Insight

What We Can Learn from The “Real” Iron Man

Mungkin ada yang tahu, mungkin ada yang gak. Intinya, karakter Iron Man yang diperankan oleh Robert Downey Jr. di film-film Marvel adalah manifestasi fiksi dari seorang real innovator bernama Elon Musk.

Kalau selama ini lo ngeliat Iron Man itu keren, ini lho, ternyata ada yang aslinya. Miliuner juga, cerdas juga, smug juga. Buat yang belum kenal, dia adalah Elon Musk, seorang revolusioner yang merombak dua industri sekaligus: industri mobil dengan mobil listriknya Tesla dan industri spacecraft dengan SpaceX. Here are the things we can learn from him:

Focus on Your Strength

Tesla dan SpaceX sendiri bukan inovasi pertama Elon Musk.

Dari kecil, Musk belajar sendiri computer programming dan pertama kali menjual video game bernama Blastar seharga 500 dolar di usia 12 tahun. Di usia 24 tahun, Elon Musk bikin Zip2, perusahaan web software, yang kemudian diakuisisi oleh Compaq, menghasilkan 22 juta dolar untuk Musk. Musk juga adalah yang memulai PayPal, yang kemudian diakuisisi eBay pada 2002, menghasilkan Musk uang sebanyak 165 juta dolar.

Pelajaran yang bisa diambil? Elon Musk tahu betul kekuatannya adalah pada menciptakan sesuatu yang baru. Jadi, dia terus-terusan menciptakan sesuatu, lalu kemudian membiarkan ciptaannya diakuisisi oleh perusahaan yang lebih besar, karena dia sadar ada orang lain yang lebih bisa me-manage perusahaannya, dan dia akan terus fokus pada menciptakan.

Baca juga: Di Mana Ada Usaha, Di Situ Ada Jalan

Image credit: en.wikipedia.org

Jump Right into Practice After You’ve Had Sufficient Theories

Elon Musk dulu mengambil dua jurusan sekaligus waktu kuliah. Ia punya dua gelar, Ekonomi dan Fisika. Musk juga sempat mau ngambil PhD Fisika Terapan di Stanford, tapi cuma tahan 2 hari, karena dia lebih memilih mulai berbisnis di bidang Internet, energi terbarukan, dan luar angkasa.

Pelajaran yang bisa diambil? Kalau udah merasa punya cukup pemahaman atau teori dasar untuk ngebikin sesuatu, langsung praktik aja. Elon Musk punya pilihan untuk terus kuliah PhD, tapi mungkin dia gak bisa kayak sekarang kalau terus kuliah. Itulah juga alasan kenapa inovator banyak yang college dropout, bukan karena teori atau sekolah gak berguna, tapi karena mereka merasa teori dasar / fundamental udah cukup untuk mulai bikin sesuatu yang nyata.

Baca juga: Practice Doesn’t Make Perfect

Don’t Just Improve. Disrupt.

Anyone can make improvement. Ada celah sana-sini ditambal. Ada kekurangan sana-sini diperbaiki. Cara berpikir Elon Musk melampaui itu semua. Daripada berpikir “kecil” dengan hanya bikin mobil hemat bensin, misalnya, dia langsung bikin Tesla, yang orang-orang sebut sebagai Apple-nya industri otomotif.

Kenapa Tesla disruptive? Karena selama ini perusahaan mobil cuma bisa memproduksi mobil dengan salah satu kelebihan: either sangat powerful atau sangat efisien. Elon Musk berhasil bikin mobil yang punya dua-duanya: power dan efisiensi. Dan itu semua berawal dari cara berpikir revolusioner yang disebut moonshot thinking: solve big problem with radical solution (that is why #RombakPolaPikir is very important at the first place).

Baca juga: Moonshot Thinking: Menyasar 10 Kali Lipat Kesuksesan, Bukan 10% Peningkatan

You want to be an innovator? Focus on your strength, jump right into practice, and–don’t just improve–disrupt!

Header image credit: blogcdn.com