Featured

Crowdsourcing: Solusi Masa Depan Dunia Pendidikan

Gak seperti sekolah formal yang sifatnya top-down karena kurikulum sudah disusun dan guru adalah yang berhak menentukan materi, crowdsourcing bikin pendidikan jadi lebih dinamis.

Kalau lo lumayan update dengan dunia startup dan teknologi, pasti pernah dengar yang namanya crowdsourcing. Crowdsourcing–yaitu proses memperoleh layanan, ide, atau konten dengan mengumpulkan kontribusi dari komunitas online–merupakan istilah yang pertama kali dikeluarkan oleh majalah Wired di tahun 2005, gara-gara banyak perusahaan yang nge-outsource kerjaan ke orang-orang lewat Internet.

Saat ini, ada banyak hal yang di-crowdsource, di antaranya jasa content writing untuk website, dana proyek atau crowdfunding kayak Kickstarter, atau akomodasi kayak AirBnB. Banyak juga brand kayak Domino’s Pizza dan Coca-Cola yang nge-crowdsource ide-ide baru untuk pizza dan desain botol lewat media sosial. Contoh crowdsourcing paling nyata yang kita akses sehari-hari tentu adalah Wikipedia. Kalau gak ada ensiklopedia yang dibangun bareng-bareng oleh kontributor dari seluruh dunia ini, mungkin nyari informasi gak bakal segampang sekarang.

Baca juga: Sistem Pendidikan Indonesia yang Menyesatkan

Source: caglecartoons.com

Terus, kalau crowdsourcing udah banyak bermanfaat di berbagai industri, beberapa forum pendidikan di Internet mulai punya wacana: kenapa gak bisa dimanfaatkan buat sektor pendidikan? Kalau Wikipedia aja bisa bantu anak-anak sekolah dan mahasiswa lebih gampang ngerjain tugas, why can’t we stretch another possibilities?

Sebenarnya, udah ada beberapa contoh nyata tentang pemanfaatan crowdsourcing untuk proses belajar. Misalnya, Duolingo, yaitu platform belajar bahasa yang minta bantuan masyarakat untuk bikin kursus-kursus bahasa yang belum di-provide sama Duolingo. Sejauh ini, Duolingo cuma mem-provide enam bahasa untuk dipelajari, tapi ke depannya sudah ada ribuan volunteer yang siap membantu untuk menambah materi bahasa lain.

Baca juga: Joko Anwar: Online Itu Cuma Media, yang Penting Kontennya!

Ada juga contoh lain, yaitu startup yang namanya Skillshare. Skillshare adalah komunitas belajar online di mana semua orang bisa belajar real-world skills dengan sistem project-based. Gak seperti kelas-kelas online terakreditasi dari kampus-kampus ternama—seperti di Coursera dan Udacity—kelas di Skillshare gak diakreditasi dan siapapun bisa ikut mengajar. Kerennya, banyak industry leader yang buka kelas di Skillshare, seperti Seth Godin dan James Franco.

Duolingo dan Skillshare jadi bukti kalau konsep crowdsourcing di pendidikan bikin ilmu lebih cepat berkembang karena semua orang bisa mengajar dan belajar. Gak seperti sekolah formal yang sifatnya top-down karena kurikulum sudah disusun dan guru yang punya hak menentukan materi, dengan konsep crowdsourcing dunia pendidikan jadi lebih dinamis; semua orang bisa memilih mau belajar apa dan semua orang juga bisa berkontribusi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Kalau crowdsourcing bisa jadi solusi masa depan dunia pendidikan, who knows, kalau di masa depan kita gak perlu sekolah lagi?

Baca juga: Pilih Kapal Pesiar, Sekoci, atau Speedboat?

Header image credit: www.utne.com