Opinion

Ada Hierarki Bukan Berarti Opini Dibawa Mati

“Wise men speak because they have something to say; Fools because they have to say something.” -Plato

Coba ingat ingat, berapa kali kita ngomongin guru, dosen, atau atasan di belakang gara-gara ada hal atau keputusan yang gak kita setujui? Sering kan ya pasti. Wajarlah namanya juga ada gap kepentingan.

Tapi, berapa banyak dari kita yang berani speak up dan menyampaikan ketidaksetujuan kita akan suatu hal? Ya mungkin ada yang berani speak up dan meng-embrace semangat demokrasi di kantor dan sekolah. Tapi, kebanyakan cuma memaki-maki dan menggerutu di belakang, tapi manut juga akhirnya.

Baca juga: Dengerin Orang atau Bodo Amat

Ada apa sih dengan kita? Apa karena kita menganut budaya Asia yang lebih menghargai hierarki? Atau karena mental dijajah ratusan tahun dulu masih nempel bahkan sampai ke generasi millennials?

Iya kita udah lebih berani berkoar-koar di jejaring sosial, dari curhat-curhat no mention sampai langsung mention politisi untuk komplain berbagai hal. Tapi pecundang gak namanya kalau justru di lingkungan dan kehidupan sehari-hari malah takut stand up ke dosen atau atasan sendiri?

Baca juga: Awas Terjebak Filosofi Ilmu Padi

Gara-gara pohon ini ya jadi takut ngomong? Image credit: the-score.com

You don’t get what you want if you don’t ask for it. Jangan sok2 bawa demokrasi kalau bahkan gak berani ngomong hal-hal yang penting hanya karena hierarki. Semua orang punya hak yang sama untuk berpendapat. Dosen atau atasan bukan dewa, mereka juga punya salah. Dengan berlimpahnya informasi di era kita, mestinya kita jadi generasi yang question everything.

Kalau udah berani speak up, dengan manner yang baik dan bertanggung jawab tentunya, gak masalah apa hasilnya. Kalau opini kita gak diterima, ya yang penting udah usaha. Lebih baik lega daripada opini sendiri dibawa mati.

Baca juga: Mau Bertanya, Sesat di Jalan

Header image credit: gratisography.com