Opinion

Mau Bertanya, Sesat di Jalan

“Malu bertanya, sesat di jalan.”

Sebuah peribahasa yang mungkin paling sering didengungkan di telinga kita sejak sekolah dasar. Bukan Indonesia namanya kalau tidak munafik dan suka membodohi bangsanya sendiri. Mau bukti?

Mari kita mulai dari orang tua kita sendiri. Berapa banyak dari kalian yang memiliki orang tua yang selalu mendorong kalian untuk kritis bertanya? Mungkin tidak banyak. Berapa sering orang tua kita mengatakan, “ah anak kecil, jangan banyak nanya, ini urusan orang dewasa”? Mungkin sering.

Image credit: indosuara.com

Sekarang kita beralih ke lingkungan terdekat di sekolah, yaitu teman sepermainan. Berapa sering kita mencemooh teman di dalam kelas yang suka bertanya? Coba tanyakan ke diri sendiri sekali lagi, seberapa besar kita menghargai teman yang berusaha menunjuk jari bertanya kepada guru di kelas. Mungkin jawabannya mendekati nol. Anak yang suka bertanya akan dianggap “tukang mencari perhatian” oleh teman sekelasnya. Sungguh sebuah peer pressure yang begitu berkualitas.

Baca juga: Kenapa Lo Harus Selalu “Kepepet”

Berikutnya kita beranjak ke lingkungan yang lebih luas, yaitu masyarakat sekitar lingkungan kita. Rasanya tidak ada satu pun rekam jejak di sejarah bangsa ini yang membanggakan orang yang sering penasaran. Bandingkan dengan bule-bule yang selalu mengatakan “that is a very good question” di kala kita mengikuti sebuah seminar atau terlibat di sebuah percakapan dengan mereka.

Bahkan di ajaran beberapa agama, mempertanyakan sesuatu bisa saja dianggap sebuah dosa. Dan pada saat kita menjalankan agama tersebut hampir setiap saat di hidup kita, kebiasaan tidak boleh mempertanyakan sesuatu merasuki pikiran dan pola pikir kita.

Baca juga: Pilih Kapal Pesiar, Sekoci, atau Speedboat?

Tidak heran masyarakat kita tergolong tidak kritis dalam banyak hal. Silakan jawab apabila ada yang mengetahui berapa ribu ton emas yang dihasilkan Papua setiap hari, berapa barel minyak yang diproduksi berbagai perusahaan asing di negeri kita, berapa jumlah manusia Indonesia yang tidak pernah membayar pajak dengan benar, dan kemudian harusnya ke mana penggunaan uang hasil pajak itu.

Pikirkan lagi. Apakah mempertanyakan orang tua kita menjadikan kita durhaka? Apakah mungkin pendidikan dasar di Indonesia banyak yang menyesatkan? Apakah mungkin ada sebuah konspirasi yang menginginkan sebagian besar manusia Indonesia selamanya bodoh, selamanya miskin?

Saya berharap saya salah. Saya berharap semua tulisan saya ini salah. Semoga kalian yang benar.

Baca juga: Coming Hopefully Soon, Smart City

Header image credit: gratisography.com