Opinion

Belajar dari Kedai Kopi Bernama Starbucks

Meski kopi segitu mengakar kuat di sejarah dan budaya masyarakat kita, kok ya nggak ada kedai kopi kita yang segitu legendaris dan eksis lokal dan internasional kayak Starbucks gitu? Ini saatnya belajar dari strategi mereka.

Terutama kaum urban, siapa juga yang nggak tau Starbucks? Dewanya kedai kopi yang bisa kita temuin di setiap sudut kota dan pusat belanja. Iya, tempat nongkrongnya anak muda dan pekerja.

Fokus jaga kualitas kopi dan ningkatin kepuasan pelanggan, itu kunci sukses yang Starbucks pegang. Awal buka sih, cuma punya 6 toko. Sekarang? 18,000 store di hampir 60 negara di seluruh dunia, dan berpuluh-puluh cabang di Indonesia.

Indonesia apa kabarnya? Kita kan negara eksportir kopi ketiga terbesar di dunia. Budaya minum kopi di Indonesia ini sangat tinggi. Kita akan dengan mudahnya ketemu tempat ngopi mulai dari level warung kopi sampai cafe, practically everywhere!

Baca juga: Learn from Google: Developing Product by Involving Their User

Begadang dikit, kopi. Nonton layar tancep, kopi. Ngeronda, pasti kopi. Ngerjain tugas biar terinspirasi, ya kopi. Ngumpul-ngumpul dan ngegosip, sambil ngopi. Makan nomer dua, yang penting ngopi dulu lah, Indonesia.

Star…blacks? 😀 (gambar: iand6661, kaskus.co.id)

Ini sebenernya beda konsep sih dengan Starbucks yang konsep sebenar-benarnya adalah sebagai take-away coffee. Menyesuaikan dengan pasar Indonesia, Starbucks tau banget gimana jadi tempat super cozy yang bikin orang betah lama-lama.

Dari dulu masanya tanam paksa pas penjajahan Belanda, kopi udah jadi salah satu komoditas utama. Kopi Indonesia nggak berhenti diekspor sampe Eropa, sejak sebelum merdeka. Tapi meski kopi udah segitu mengakar kuat di sejarah dan budaya masyarakat kita, kok ya nggak ada kedai kopi kita yang segitu legendaris dan eksis lokal dan internasional kayak Starbucks gitu? Ini saatnya belajar dari strategi mereka.

Baca juga: Berguru pada Pemilik Dagadu

Pertama sih, fokus pada kualitas kopi. Emang standard kualitas kopi Starbucks udah tinggi dari awal. Para founders-nya nggak mau bikin kedai kopi dengan harga murah tapi kualitasnya rendah. Pertama kali buka di Washington, Starbucks menyediakan kopi kelas premium dengan harga sedikit lebih mahal dibandingkan dengan kedai kopi lainnya. Starbucks selalu mencari kualitas kopi lokal terbaik, dan mengemasnya dengan menarik.

Kedua, setelah fokus bikin kopi berkualitas tinggi, baru Starbucks masuk ke tahap memperluas pasar. Tau nggak sih, Howard Schultz yang sekarang CEO Starbucks, dulunya karyawan Starbucks yang hengkang karena ide untuk bikin Starbucks sebagai kedai kopi yang cozy, ditolak para bosnya!Schultz yang dulu cuma head of management itu punya ide, minum kopi nggak sekedar soal produk, tapi tentang gimana bikin konsumen ngerasa nyaman. Di kedai, mereka bisa ngapa-ngapain: baca, belajar, meeting, atau hanya menikmati kopi selama berjam-jam walau hanya secangkir.

Baca juga: Perusahaan Multinasional: Curi Ilmunya, Bukan Namanya

Apa yang terjadi? Schultz keluar dan bikin kedai kopi sendiri dengan prinsip tersebut, dan berhasil! Baru setelah itu ia mengakuisisi Starbucks, mengadopsi kualitas kopi terbaik dengan suasana kedai yang nyaman dan mengedepankan kepuasan pelanggan.

Ketiga, kreasi. Starbucks tahu, jika hanya membuat kopi itu-itu aja, mungkin usahanya udah bangkrut dari dulu. Sekarang Starbucks punya banyak product mix, entah itu coffee, tea, juice sampai fresh food. Itu yang bikin Starbucks survive. Bagaimana jika kopi-kopi di Indonesia yang puluhan jenisnya ini dapat diolah dan disajikan seperti Starbucks?

Proses panjang Starbucks sampe jadi kayak sekarang emang bukan simsalabim. Sebagai salah satu dari “100 Best Places to Work” versi Fortune Magazine tahun 2013, Starbucks nggak hanya menjaga kualitas kopi, tapi juga sumber daya manusia! Barista Starbucks di seluruh dunia memiliki standard internasional. Nggak lucu kan, kalau kopinya premium tapi baristanya asal-asalan. Warkop dong?

Fokus pada kualitas dan kepuasan konsumen ini yang harusnya jadi contoh bagi kedai-kedai kopi baru di Indonesia. Bagaimana membuat kopi biasa menjadi luar biasa, bagaimana menyajikannya dengan istimewa, bagaimana bikin inovasi nggak henti-hentinya. Kalau sudah gitu, brand kopi-kopi kita pun bisa mendunia. Pastinya!

header image credit: cocapic