Opinion

The Legend Has Returned: Tribute to Didi Kempot

Menurut saya, hari ini—Selasa, 5 Mei 2020, pantas untuk dijadikan sebagai Hari Ambyar Nasional, mungkin bukan cuma saya yang setuju, tapi juga teman-teman di luar sana yang menjadi penikmat lagu-lagunya Didi Kempot. Jujur, saya masih percaya gak percaya waktu baca berita nya muncul di Twitter. Baru juga hilang sedih saya musisi Glenn Fredly berpulang bulan lalu, dan hari ini, “The King of Broken Heart” bikin sedih saya balik lagi. 

Sah-sah saja kalo tulisan ini terkesan sangat subjektif, karena ditulis dari sudut pandang seorang penggemar, tapi begitulah adanya. Sejak menit pertama saya tahu beritanya, sejak itu juga saya menghubungi supervisor saya buat izin nulis artikel tentang Didi Kempot, yang pastinya gak ada sama sekali di editorial plan. Untungnya dia setuju, tapi kalo pun gak setuju, saya tetep kekeuh tulisan ini harus naik. Hehe. Ampun. 

Didi Kempot bukan cuma sekadar musisi dari panggung ke panggung, beliau adalah legenda. Gak berlebihan rasanya gelar tersebut diberikan. Mana ada penyanyi yang lirik lagunya bahkan gak semua pendengarnya tau artinya apa, kalo pun tau, paling satu dua baris, dan itu di bagian reff. Untuk masalah ini, orang Jawa yang ngerti Bahasa Jawa pastinya, bisa dibilang dapet privilege, karena bisa benar-benar memahami dengan maksimal lagu beliau, bukan cuma hapal di bagian “cendol dawet, cendol cendol dawet….” Seperti saya contohnya. 

Tapi, itu bukan masalah besar, nyatanya tiap Didi Kempot naik panggung, bejubel orang untuk datang, bukan sekadar datang, tapi ikut masuk ke dalam nyanyian yang dibawakan, terlepas tau apa gak arti dari lirik lagunya. Gak sedikit juga yang menangis sesunggukan, mau wanita maupun pria. Nah ini yang bikin keren juga, di konser Didi Kempot, aturan tidak tertulis yang menyebutkan bahwa para pria dilarang untuk nangis, justru sama sekali gak berlaku, Mereka dipersilakan untuk nangis, mau gimana pun bentukannya, mau sesenggukan malu-malu, atau tumpah ruah juga gak masalah. Gak ada yang bakal komentar nyinyir, “ih kok pria denger lagu aja nangis”. 

Lagu-lagu beliau yang banyak dibawakan ulang, mulai dari pengamen di angkringan sampai ke penyanyi terkenal, baik off air maupun on air, menjadi bukti kalo karya beliau memberikan  sumber kehidupan bagi banyak orang. Bijaknya, beliau sama sekali gak mempermasalahkan royalti, seperti yang sering terjadi di kalangan musisi, mempermasalahkan royalti hingga ke jalur hukum. Beliu hanya ingin para penyanyi yang membawakan lagunya meminta izin terlebih dahulu, hanya sesederhana itu. Padahal kalo beliau cukup “rajin” untuk bawa masalah ini ke jalur hukum, bayangin ada berapa banyak penyanyi yang terjerat dan berapa banyak juga royalti yang bakal dia dapetin. tapi beliau gak memilih jalan itu, tampil menghibur dengan segala orisinalitas yang beliau punya jadi jalan ninja untuk seorang Didi Kempot mengambil hati masyarakat.

Berkat beliau juga, lagu-lagu campursari bisa jadi trending dan istilahnya. naik kelas di dunia hiburan level nasional. Coba mana ada lagi sih penyanyi campursari yang bisa nembus acara televisi, bahkan dibuatkan khusus konser tunggalnya? Bahkan anak-anak Jaksel which is literally yang EDM adalah harga mati kalo soal genre musik, juga ikutan joget ambyar. Didi Kempot dan lagu-lagunya mengajarkan kita semua kalo musik sejatinya adalah bahasa universal, yang bisa mewakili perasaan siapapun tanpa harus mempermasalahkan embel-embel di belakangnya. 

Beliau juga terus konsisten membuat musik Campursari mendunia (dia sering manggung di luar negeri juga seperti di Suriname), dan juara di rumah sendiri.

Satu lagi, penggemar Didi Kempot itu terkenal loyal dan militan. Tapi, yo ndak norak dengan ngata-ngatain orang lain, “LAH JADI KALIAN GAK SUKA SAMA LAGUNYA DIDI KEMPOT, MASALAH KALIAN APA SIH”. Biarlah ada yang gak tau, bahkan gak suka sama lagu beliau, bukan masalah besar. Didi Kempot yang punya lagu aja selow kayak di Moscow, asik kayak di Tasik. Ngapain penggemarnya mesti repot? 

Hari ini Didi Kempot berpulang, menyisakan banyak kesedihan mendalam bagi banyak orang. Tapi, legenda tetaplah legenda. Raganya bisa hilang dari bumi ini, tapi karyanya akan abadi, tak lekang oleh waktu. 

Selamat jalan, Didi Kempot, doa kami selalu menyertaimu. Jangan pula kau gaduhkan alam sana dengan lagu ambyarmu, bisa heboh nanti. *peace*


Ditulis oleh: Ade Irma Sakina

Disunting oleh: Azwar Azhar