Insight

Semua Orang Itu Entrepreneur, Sampai Revolusi Industri Menyerang

Dunia yang ideal ya dunia yang kayak desa-desa zaman dulu, di mana trust is the currency dan orang-orangnya adalah micro-entrepreneurs who shared their assets to make a living.

Lo pernah atau sering nonton film-film yang ber-setting di zaman sebelum revolusi industri? Pernah gak lo sadar kalau orang-orang di zaman itu hampir semuanya adalah entrepreneur?

Di film-film klasik tersebut, sering kita temui profesi seperti tukang roti, tukang daging, blacksmith, peternak, name it. Semua orang punya expertise masing-masing. Gak ada tuh yang namanya perusahaan raksasa atau multinasional. Biasanya yang kaya kalau gak bangsawan ya tuan tanah.

Saya jadi sadar tentang fakta bahwa zaman dulu hampir semua orang adalah entrepreneur, saat Brian Chesky, CEO AirBnb ngomong begini di Atlantic Aspen Ideas Festival:

“Cities used to be generally villages, and everyone was essentially kind of like an entrepreneur. You were either a farmer, or you worked in the city as a blacksmith, or you had some kind of trade. And then the Industrial Revolution happened.”

Baca juga: Udah Waktunya Lo Ngerti Tentang Sharing Economy

Ya, seperti yang Brian Chesky bilang, revolusi industri bikin semuanya jadi berubah. Awalnya, manusia itu sifat alamiahnya adalah seorang entrepreneur, karena kita punya akal yang bisa dipake untuk terus berusaha (namanya juga pengusaha). Eh, revolusi industri malah mendorong terciptanya pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan raksasa yang membutuhkan pekerja (either blue collar and white collar), sehingga bikin kita lupa kalau kita semua hakikatnya adalah entrepreneur.

Dulu orang-orang gak serakah, berbisnis sesuai apa yang dia bisa, sesuai keahliannya masing-masing untuk mendukung kehidupan satu sama lain. Sekarang? Ya kesenjangan makin menjadi-jadi, karena bisnis-bisnis pada serakah mau jadi besar, dan the rest bisanya cuma jadi karyawan doang.

Nah, tapi mungkin banget nih, dunia yang kita tahu sekarang kembali kayak dulu lagi, yaitu dunia di mana semua orang adalah micro-entrepreneur dan gak ada dominasi raksasa tertentu. Gimana bisa? Ya dengan teknologi.

Trennya udah mulai ke situ sekarang. Orang-orang bisa dapet penghasilan tambahan dengan sewain rumahnya di AirBnB, atau jadi driver dengan Uber (atau kalau di Indonesia, GO-Jek), nawarin jasa atau skill-nya di situs-situs freelancing, banyak deh! Semua orang mulai bisa kembali ke hakikatnya sebagai entrepreneur, thanks to technology.

Baca juga: Fenomena: Buat Apa Punya Barang Kalau Bisa Serba Minjem?

Brian Chesky sendiri percaya banget kalau hal ini bakal kejadian. Menurutnya, dunia yang ideal ya dunia yang kayak desa-desa zaman dulu, di mana trust is the currency dan orang-orangnya adalah micro-entrepreneurs who shared their assets to make a living.

Kalau teknologi bikin semua orang bisa jadi entrepreneur, mungkin aja kita gak lagi butuh perusahaan-perusahaan raksasa. Kalau sekarang produk pasta gigi di seluruh dunia hanya diproduksi dan dijual oleh paling banyak lima perusahaan raksasa aja, teknologi bisa bikin home industry lebih gampang memasarkan produk, dan mungkin aja tiap negara punya ratusan sampai ribuan produsen dan pengusaha pasta gigi sendiri!

Well, gak kebayang sih, ya. Mungkin impiannya Brian Chesky ini terlalu berangan-angan. But, again, don’t you want to fulfill your true nature as human?

Baca juga: Vacation Rental: Era Berakhirnya Hotel Berbintang

Header image credit: Pinterest / Etienne Bugeja