Uncategorized

Blusukan Buat Anak Muda, Bukan yang Udah Paruh Baya

“Mencintai tanah air ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.” (Soe Hok Gie)

Sebelum Jokowi sah jadi nomor urut satu-nya RI, santer banget pemberitaan soal ia blusukan di sana sini. Berada di antara warga, turun dan jadi bagian dari mereka. Kemudian nggak hanya Jokowi. Mulai ramai juga social media dengan berita bahwa ternyata, masih banyak pemimpin kita di daerah-daerah yang melakukan hal sama. Menyentuh rakyat dari dekat, turun tangan alih-alih pakai perpanjangan tangan. Menyingsingkan, bukan mengancingkan lengan. Istilah fancy-nya, blusukan.

Muncul pro kontra sih, terlepas dari soal mana yang polesan atau mana yang pencitraan. Selain yang bela mati-matian bahwa seperti itulah sosok pemimpin yang kita butuhkan, ada pula pendapat bahwa bukan tugas utama pemimpin untuk blusukan. Pemimpin sejati nggak perlu keenakan “field trip” dan diam-diam menikmati sanjungan warga dan decak kagum awak media. (Ya, nggak ada yang blusukan sambil nyamar juga kan). Ada yang bilang pemimpin akan lebih berguna kalau mengepalai langkah taktis dan strategis di garda depan, dan biarlah pekerjaan mulia bernama blusukan ini didelegasikan.

Baca juga: SF Park, Inovasi Smart Parking di San Fransisco

Blusukan? (taufik-romanov23.blogspot.com)

Saya sendiri tadinya milih nggak mikirin karena publik emang akan selalu punya perkara untuk didebatkan. Sampai suatu hari saya duduk di antara ratusan orang dan mendengar satu CEO muda ini berbicara di depan sana. Tentang kisahnya blusukan.

Ziliun udah pernah cerita sebelumnya soal Kapal Pesiar, Perahu Sekoci, dan Speedboat. Metafor ini dikemukakan sama Aldi Haryopratomo, CEO RUMA. Siang itu Aldi bercerita tentang perjalanan karirnya. Lulus S2 dari Harvard University, ia bekerja di satu organisasi non-profit internasional bernama Kiva. Kiva menjembatani antara para pemilik modal dengan mereka yang butuh dana pinjaman untuk memulai usaha.

Baca juga: Pilih Kapal Pesiar, Sekoci, atau Speedboat

Dan emang dasarnya mental orang level mancanegara itu beda sama Indonesia, di sana Kiva malah kelimpungan cari orang yang nyari dana. Nggak mungkin juga kan kebanyakan orang kaya, pasti ada sesuatunya. Dengan misi penyelidikan, Aldi yang notabene background-nya technical, mengajukan diri ke bosnya untuk turun lapangan. Ia mengendarai sepeda motor, keliling Asia Tenggara.

Menggali insight dari rakyat kecil, memahami mereka mulai dari akar masalah, kondisi, sampai apa yang sebenarnya mereka butuhkan untuk meningkatkan taraf hidup dan berkembang. Blusukan, dengan tujuan. Dari sanalah cikal bakal Aldi kembali ke tanah air dan mendirikan PT RUMA (Rekan Usaha Mikro Anda), social enterprise yang meningkatkan taraf hidup kaum marginal, memberdayakan mereka dengan teknologi. Nggak perlu bicara teknologi besar yang mengubah dunia. Gadget sesimpel perangkat Android yang mereka kuasai untuk sekedar jadi agen pulsa atau pembayaran elektronik, ternyata bisa bikin ngepul asap dapur begitu banyak keluarga di desa-desa. Technology for the people at the bottom of the pyramid.

Baca juga: Bahkan Penggiat Gerakan Sosial Juga Butuh Uluran Tangan

RUMA lahir dari perjalanan Aldi blusukan keliling Asia Tenggara. Dari situ saya dapet pemahaman sederhana. Bahwa blusukan sebenernya adalah kemewahan, hak prerogatif-nya anak muda. Blusukan adalah sebuah proses anak muda berkarya dan bikin sesuatu yang berguna. Iya, blusukan yang sesungguhnya itu malahan emang kerjanya anak muda, bukan bapak-bapak paruh baya. Blusukan dengan tujuan belajar dari bawah, menggali insight, memahami  masalah, baru melihatnya sebagai peluang dan bikin solusi dari sana.

KKN, bentuk blusukan-nya mahasiswa? (ugm.ac.id)

Anak muda nggak akan paham apa-apa kalau mainnya mentok di dinding sekolah, di kubikel, di layar handphone, di kaca mall. Blusukan bikin anak muda tau realita, bukan banyak ngomong  tanpa data. Kalau negara kita butuh lebih banyak anak muda jadi pengusaha yang berguna bagi masyarakat, anak muda harus blusukan, dan melihat Indonesia lebih dekat. Baru ketika suatu saat kamu udah berhasil bikin karya hebat, tugasnya udah jauh lebih besar dari sekedar menggali data dan insight dari blusukan.

Sesederhana kata Soe Hok Gie, “Mencintai tanah air ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.”

Baca juga: Pemimpin Itu Harus Kepo

Header image credit: gratisography.com