Featured

Tangkal Efek Buruk Berita Hoax dengan Sains

Berkembangnya teknologi dan juga internet memudahkan semua orang untuk mengakses berbagai informasi di mana pun dan kapan pun. Namun dengan kemudahan yang ada, masyarakat harus semakin selektif dan juga skeptis dalam menanggapi suatu informasi. Untuk hal ini, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), Kominfo, pernah menyampaikan bahwa penyebaran berita yang salah (atau hoax) di Indonesia masih sangat tinggi. Angkanya mencapai 800 ribu konten per tahun. Berita hoax sendiri paling banyak beredar di masyarakat melalui media sosial dan juga aplikasi chatting. Tak jarang juga banyak masyarakat Indonesia, tua maupun muda, yang termakan oleh berita hoax yang beredar.

Seperti yang disampaikan oleh Gerald Sebastian, Co-Founder dan Business Development Officer Kok Bisa?, kurangnya konten yang bersifat mendidik dan mengajak generasi muda Indonesia untuk tahu lebih, membuat banyak orang akhirnya terpengaruh oleh dampak negatif internet, seperti berita hoax tadi, dan nggak sedikit juga yang jadi kecanduan media sosial.

Lebih lanjut lagi, Ketut Yoga Yudistira, Co-Founder dan CEO Kok Bisa?, menambahkan bahwa walaupun sudah ada beberapa konten yang bersifat mendidik, namun konten tersebut tidak menarik. Itulah yang membuat para pendiri Kok Bisa? ini terinspirasi membuat sebuah saluran berisi berbagai konten yang dapat memotivasi generasi muda Indonesia untuk lebih kritis dan berani bertanya, serta mengeksplorasi lebih mengenai sains. Siapa tahu, hal ini juga membuat banyak generasi muda Indonesia yang nantinya ingin menjadi seorang ilmuwan.

Kenapa ya, mereka memilih sains? Bukannya sains itu dianggap membosankan? Eits, jangan salah, sains atau ilmu pengetahuan tidak terbatas pada rumus-rumus saja. Sains dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu: ilmu murni dan ilmu terapan. Dengan beberapa cabangnya, yaitu: ilmu bumi, ilmu hayat, ilmu pasti dan alam, serta ilmu sosial. Karena sudah keburu termakan stigma bahwa sains itu berat dan membingungkan, akhirnya kita lupa kalau sains sebenarnya dapat membantu kita untuk mengerti segala sesuatu yang ada di sekitar kita.

Untuk membuktikan kepada generasi muda Indonesia bahwa sains itu tidak selalu membosankan, Kok Bisa? berusaha menghadirkan berbagai konten dan video yang bersifat ilmiah, mudah dicerna, dan pastinya tidak membosankan. Saat ini Kok Bisa? telah menjadi platform edukasi paling populer di Indonesia dengan lebih dari 850.000 subscribers di Youtube dan memiliki ratusan konten menarik.

Kok Bisa? juga aktif mengadakan berbagai kegiatan. Salah satu kegiatan kopi darat yang diadakan Kok Bisa? adalah workshop penulisan populer science writing yang akan memberimu tips bagaimana caranya membuat artikel sains dan skrip video populer dengan cara yang menarik dan mudah dimengerti. Agar konten kamu semakin menarik, Kok Bisa? juga menggelar workshop yang mengajarkan kamu bagaimana caranya membuat visualisasi yang tepat dari skrip video yang telah kamu buat. Seru kan? Saat ini workshop penulisan populer science writing ini telah diadakan di 2 kota, dan diikuti lebih dari 70 peserta.

Tak hanya mengadakan workshop penulisan kreatif, Kok Bisa? juga aktif mengadakan diskusi yang bernama Antero: Science Discussion. Pada acara ini, para pesertanya dapat berdiskusi dan networking dengan sesama penyuka sains. Diskusi ini sendiri telah dilakukan di tiga kota dan diikuti lebih dari 500 orang.

Nah, bagi kamu yang ingin belajar bagaimana caranya membuat konten bertema sains yang menarik, maupun ingin berkumpul dan berdiskusi dengan anak muda yang gemar akan sains juga, tidak ada salahnya nih untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh Kok Bisa?. Jangan sampai ketinggalan informasinya melalui Instagram @kokbisa.