Opinion

Mau ‘Jalan di Tempat, Grak!’ atau ‘Maju, Jalan!’?

“To improve is to change, to be perfect is to change often.” (Winston Churchill)

Semua pasti pernah ngalamin enaknya hidup di zona nyaman. Situasi dimana kita udah PW (Posisi Wuenak), nyaman, dan tidak mau beranjak kemana-mana. Rutinitas dan pekerjaan itu-itu aja, target itu-itu aja, kebiasaan itu-itu aja. Udah puas dengan hal yang dicapai sekarang, jadi males ngapa-ngapain.

Kebanyakan kita takut pada perubahan. Mending gini-gini aja tapi aman, daripada berubah dan nggak ada yang jamin kalau masa depan lebih menyenangkan.

We all fear what we don’t know. It’s natural. Tapi, masa yang natural kayak gitu jadi menghambat kita maju dan bergerak? Padahal, udah sifat alamiah manusia juga untuk nggak gampang puas. Untuk selalu menginginkan lebih, to get as close to perfection as humanly possible.

Terus kenapa kita takut perubahan? Ngatasin malas bergerak dari zona nyaman, hambatannya emang macam-macam. Entah itu motivasi internal kita yang kurang kuat, atau kalau mau nyalahin lingkungan: yaaa lingkungannya nggak kondusif lah, dan lain-lain.

Baca juga: Rombak Pola Pikir

Padahal kalau kata Winston Churchill, kalau kita mau jadi lebih baik, ya kita harus berubah. Untuk jadi (mendekati) sempurna? Ya terus-terusan berubah. Jangan mau berada dalam suatu kondisi yang statis, apalagi membosankan. Yang dilakukan itu-itu aja, lingkungan itu-itu aja, akhirnya pola pikir kita juga itu-itu aja. Stuck.

Pandangan dan pola pikir kita akan berubah ketika berusaha keluar dari zona nyaman. Ketika keluar dari zona nyaman, kita belajar dari hal yang sebelumnya kita lakukan. Dan berkembang dari sana.

Ambil saja contoh, Arlita Tiarasari dengan bisnis sepatukukubaru-nya. Lima tahun kerja sebagai manager di sebuah bank asing, untuk resign dan fokus menekuni bisnis itu bukan perkara gampang! Awalnya banyak ketakutan: khawatir karena kehilangan banyak uang tunjangan, takut bisnisnya nanti nggak meledak di pasaran, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Tapi toh akhirnya, kalau saat itu Arlita nggak memutuskan berubah, bisnisnya nggak akan ngehits kayak sekarang.

comfort zone gambar: tedserbinski.com

 

Baca juga: Menjadi Lebih Bermakna

Perubahan memang mutlak harus dilakukan, tapi ya tidak harus selalu dalam hal-hal yang besar. Perubahan kebiasaan mungkin akan sulit dilakukan, tetapi ketika terus merubah kebiasaan, hasil yang baik terlihat. To be perfect is to change often.

Perubahan juga nggak bisa dilakukan dengan waktu seminggu atau sebulan, pernah ikutan les bahasa Inggris trus seminggu kemudian langsung cas-cis-cus ngomong inggris? Nggak kan? Ya perubahan emang nggak instan, kan.

Kita juga gak bisa memaksa untuk langsung berubah, tiba-tiba resign dari tempat kerja trus mau bikin usaha, nggak pake mikir, ya nggak gitu juga. Sama aja bohong kalau kita mencoba keluar dari zona nyaman tapi nggak punya tujuan. Semakin jelas tujuan kita, semakin kecil risiko yang bakal dihadapi, risiko lingkungan baru atau bahkan risiko punya teman-teman baru nantinya.

Baca juga: #ziliun17: Online Social Movement Indonesia

Perubahan emang penuh risiko.Tetapi ketika kita sudah terbiasa dengan perubahan tersebut, risiko untuk berubah akan semakin kecil. Malah nih, risiko untuk yang tidak mau berubah lebih besar. Mau hidup gitu-gitu aja?

Jadi, hell with risks. Kalau kata Mark Twain sih, “Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do.”

“So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover,” lanjutnya.

header image creadit: wallpaperscraft.com/