Featured

Penting Mengerti Konteks, Bukan Cuma Konten

Kalau udah ngerasa pinter dan bisa bikin banyak hal keren, jangan sombong dulu. Udah mengerti konteks belum?

Siapa di antara lo semua yang pernah nonton Star Wars? Saga ini udah berkali-kali tayang di televisi nasional, jadi at least pasti lo pernah lihat cuplikannya.

Kelihatan jadul? Pasti. Apalagi Star Wars episode IV sampai VI yang dirilis dari tahun 1977 hingga 1983. Kalau anak-anak sekarang nonton, mungkin gak tertarik karena udah biasa ngelihat kecanggihannya The Avengers.

Terus apa sih yang bikin Star Wars bisa booming banget dan jadi cult? Ceritanya memang oke, dengan timeline film yang dibagi jadi dua bagian dan misteri tentang Darth Vader. Tapi, yang bikin Star Wars benar-benar gila adalah karena special effect-nya yang di tahun 70-an itu benar-benar breakthrough.

Baca juga: Andreas Senjaya, Bermanfaat Melalui Teknologi

Mungkin orang awam zaman sekarang gak akan ngerti bagusnya Star Wars. Tapi bagi para penonton film tahun 70an, ngelihat suatu galaksi baru dengan segala pesawat dan robot-robotannya benar-benar menggugah dan ngasih sesuatu beyond imagination. Di industri film sendiri, Star Wars adalah salah satu milestone untuk genre fiksi ilmiah.

Apa kesimpulan yang bisa diambil?

Gak cukup cuma ngelihat dari satu informasi. Image credit: dipettamortgage.com

It’s not only about content, it’s about context.

Semua orang mungkin bisa bikin konten bagus, mau itu film, produk bisnis, mobile app, atau karya lainnya. Tapi konten yang bagus harus bertemu konteks yang pas, supaya bisa jadi luar biasa.

Bayangin kalau AirBnB–yang baru aja dinobatin sebagai Company of the Year oleh Inc. Magazine—meluncurkan start-up nya lima tahun lebih awal, mungkin gak bisa sesukses sekarang, karena mungkin pikiran orang sebelum ini belum terlalu terbuka untuk percaya menyewakan space di rumahnya untuk orang lain.

Baca juga: Yukka dan Putera, Bangun Fashion Brand Dengan Manfaatkan Engineering Design

Istilahnya, sama aja kalau lo pinter tapi diajak ngomong gak nyambung, berarti lo cuma mengerti konten gak mengerti konteks.

Untuk bisa menghasilkan karya atau inovasi yang luar biasa, gak cukup cuma mengerti gimana bikin karya yang bagus, tapi juga ngerti how it fits into the condition. Kalau cuma keren-kerenan, semua bisa. Tapi gak semua bisa ngelihat apa yang benar-benar bisa solve problem dan go beyond dari apa yang udah ada. Dan untuk mengerti konteks, kita butuh banyak baca dan banyak nanya.

Jadi, kalau ngerasa udah pinter, jangan sombong dulu. Udah mengerti konteks belum?

Baca juga: Susah Fokus? Mungkin Lo Termasuk Tipe Scanner

Header image credit: blastr.com