Opinion

Raising The Standards

“Refuse to lower your standards to accommodate those who refuse to raise theirs.”

Pernah gak waktu sekolah atau kuliah, ada temen di kelas yang ngakunya gak belajar terus tiba-tiba dapat nilai tinggi? Ngeselin dong, ya? Ada juga yang udah dapat nilai 90, eh masih aja protes ke guru dan mencari-cari di mana letak kesalahannya. Pasti sebagian besar dari kita mikir, ya elah, bro, kurang bersyukur banget sih.

Kita pun lantas memberikan cap “sombong” atau “sok pinter” ke temen-temen yang kayak gitu. Padahal, letak kesalahannya bukan pada sifat mereka, tapi pola pikir kita yang terlalu cepat nge-judge orang, dan gak melihat lebih dalam bahwa semua ini adalah masalah perbedaan standar.

Temen lo yang ngakunya gak belajar sebenarnya udah belajar. Tapi dia gak belajar kayak biasanya. Mungkin biasanya dia ngabisin baca satu buku kemudian latihan soal tiap bab. Tapi, ujian kali ini dia cuma baca catatan dan gak latihan soal sama sekali. Menurut “standar” dia, kalau gak baca buku dan latihan soal itu namanya gak belajar.

Baca juga: Menjadi Buruh Ber-Mental CEO

Sementara, mungkin menurut lo, yang namanya gak belajar itu ya literally gak baca apa-apa sama sekali, dan baca catatan temen, bukan catatan lo sendiri bahkan, itu udah belajar itungannya.

Kalau udah kayak gini, berarti temen lo bukannya sombong dong, tapi elo-nya aja yang close-minded bahwa tiap orang punya standar yang berbeda. Padahal, kita bisa belajar dari para nerds di kelas, tentang pentingnya raising the standards.

Kalau baru sukses bikin charity ngasih makan anak-anak panti asuhan, coba look up ke Blake Mycoskie yang udah memberikan ribuan sepatu gratis ke anak-anak Argentina lewat TOMS atau ke Anita Roddick yang memberdayakan masyarakat negara dunia ketiga lewat The Body Shop. Kalau berhasil develop web keren, coba lihat situs-situs yang mengubah industri kayak Netflix dan Spotify.

Baca juga: Melawan Pembajakan Dengan Model Bisnis yang Tepat

Image credit: forbes.com

Kalau dulu Bill Gates cepat puas, gak akan ada Microsoft.

Intinya, jangan cepat puas dan anggap kalo yang lo lakuin belum ada apa-apanya. Emang sih, walaupun di atas langit selalu ada langit, bukan berarti semua langit di atas kita harus dikejar. Tapi, selama masih punya energi dan skill untuk terus progresif, kenapa harus stay di satu tempat? Aim big, guys.

Kalau masih muda, jangan berhenti raise your standards. Inget kan kata Bill Gates: Be nice to nerds. Chances are you’ll end up working for one? Nah, jangan sampai yang dulu sering lo cap sombong dan sok pinter, malah jadi atasan lo.

Baca juga: Isn’t Life Too Short For Holiday?

Header image credit: wikimedia.org