Opinion

Awas Terjebak Filosofi Ilmu Padi

Harusnya, orang-orang pintar dan penuh pengalaman ini lantang bersuara, berbagi ilmunya pada sesama, bahkan menggerakkan peradaban ke arah yang lebih baik.

Padi, yang nasinya setiap hari kita makan itu, mengajarkan filosofi hidup “semakin berisi, semakin merunduk.”

Falsafah yang dekat dengan kita sejak kecil ini, maksudnya mau bilang bahwa manusia nggak sepantasnya sombong. Wong kita ini hanya butiran debu di antara semesta ciptaan Tuhan. Di atas langit masih ada langit. Dan kalau kata hadist, tak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, meski itu hanya sebesar biji zarrah.

Iya, sepakat bila filosofi padi dimaknainya benar seperti itu. Untuk menjadikan kita manusia yang nggak berjalan di muka bumi dengan congkak seakan dunia ada di genggaman, menganggap rendah setiap orang.

Baca juga: Mulai Jadi Pahlawan Melalui Start Surabaya

Budaya tutur di Indonesia masih mendominasi. Image credit: sdphaltim.com

Tapi, padi bukan lantas menyuruh kita, kalau sudah pintar, merunduk saja. Diam-diam, jangan sampai kelihatan orang. “Semakin berisi, semakin merunduk” bener-bener gawat kalau jadi patokan bahwa semakin pintar dan kaya pengalaman seseorang, semakin ia tidak tampil. Ingat nasibnya padi setelah makin berisi dan merunduk? Ya ditumbuk-tumbuk. Dipanen berasnya, padinya mati. For good sih, tapi tetap mati.

Karena harusnya, orang-orang pintar dan penuh pengalaman inilah yang lantang bersuara, berbagi ilmunya pada sesama, bahkan menggerakkan peradaban ke arah yang lebih baik.

Kalau dikaitkan, beberapa waktu lalu saya sempat baca di Kompas.com, dikutip dari Kementerian Riset dan Teknologi RI, produk intelektual bangsa Indonesia dalam bentuk publikasi ilmiah masih sangat tertinggal dibanding negara-negara di Asia, bahkan ASEAN.

Baca juga: Don’t Burn The Bridge

Katakan dalam satu kurun waktu yang sama, total publikasi nasional dan internasional dari negara tetangga Singapura, Thailand, dan Malaysia di atas 30.000. Sementara Indonesia hanya menghasilkan total publikasi 7.843, atau 25 persennya.

Orang awam pun bisa menyimpulkan, geliat kehidupan iptek di kalangan akademisi kita emang belum optimal aja. Padahal, banyak kampus dalam negeri yang udah berlomba-lomba pasang title world class research, bahkan membangun perpustakaan megah yang diklaim terbesar se-ASEAN. Lalu, hasilnya?

Guru besar IPB menuliskan pandangannya tentang beberapa faktor yang membuat publikasi ilmiah kita begitu seret. Pertama, naskah ilmiah yang masuk terlalu sedikit sampai mengurangi derajat selektivitas. Kemudian, kurang optimalnya peran reviewer, dan kecilnya dana penelitian untuk dosen dan peneliti.

Alasan pertama sih yang paling fundamental. Sedikitnya naskah ilmiah, apa mungkin para akademisi semuanya sebegitu menganut filosofi ilmu padi? Pintar dan merunduk, sementara seharusnya expertise mereka bisa dituangkan dalam tulisan yang jadi sumber ilmu buat banyak orang di dunia.

Budaya tutur di Indonesia emang masih mendominasi. Ketertinggalan ini nggak lepas dari lemahnya budaya menulis mulai dari kampus. Banyak mahasiswa malas menulis, cuma mengincar gelar di belakang nama, mau ijazah biar lebih mudah cari kerja.

Baca juga: Pemimpin Itu Harus Kepo

Segera setelah saya lulus pun, tiba-tiba di jurusan saya skripsi berubah jadi mata kuliah pilihan. Bisa lulus hanya dengan menyelesaikan target SKS gitu aja, gimana mahasiswa nggak semakin enggan menulis? Akhirnya yang memilih untuk tetap ambil Tugas Akhir atau Skripsi, ya cuma yang bener-bener prinsipil aja. *padahal iri*

Kalau kita memutuskan jadi akademisi di kampus, lakukanlah dengan baik. Nggak hanya berlaku untuk akademisi dan publikasi ilmiah, praktisi industri pun nggak bisa terus menerus praktek tanpa menuliskan ilmunya. Seperti kata pepatah, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Jangan merunduk-runduk, tunjukkan ke dunia, bagikan ilmu kita ke sesama.

Header image credit: infoanekamacam.blogspot.com