Opinion

Hal-hal Menarik Seputar Komik Indonesia

Kemaren kita udah bahas 17 Superhero Asli Indonesia, yang kemunculannya bermula dari komik strip. Sekarang yang mau dibahas komiknya sendiri lah ya, hah! Oke, dimulai dari sejarahnya dulu. Mau ngedongeng bentar. Baca baik-baik ya!

Udah sepuluh dekade komik malang melintang di Indonesia. Berawal dari komik strip yang terbit di koran, terus komik dalam bentuk buku, sampai sekarang udah banyak komik digital yang bisa kita nikmatin via website pun mulai bermunculan. Tahun 1930, ada satu judul komik strip yang terbit di harian Sin Po yang jadi pionir komik strip dengan genre humor di Indonesia, judulnya “Put On” karya Kho Wan Gie.

 “Put On”, komik strip pertama Indonesia

Baca juga: Renungan Hari Pendidikan: Siapkah Kita Berubah?

Walau nggak kayak komik Jepang, Amerika, atau Eropa yang lebih dikenal dunia tapi komik Indonesia boleh dibilang sudah punya track record yang bagus. Masa jaya komik Indonesia itu sekitar tahun 1960 – 1970-an. Waktu itu sih komik diproduksi besar-besaran, genre yang ada pun macem-macem. Dari fiksi sejarah, roman, silat, sampai tokoh superhero bermunculan.

Nama Abdulsalam mungkin sering didengar. Tapi Abdulsalam yang ini pasti beda. Dia disebut sebagai pionir berkembangnya seni grafis di Indonesia. Abdulsalam yang juga komikus ini, aktif dalam Seniman Indonesia Muda (SIM), sebuah wadah seniman Indonesia yang dipimpin sama Sudjojono. Komik bikinan Abdulsalam yang judulnya “Kisah Pendudukan Jogja” merupakan komik pertama Indonesia yang dibukukan, terbit tahun 1952.

Baca juga: Working at Startup: Are You In for the Money of Not?

Tapi jauh sebelum itu sebenernya Indonesia sudah jauh mengenal komik. Bahkan disebut-sebut kalo Wayang Beber merupakan salah satu bentuk komik tradisional Indonesia gegara bentuknya lembaran. Juga relief candi-candi Indonesia yang juga menggambarkan cerita tertentu. Ya emang sih, bentuknya emang nggak kayak komik jaman sekarang. Beda jaman.

Oke, itu masa lalu yang tidak untuk dilupakan (halah).

Kayak yang kita udah tau, industri komik Indonesia lagi berusaha buat bangun dari tidur panjangnya. Belakangan ini mulai keliatan lagi aktivitas dari para penggiat komik, pun berbagai workshop hingga kompetisi digelar buat mendorong komikus beraksi. Problematika lalu muncul kayak kurangnya media yang menjadi sarana komikus mengenalkan karyanya kepada pembaca.

Bukan untuk terkenal, tapi memang jelas ini jadi salah satu hambatan buat komikus buat berkarya lebih besar lagi dan dihargai. Pikirnya kan kalo nggak ada yang tau komik Indonesia berjaya lagi, ngapain capek-capek bikin komik? Dari mana juga komikus itu tau kalo karyanya bagus atau jelek, kalo nggak ada orang yang baca terus kasih masukan?

Baca juga: Pentingnya After-Sales Services Buat Bisnis

Jaman makin digital. Internet cepat (walau nyatanya nggak cepat-cepat amat sih) dan smartphone menjamur dimana-mana bikin gemes orang buat manfaatin dua hal ini sebagai media buat bangkitin lagi komik Indonesia. Nggak lagi dicetak dalam bentuk buku. Komik Indonesia belakangan ini muncul dalam bentuk digital dan online. Bisa kita baca lewat komputer, atau juga smartphone. Nggak cuman versi web, tapi juga ada versi aplikasi yang di-install di smartphone kita. Keren! Sebutlah ada Ngomik, Makko, Komikoo, dan Dbkomik.

Baca juga: Bicara Ide dan Visi dengan CEO Kreavi

Industri komik Indonesia mulai kelihatan ada gairahnya lagi. Komikus makin banyak muncul, mereka juga punya wadah yang bisa dijadikan tempat showcase karya-karya mereka. Pun berbagai macam cerita dan genre komik bertambah. Nggak jarang malah ada kolaborasi bikin komik dari penulis dan ilustrator.

Dunia komik Indonesia memang sedang mencoba bangkit. Yuk mulai bangga sama komik bikinan anak bangsa!  Ke depannya, Ziliun akan bahas soal pop culture dan industri kreatif lainnya, jadi jangan sampe nggak apdet ya!


#popcon2014 adalah rangkaian artikel Ziliun mengenai industri kreatif Indonesia dalam rangka menyambut Popcon (Popular Culture Convention) Asia 2014. Festival komik, film, mainan, dan animasi terbesar di Asia ini akan diselenggarakan di Jakarta, 19-21 September 2014.

Header image credit: gratisography