Opinion

Cuma Sekolah Aja Nggak Jamin Masa Depan

Kemarin, baru aja kita ngerayain Hari Anak Nasional. Err, nggak ngerayain gimana juga sih sebenernya. Cuma selebrasi dimana dalam sehari, semua mendadak sok aware dan peduli. Bagus sih, daripada nggak sama sekali.

Pengen banget saya bisa bilang, Indonesia negeri saya, adalah negeri yang ramah anak. Dengan ekosistem yang mendukung anak tumbuh dan berkembang jadi dewasa yang brilian. Sayang, kemewahan itu masih eksklusif untuk anak-anak beruntung yang lahir di keluarga berada, dengan ibu dokter dan ayah profesor universitas ternama *lebay*.

Itupun, masih harus dihadapkan sama ancaman pedofil bahkan di level sekolah orang kaya. Gimana sekolah yang biasa-biasa aja? Gimana juga dengan anak-anak yang sekolahnya di jalanan, dan gurunya kehidupan. *tsaah*

Ratusan ribu anak putus sekolah, tingginya angka kematian balita, gizi buruk, kekerasan pada anak, jutaan pekerja anak yang hanya bisa tamat SD. Dan realita lain yang terjadi pada lebih dari sepertiga penduduk negara kita: anak-anak.

Pada intinya bukan gimana-gimana. Indonesia emang masih punya banyak pe er untuk kanak-kanaknya. Salah satu yang paling krusial, gimana negara nyediain pendidikan yang baik, dan pilihan karir yang memadai bahkan sejak mereka kecil.

Ngomong-ngomong pendidikan….*hela napas panjang*, ini emang pe-er paling ribet, paling susah, padahal paling mendasar. Karena cuma dengan pendidikan yang benar, semua orang bisa memberdayakan diri mereka sendiri, mensejahterakan keluarga dan lingkungannya, sampai memajukan bangsa dan negara.

Iya, pendidikan emang sebesar itu dampaknya.

Dan pendidikan di sini ngga terbatas di pendidikan formal di bangku sekolah ya. Bisa juga berbagai hal di luar sistem seperti kursus, pelatihan, ataupun pendidikan non-formal dari keluarga. Intinya, gimana pendidikan itu bisa membuka seluas-luasnya potensi anak didik, dan memberikan mereka skill yang cukup untuk berkontribusi positif secara signifikan kepada masyarakat.

Salah satunya dengan memberikan mereka pilihan dalam karir dan berkarya. Kita ngga bisa membatasi pilihan seorang anak sejak dini, bahwa mereka cuma boleh jadi pilot, dokter, atau arsitek. Mereka boleh mengeksplorasi lebih banyak hal, misalnya aja teknologi.

Salah satu contoh yang bisa diterapkan, misalnya seperti program Made with Code, sebuah inisiatif yang baru diluncurkan untuk mengajak lebih banyak anak perempuan menyukai teknologi, dan diharapkan di masa depan mereka bisa jadi pemimpin-pemimpin di industri, ngga kalah sama yang cowok.

Program ini ingin menunjukkan kepada anak-anak perempuan bahwa berbagai hal yang mereka sukai, seperti games di smartphone, atau aplikasi yang mereka pakai dibuat dengan kode/program, dan mereka bisa belajar gimana cara bikin hal yang mereka sukai menggunakan programming. Kenali dulu mereka lewat video ini!

Made with Code – The Film

Websitenya juga menawarkan berbagai resource dan proyek untuk anak-anak gimana caranya belajar bikin program, serta komunitas untuk berdiskusi dengan mentor dan sesama peserta, maupun informasi atas berbagai event yang digelar.

Selama ini, teknologi emang dianggap cuma punyanya cowok. Dan sayangnya, sejak kecil ngga banyak dukungan untuk cewek supaya lebih banyak eksplor dan belajar soal teknologi. Padahal bukan berarti cewek lebih gaptek atau lebih ngga jago loh! Cuma karena banyak jalan aja yang ngga ngedukung.

In the end, balik lagi ke individu masing-masing, karir seperti apa yang mereka mau pilih ketika sudah dewasa. Tapi alangkah baiknya kalau dari awal, pilihan tersebut tidak dibatasi dan ditutup jalannya, cuma karena stereotipe masyarakat awam bahwa perempuan ngga cocok terlibat, apalagi jadi pemimpin, di teknologi.

Header image credit: googleblog.blogspot.com