Story

Work Hard, Learn Hard, Try Hard

You’ll never know until you’ve tried. And how do you try? Everything. Try everything and try hard.

Kayaknya itu prinsip yang dipegang Anantya Van Bronckhorst, Co-CEO Think.Web, sebuah digital agency yang resmi berdiri sejak 2007. Perempuan jebolan S2 Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia ini udah menjajal banyak hal sebelum dia mantap di hal yang ia kerjakan sekarang.

Dulu Anan pernah kerja di sebuah production house (PH). Di sana, dia ngga segan-segan nyoba dan belajar berbagai posisi, mulai dari content writer, script writer, executive producer, director, public relations, sampai masuk ke divisi digital bareng Rama, partnernya di Think.Web.

Di sini, Anan “terpaksa” belajar banyak hal karena harus ngurus begitu banyak kerjaan. Bosnya percaya banget sama Anan, dan kepercayaan itu yang membuat Anan nerima banyak tugas. Biasanya nih, orang pada umumnya kalo diminta ngerjain kerjaan yang bukan job desc-nya bakalan males karena ngerasa bukan tanggung jawabnya. Nah, emang mental orang-orang kayak gitu deh yang ngga bakalan bisa maju.

Tapi Anan yang pada dasarnya suka banget mencerna dan belajar dari orang-orang sekelilingnya, sama sekali ngga merasa keberatan. Ia malah menjadikan hal ini sebagai tantangan, and she managed to tackle ‘em all! Semua hal dia kerjain, dari yang sebelumnya nulis konten dan skrip, jadi bikin proposal, ketemu klien, sampe jualan ke klien.

Ketika pada akhirnya Anan terdampar di divisi digital dari PH tersebut pun, ia pun menjadikan ini sebagai tempat belajar yang baru. Menurutnya, dari banyak hal yang dia cicipin, dia paling tertarik di digital. Katanya sih banyak yang bisa diserap dari situ, soalnya dunia digital itu jalan terus, banyak banget perubahannya, makin lama makin diverse.

Anan bersama Rama kemudian makin yakin kalau digital ini potensinya luas banget. Mereka pun berusaha meyakinkan bosnya untuk fokus di sini. Tapi ketika itu karena visi-misi yang beda, divisi digital tersebut ngga berkembang.

Akhirnya, karena mereka percaya sama potensi industri digital, mereka berdua memberanikan diri untuk memulai Think.Web sebagai perusahaan yang mandiri.

Anantya Van Bronckhorst, menjadi pembicara pada Women Techmaker: Engineering the Future oleh GDG Jakarta dan FemaleDev

“Setelah itu gue sama Rama mulai mikirin business plan. Karena kita ngga ngerti, ya kita googling aja. Terus belajar otodidak sendiri sambil bagi tugas. Kita nyari di online gimana caranya bikin business plan yang bener. Pergi belanja ke Kino(kuniya), terus cari buku semacam “How To  Make A Business”, dan “How To Make A Proposal”. Abis itu kita bikin business proposal yang real. Mulai dari visi misi, SWOT, target market, sampe bikin financial planning tiga tahun ke depan.”

Setelah pe-er business plan dan proposal itu kelar dan disetujui sama investor, Anan ngga berhenti sampe di situ aja dong. Sambil ngegedein Think.Web, di awal-awal Anan nyambi kerja sambil kuliah malem. Bela-belain begadang tiap weekdays dan tidur cuma pas weekend demi membesarkan perusahaan yang dimulainya ini.

Sebagai cewek yang baru aja nyemplung di dunia teknologi, Anan nggak pernah ngerasa minder. Justru karena dia awam disitu, dia mikir kalau harus banyak belajar biar bisa ngelola Think Web dengan baik.

Di sini, Anan juga belajar caranya ngelola keuangan dan membenahi cashflow perusahaan, sampe belajar HR dan pajak. Ya namanya punya perusahaan, dari ujung ke ujung mesti ngerti dong kalau ada apa-apa. Berhubung terjun di digital, mau ngga mau Anan pun membekali dirinya dengan berbagai ilmu dari berbagai pekerjaan yang dilakukan partner dan karyawannya.

“Karena di sini, gue jadi tahu soal desain, paling enggak ngerti sense-nya. Gue jadi ngerti juga soal programming. Walaupun gue nggak bisa buat program secara real tapi gue tahu flow, how-to, atau thinking process-nya. Kalo gue ketemu programmer-nya gue bisa jelasin, ngobrolnya bisa nyambung. Dan kayaknya emang kemauan untuk selalu belajar itu yang menurut gue jadi kekuatan gue. Karena punya bisnis itu ngga gampang.”

Sebagai cewek, Anan pun punya role model perempuan pemimpin di industri teknologi, salah satunya Sheryl Sandberg. Anan bilang, ketika dia baca bukunya Sheryl yang berjudul Lean In itu sangat reflektif.

“Ada satu part yang menurut gue ngena banget. Pas Sheryl cerita ketika kelar ujian, adiknya yang cowok cuma ketawa dan bilang ujiannya gampang banget. Sementara Sheryl senewen sendiri karena ngerasa ada jawabannya yang salah. Itu kan sebenarnya cuma soal percaya diri. Padahal belum tentu kemampuan cowok dan cewek itu berbeda,” kata Anan.

Anan bilang kalau banyak cewek, termasuk dia sendiri merasa seperti itu. Bukannya ngga kompeten, tapi simply ngga pede.

Dia bilang, cobain aja dulu semua hal, belajar semua hal, dan jangan berhenti ngasah kemampuan dan kepercayaan diri. Because that’s what brought her to this date, to what she is now, and the attitude will bring here even further in the future.

header image credit: deathtostock