Insight

Bikin Startup? Modal Uang Ngga Cukup!

Kemarinan saya abis nobar Silicon Valley Season 1 bareng temen-temen, sebuah serial TV produksi HBO yang bercerita tentang seorang programmer nerd yang membuat sebuah aplikasi. Saking bagusnya, apps tersebut kemudian diperebutkan oleh investor, dan dia ditawari uang untuk memulai membangun startup-nya. It’s a recommended series if you want to know about how is life in the Valley and how people do their startup.

Image: goldderby.com

 

Si programmer nerd ini, yang seumur-umur ngga ngerti gimana caranya bersosialisasi – berhubung dia cuma ngerti kode program – terpaksa membangun sebuah perusahaan dan mesti tahu soal business plan, cara jualan, gimana mimpin karyawan, sampe menentukan visi, misi, serta nilai perusahaan. 

Di artikel sebelumnya, saya pernah menulis tentang bekerja demi uang atau demi visi, misi, dan nilai. Ngga gampang emang, ngebangun perusahaan. Apalagi ketika kita harus mimpin banyak orang. Gimana caranya biar mereka bisa seneng dan produktif, apalagi sampai bisa mengeluarkan potensi mereka sepenuhnya.

Sehubungan dengan nilai perusahaan, saya beberapa kali ketemu dan ngobrol dengan Andreas Senjaya, atau akrab disapa Jay, CEO Badr Interactive. Badr adalah sebuah software developer company yang membangun berbagai aplikasi, salah satunya adalah Urban Qurban, aplikasi untuk berkurban secara online. Meskipun masih muda, Jay bersama rekan-rekannya punya pemikiran yang hebat dalam menjalankan dan membangun perusahaan yang dimulainya sejak 2012 ini.

Badr dimulai dengan sebuah visi untuk menjadi sebuah perusahaan yang bermanfaat bagi banyak orang. Coba, pas semua orang mau bikin bisnis biar cepet kaya, Badr malah mau biar semua orang bisa terbantu sama apa yang mereka buat.

Menurut Jay, awalnya karena semua founder-nya muslim, makanya mereka mau menerapkan nilai keislaman dalam berbagai hal yang mereka lakukan. Tapi nilai keislaman yang diambil di sini adalah yang sifatnya universal, seperti berbuat baik, adil, jujur, bekerja keras, dan bertanggung jawab. Kemudian, nilai-nilai tersebut diaplikasikan ke dalam teknologi, bagaimana membuat aplikasi yang sejalan dengan nilai yang mereka percayai tersebut.

Andreas Senjaya (kanan) setelah berbagi ilmu dan pengalamannya sebagai pembicara GAPURA, Go Online with Google.

“Visi kita adalah memberikan manfaat dari nilai-nilai yang kita percayai. Di sini kita bukannya fanatik Islam ya, tapi nilai yang kita percayai itu yang sifatnya universal dan berlaku buat semua orang, seperti jujur dan adil,” kata Jay.

Dengan punya visi misi yang sedemikian kuat, Badr kemudian menarik banyak orang yang percaya dengan visi mereka untuk bergabung dan berkarya bersama. Mereka memulai dengan menarik part-timer, mahasiswa yang masih kuliah untuk magang di Badr. Sambil jalan, ketika dirasa anak tersebut cocok dan sesuai dengan visi-misi Badr, pada saat lulus akan diajak untuk bergabung.

Menurut Jay lagi, “Orang-orang yang masuk sini awalnya karena mereka tertarik akan value perusahaan. Mereka mau bekerja untuk memberikan manfaat. Jadi dari awal sudah tersaring, orang-orang yang bukan cuma jago skill-nya, tapi juga punya mindset yang sejalan dengan kami.”

Menanamkan dan menumbuhkan value perusahaan

Ketika karyawan sudah bergabung ke dalam perusahaan, pasti harus ada upaya untuk terus-menerus menanamkan nilai supaya ngga ada yang salah ekspektasi, atau salah persepsi dengan cara dan jalan yang ditempuh.

Jay bilang kalau di Badr, mereka ada pertemuan mingguan yang mengundang semua orang di perusahaan, mulai dari manajemen, karyawan, bahkan sampai OB. Menurut Jay, hal ini untuk memperlancar komunikasi antar satu sama lain, saling ngumpul dan bertukar ide bagaimana membuat suasana kantor lebih baik, atau menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi bersama. Tujuannya, ya supaya rasa kekeluargaan dan kedekatan itu semakin erat.

Biarpun begitu, pasti ada dong anggota tim yang kemudian ngga cocok atau ngga sejalan?

“Ya pasti ada, tapi lama-lama ya mundur sendiri kalau memang ngga sejalan. Tapi anak-anak di Badr sendiri emang macem-macem, ada yang Islam-nya konservatif sampe modern, ada yang non-Islam, sampai yang ngga beragama juga ada. Tapi asalkan visi dan misi kita sama, ya ngga ada masalah,” kata Jay.

Luar biasa ngga sih?

Ada satu quote terakhir yang saya catat dari Jay, “Hidup dengan visi dan value yang kuat itu lebih menarik jika dibandingkan hidup dengan dikendalikan oleh hal-hal materi atau uang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang itu yang lebih penting. Saya mau buktikan bahwa hidup dengan orientasi seperti ini, ternyata bisa sukses.”

Nah, masih ngga percaya kalau bikin startup itu bukan cuma perlu modal uang?