Insight

Ingin Membuat Startup yang Memiliki Potensi di Masa Depan? Yuk Cari Ide yang Relevan dengan Revolusi Industri ke-4!

Dalam konteks perkembangan teknologi, selain dari berkarya berdasarkan kapabilitas sekarang, kita juga harus bisa melihat peluang apa saja yang muncul pada industri di seluruh dunia. Salah satu topik perbincangan yang sedang hot adalah terkait 4th Industrial Revolution (4IR) atau yang bisa diartikan sebagai revolusi industri ke-4.

Istilah revolusi industri ke-4 ini pertama kali dicetuskan oleh Klaus Schwab, beliau adalah ketua yang sedang menjabat dari World Economic Forum. Klaus sering kali mengasosiasikan fenomena revolusi industri ke-4 ini sebagai era mesin kedua dimana mesin sudah mulai menjadi “pintar”. Hal ini ditandakan dengan pencapaian-pencapaian teknologi terbaru dari berbagai bidang dan mulai masuknya teknologi tinggi ke ranah masyarakat umum, bukan hanya dalam bentuk riset saja.

Apa saja sih contoh teknologi yang mendukung revolusi industri ke-4 ini?

  1. Artificial Intelligence
  2. Blockchain
  3. Internet of Things
  4. Nanotechnology
  5. Quantum Computing
  6. 3D Printing
  7. Autonomous Vehicle

Beberapa di antaranya mungkin pernah kita dengar di TV atau baca di internet. Lalu apa sih yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat Indonesia yang haus akan solusi?

Tentunya kita bisa memanfaatkan berkembangnya akses terhadap teknologi super-canggih tersebut sebagai salah satu nilai jual utama jika kita ingin membuat sebuah startup. Di Indonesia pun sudah mulai bermunculan startup-startup baru yang merambah kepada teknologi tersebut.

Pada artikel ini, saya akan membahas 3 teknologi yang sudah mulai diadopsi oleh startup di Indonesia beserta contoh penerapannya. Nanti tinggal kamu yang membuat solusi dari permasalahan yang ada ya!

Artificial Intelligence (AI)

Siapa sih yang baru mendengar istilah AI ini? Saya yakin kalo kamu mengaku sebagai seorang tech-savvy, pasti pernah mendengar istilah ini sekali atau dua kali dari artikel atau video Youtube.

Sebenarnya apa sih AI atau yang diartikan sebagai “kecerdasan buatan” ini?

Dalam satu kalimat, AI bisa didefinisikan sebagai tiruan cara kerja otak (kognitif) manusia dengan menggunakan teknologi, mulai dari menerima informasi, mengolah informasi, hingga membuat keputusan. Penerapan teknologi AI biasanya digunakan untuk membuat keputusan-keputusan cerdas seperti membuat rekomendasi lagu/video sesuai kebiasaan pengguna, hingga mendeteksi gambar secara akurat.

Di Indonesia sudah ada beberapa startup yang menggunakan AI, salah satunya adalah Cekmata. Startup ini melakukan deteksi gejala katarak melalui foto yang menggunakan AI untuk meningkatkan akurasi hasil diagnosanya. Cekmata ini pernah mengikuti kompetisi The NextDev dan mendapatkan gelar juara.

Internet of Things (IoT)

Dibandingkan dengan AI, istilah Internet of Things (IoT) sudah beredar lebih lama di dalam industri startup di Indonesia. Beberapa diantaranya bahkan sudah berkembang ke ranah internasional.

Buat yang belum pernah dengar, IoT sederhananya bisa dideskripsikan sebagai gabungan antara barang sehari-hari dengan jaringan internet sehingga bisa menciptakan sebuah sistem yang terintegrasi. Istilahnya, IoT menyulap barang sehari-hari menjadi barang yang “cerdas”. Contohnya adalah tren teknologi rumah pintar (smart home) dimana kita bisa mengontrol segala sesuatu di rumah kita melalui internet, seperti menyalakan lampu, mengatur suhu udara, membuka pintu, dll.

Di Indonesia ada startup yang memanfaatkan kearifan lokal untuk diintegrasikan dengan teknologi. Salah satunya adalah eFishery. Startup yang dipimpin oleh Gibran Huzaifah ini  menggabungkan alat untuk memberi makan ikan di empang dengan internet. Sehingga, alat tersebut bisa mendeteksi kapan ikan lapar dan memberikan jumlah pakan yang sesuai agar para peternak ikan tidak boros dalam memberi makanan ikan.

Blockchain

Ketika berbicara tentang blockchain, tentunya yang ada dipikiran kita tidak bisa terlepas dari Bitcoin. Memang, Bitcoin merupakan salah satu contoh sukses penerapan blockchain terutama di sektor cryptocurrency. Namun, teknologi blockchain tidak hanya terbatas di sektor finansial saja lho. Penerapan blockchain juga bisa dapat dilakukan di ranah edukasi, organisasi, kesehatan, bahkan pemerintahan.

Memang sebenarnya blockchain itu apa sih?

Dalam satu kalimat, blockchain dapat didefinisikan sebagai proses penyimpanan data yang tidak terpusat (desentralisasi) dan membutuhkan proses verifikasi lebih lanjut untuk memastikan apakah data yang tersimpan di setiap perangkat sesuai.

Di Indonesia sendiri, penerapan blockchain yang paling kuat masih berada pada sektor finansial, terutama yang menggunakan cryptocurrency. Beberapa startup yang menonjol diantaranya adalah PundiX. Startup ini memanfaatkan teknologi blockchain dan cryptocurrency dalam transaksi keuangan. Bentuk pemanfaatannya adalah dengan menghadirkan produk mesin kasir (point of sales) bernama Pundi X POS, semacam kartu uang elektronik bernama Pundi X Pass, serta aplikasi dompet digital Pundi Pundi.

Kesimpulan

Dari beberapa contoh di atas, perkembangan revolusi industri ke-4 memang sudah mulai terasa di Indonesia. Namun, jika kita lihat secara makro memang belum seberapa kuat. Banyak ide yang bisa kamu cari dengan melihat relevansi kelebihan teknologi ini untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di Indonesia.

Sekarang pertanyaannya tinggal: Apa sih peran kamu untuk mendukung perkembangan teknologi tersebut?