Opinion

Idealisme, Kemewahan Terakhir yang Hanya Dimiliki Pemuda?

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” (Tan Malaka)

Gue setuju banget dengan pernyataan bahwa hidup itu gak boleh ikut arus, dan bahwa sebagai anak muda, kita harus idealis. The thing is, zaman sekarang banyak anak muda yang ngerasa dirinya idealis, padahal at the end mereka cuma ikut-ikutan “idealis”. Gue sendiri punya beberapa pengalaman pribadi yang membuktikan itu.

Beberapa tahun belakangan, “youth volunteering” dan sejenisnya lagi tren banget. Anak muda berlomba-lomba untuk bikin gerakan sosial atau perkumpulan anak muda pakai nama yang keren-keren kayak “movement”, “leaders”, “action”, dan lain-lain. Maaf kalau gue skeptis, tapi gue percaya hanya ada beberapa orang atau organisasi yang sebenarnya benar-benar concern sama isu sosial dan tulus melakukan itu karena memang itu panggilan hidupnya. Sisanya menurut gue hanya ikut-ikutan karena saat ini gerakan sosial adalah sesuatu yang cool.

Gue punya beberapa pengalaman pribadi mengenai ini. Gue pernah tergabung dalam satu kepanitiaan konferensi nasional untuk anak muda dari 33 propinsi. Gue ada di kepanitiaan itu bukan karena gue anak muda yang idealis gimana, tapi lebih karena gue senang bisa melihat anak-anak muda dari daerah mendapatkan kesempatan yang setara untuk speak up dan mempresentasikan idenya. Gue gak optimis bahwa hasil dari konferensi itu akan bisa diimplementasikan dalam jangka panjang oleh para delegasi di daerah masing-masing, tapi sebagai anak rantau yang besar di daerah dan sekarang akhirnya bisa ngerasain akses kesempatan yang lebih baik, gue ingin make the event happen agar bisa setidaknya memberikan kesempatan itu.

Baca juga: Bangga Sama Indonesia Itu Ngaku Lokal, Bukan Sok Internasional

Singkat cerita, konsep acara dari konferensi yang gue selenggarakan itu sedikit mirip dengan konferensi lain yang udah lebih “senior”. Anak-anak yang jadi panitia di konferensi lain itu pun mulai ribut, karena merasa idenya “dicuri”. Salah satu dari mereka, yang kebetulan gue kenal, mengirimkan message ke gue di Facebook yang isinya nanyain akun Facebook-nya ketua panitia gue. Ketua panitia gue sendiri juga di-SMS oleh salah satu anak konferensi lain itu, dan “dilabrak” karena dianggap plagiat.

Jawaban ketua panitia gue? “Gue rasa kita di sini sama-sama berjuang untuk hal yang baik.”

Sebagai orang yang mengamati konflik itu, jujur gue jadi ilfeel. Gue ilfeel sama dunia “volunteering” ini. Mungkin salah bagi gue kalau gue judgmental dan cuma menilai dari satu kasus. Tapi, dari kasus itu, gue mengambil kesimpulan bahwa orang-orang di konferensi yang lebih “hip” itu memperlakukan cause-nya seperti bisnis atau brand. Mereka gak mau ditiru dan diplagiat. Oke, memang suatu event butuh brand, tetapi gak seperti bisnis yang mestinya khawatir kalau ada kompetitor, seharusnya social cause harus senang saat semakin banyak orang yang ingin menyebarkan ide-idenya.

Baca juga: Sistem Pendidikan Indonesia yang Menyesatkan

Apa yang bikin gue makin ilfeel adalah, orang-orang yang justru ribut sana-sini karena merasa diplagiat adalah mereka yang bukan generasi pertama dari organisasi atau konferensi itu. Para founder dan inisiatornya justru adem ayem aja. Anak-anak bawahnya, menurut hipotesis gue, adalah orang-orang yang mungkin bergabung hanya karena it’s prestigious to take part in a cool social event (pardon my judgment). Organisasi itupun jadi kehilangan hati karena misi awal para inisiatornya gak nyampe di penerusnya.

Terus, kalau keadaannya kayak gini, apa dong bedanya anak muda yang mengaku idealis dengan mereka yang jadi corporate slave? Gue yakin banyak anak muda yang ngerasa mereka idealis, mereka gak ikut arus, padahal at the end mereka juga terjebak ke dalam arus yang sama, yaitu prestige. Kebetulan aja prestige itu “dibungkus” dengan suatu cause yang baik.

Baca juga: Jangan Mau Punya Mental PNS!

Makanya, mending lakuin apa yang judul tulisan ini bilang. Cari waktu dan pertanyakan lagi idealisme lo. Kalau ternyata setelah lo contemplate lo jadi sadar bahwa sebenarnya lo gak sepeduli itu, mending jadi kapitalis sekalian toh?

header image credit: socialmediaservices.com