membaca novel The Silkworm karya Robert Galbraith (nama aliasnya J.K. Rowling, penulis serial Harry Potter) yang bercerita tentang detektif swasta yang berhasil mengalahkan polisi dalam memecahkan kasus pembunuhan.

Sejak kecil, banyak dari kita yang jatuh cinta dengan kisah-kisah detektif. Sebut aja Detective Conan, Sherlock Holmes, atau kalau gue suka sama serial Pasukan Mau Tahu-nya Enid Blyton. Tadi sore, gue menyadari satu hal, bahwa dalam kisah detektif manapun, selalu diceritakan detektif swasta mengalahkan polisi dalam kecepatan dan keakuratan memecahkan kasus.

Image credit: bradandres.com

Tentu pada ingat Inspektur Megure di serial Detective Conan. Inspektur ini gak bodoh dalam menyelidiki dan menginvestigasi suatu kasus, tapi entah kenapa selalu Conan (atau Detektif Mouri) yang duluan menemukan pelakunya, atau setidaknya yang memberikan Inspektur Megure petunjuk-petunjuk penting dan krusial dalam pemecahan kasus. Di sini pun gue sadar akan satu hal, bahwa sistem memang memperlambat hasil.

Baca juga: Creative Commons, Melegalkan Karyamu Secara Gratis

Kepolisian itu punya sistem: mau pemeriksaan atau penangkapan butuh surat, tiap ada kasus mesti bikin paperwork, ngelanjutin penyelidikan juga butuh izin atasannya. Kalau detektif swasta? Lihat aja Sherlock Holmes, kerja gak pakai seragam dengan topi dan cerutu yang keren, mau wawancara tersangka atau melakukan pengintaian bisa lebih leluasa tanpa embel-embel kepolisian. Di kebanyakan cerita, orang-orang yang punya kasus juga cenderung lebih senang mengadu ke detektif daripada polisi, karena polisi (biasanya) suka gak acuh sama kasus-kasus yang dianggap kurang penting.

Memang, itu semua cuma cerita fiksi. Tapi coba kita lihat fenomena yang mirip di dunia bisnis. Sekarang, inovasi-inovasi terbaru justru banyak yang datang dari perusahaan-perusahaan yang baru dirintis atau startup dengan jumlah orang yang cenderung sedikit dan culture yang sifatnya terbuka. Perusahaan-perusahaan raksasa pun yang melihat fenomena ini jadi berusaha merombak sistemnya, dengan unit-unit yang lebih kecil sehingga karyawannya bisa bergerak lebih cepat, hingga menggeser budaya perusahaan menjadi lebih horizontal.

Di dunia kesehatan juga begitu. Orang-orang yang bahkan berpendidikan dan modern mulai mencoba pengobatan-pengobatan alternatif, back to traditional way. Banyak yang mulai gak percaya sama rumah sakit atau dokter karena dokter suka asal-asalan bikin diagnosa dan ngasih obat sembarangan. Bukannya maksud generalisasi nih, tapi dokter cenderung orientasinya adalah menjalankan sistem yang ada, bukan memecahkan masalah, gak kayak–misalnya–klinik-klinik alternatif kecil yang reputasinya tersebar dari mulut ke mulut.

Baca juga: Idealisme, Kemewahan Terakhir Yang Hanya Dimiliki Pemuda

Intinya, orang itu lebih bebas berkreasi kalau gak banyak aturan atau doktrin sana-sini. Kalau banyak tekanan dari mana-mana, kayak dokter mau ngejar banyaknya pasien, atau perusahaan mau ngejar target penjualan, ya pikirannya gak sempat mikir tentang inovasi atau improvement atau pemecahan masalah. Tahunya yang penting selesai aja. Itulah juga kenapa orang-orang yang meng-embrace kebebasan berkreasi dan aktualisasi diri lebih suka usaha sendiri daripada kerja sama orang. Terus, orang-orang nasionalis-idealis sering menolak masuk politik dan memilih untuk terus jadi aktivis, dengan alasan bahwa suatu gerakan akan lebih impactful jika tidak dihambat birokrasi.

Pelajaran yang bisa diambil? Think free dan be free. Bahkan kalaupun kita sudah terlanjur masuk ke dalam sistem, tetaplah sensitif dan aware dengan hal-hal yang sistem tidak perhatikan. Yang jadi polisi, tetap buka mata dengan celah-celah yang orang tidak lihat. Yang jadi dokter, jangan cuma tahu teori waktu kuliah, tapi eksplor kemungkinan-kemungkinan yang ada. Yang jadi karyawan di perusahaan besar, sempatkan waktu untuk mikir apa yang bisa ditingkatkan, jangan cuma kejar setoran, Yang jadi politikus, ya kuatkan diri untuk gak terseret arus yang demikian hebat, pertahankan idealismemu.

Kalau semua orang mau sedikit aja go to a greater length, dunia akan jadi tempat yang lebih baik. Dan mungkin akhirnya polisi bisa jadi sekeren detektif swasta di cerita fiksi.

Baca juga: Memimpikan Indonesia Serba Terbuka

Header image credit: teacherneedhelp.com