Opinion

Our Own Superhero in Our Own Universe

 

There are men so godlike, so exceptional, that they naturally, by right of their extraordinary gifts, transcend all moral judgment or constitutional control: “There is no law which embraces men of that caliber: they are themselves law.” – Aristotle

Siapa sih yang gak suka sama superhero, yang kalau kata Aristotle adalah manusia-manusia yang so godlike dan so exceptional? Cowok-cowok waktu kecil pasti sempat pengen jadi superhero. Yang cewek-cewek, antara mau jadi superheroine, atau seenggaknya pengen jadi pacarnya Spider-Man atau Iron Man. Saking inspiring-nya, anak kecil banyak yang sampai mau coba terbang dari tempat tinggi :(.

Ini semua memang cuma cerita fiksi. Gak akan ada Batman di dunia kita, yang bakal keluar malam-malam pakai topeng dan baju berbahan lateks untuk menyelamatkan dunia. Tapi, kalau kita lihat lebih dalam lagi, ada ciri-ciri yang bisa kita adaptasi untuk bisa jadi superhero di dunia kita sendiri.

Pertama, superhero punya extraordinary gifts. Di dunia nyata, “gifts” ini bisa berarti apa aja. Bisa kekayaan, bisa skill, bisa pengetahuan, atau bahkan kecantikan. Supaya jadi superhero, lo harus punya suatu gift, dan gue yakin semua orang punya gift, cuma memang gak semua orang sadar akan gift-nya.

Baca juga: Pentingnya Menentukan Skala Prioritas

Kedua, superhero transcending all moral judgment, atau dengan kata lain, gak peduli sama opini orang umumnya. Ya, intinya, gak takut di-judge. Coba kalau Superman peduli pendapat orang kalau kehidupan ganda yang dia jalanin itu gak normal, mungkin dia udah menyerah saving the world dari dulu-dulu.

Ketiga, superhero juga gak peduli sama constitutional control, seperti hukum atau regulasi yang berlaku. Kok, negatif banget, ya? Ya di sini, kita bisa artikan constitutional control itu sebagai sistem, di mana superhero gak terkungkung dalam sistem yang ada, tapi berusaha sendiri bikin sesuatu yang mendukung pemanfaatan gifts-nya. Say, Batman terus menciptakan mobil-mobil dan senjata berteknologi tinggi (gak mungkin kan Batman pasrah dan nunggu mobil keren keluaran terbaru baru bisa ngejarin villain?).

Kalau ditilik dari tiga ciri-ciri superhero di atas, nyadar gak sih kalau kita juga punya superhero di dunia kita sendiri? Steve Jobs, misalnya, yang punya gifts berupa kreativitas, lalu dia gak takut di-judge dan lantas berhenti berinovasi saat dipecat dari perusahaannya sendiri. Dia juga sempat dropout dari kampusnya karena gak terkungkung dalam sistem yang ada.

Baca juga: Kenapa Harus Keluar dari Comfort Zone

Angie pasti bagaikan superhero bagi anak-anak di Afrika. Image credit: femalefirst.co.uk

Ada juga Angelina Jolie, yang punya gift berupa kecantikan. Gara-gara cantik, dia bisa jadi aktris papan atas, lalu punya uang banyak dan jadi philantrophist. Gift yang dia manfaatkan untuk kebaikan itu, termasuk dengan jadi goodwill ambassador-nya PBB, menginspirasi banyak orang. Jolie gak takut di-judge, kalau yang namanya aktris itu gak bisa panas-panasan di Afrika. Dia juga gak terkungkung dalam sistem bahwa pasangan kulit putih kalau punya anak ya harus kulit putih juga. Makanya, saat ini, dia punya anak dari berbagai ras mulai dari Asia sampai Afrika.

Banyak manusia di dunia kita, yang walaupun gak bisa terbang, tapi bisa disebut sebagai superhero. Kita semua juga bisa jadi superhero, asal memanfaatkan gift yang kita punya, gak takut di-judge, dan gak terkungkung dalam sistem. Berani?

Baca juga: What is Networking, Actually?

Header image credit: caninegoodcitizen.wordpress.com