Opinion

Sekali-kali Kita Keluar dari Zona Mimpi

Ketika lo punya impian bikin startup atau apapun yang bisa bikin lingkungan lo lebih baik, biasanya apa sih yang lo rencanakan? Kuliah sesuai dengan passion lo? Ambil pelatihan-pelatihan tertentu? Cari pengalaman sebanyak-banyaknya sebelum terjun langsung? Kalau jawabannya iya, jangan-jangan yang selama ini kita kejar cuma hard skill.

Gue punya impian yang besar, tapi gue pun sadar yang punya impian besar bukan cuma gue. Tapi kesadaran soal itu lah yang sering terlupakan. Ketika kita merasa impian kita adalah hal terpenting dalam hidup kita, kadang kita melihat itu semua terlalu dekat, sampai lupa di sekeliling kita ada berbagai ilmu yang bisa ngajarin banyak hal yang baru dan bermanfaat, walaupun belum sesuai dengan impian kita.

Sering denger ungkapan ‘salah jurusan’? Waktu gue masil kuliah, gue sering banget denger ungkapan itu, terlebih dari temen-temen gue yang masih kuliah, dan galau mau pindah jurusan atau bertahan. Dulu gue gemes banget sama orang yang dicap ‘salah jurusan’ itu. Tapi setelah gue masuk kerja, gue justru dikelilingi oleh banyak teman yang kerjaannya beda sama ilmu yang mereka geluti waktu di kampus. 

Mindset gue sekarang justru berubah banget setelah dikelilingi temen-temen ‘salah jurusan’ ini. Gue sama sekali enggak gemes apalagi ada niat buat “nyalahin”’ mereka. Sejujurnya, sekarang gue malah bangga sama teman-teman gue yang salah jurusan dan sedikit “menyesal” karena gue terlalu fokus sama impian yang gue udah tetapkan dari awal.

Gue sejak SMP udah menentukan kalau impian gue adalah menjadi seorang jurnalis dan peneliti. Seperti yang gue bilang di awal tulisan ini, gue merencanakan kuliah yang sesuai dengan impian gue. Gue selalu ikut kegiatan yang berbau kepenulisan dan riset. Sampai magang pun, gue selalu mengincar media nasional. Gue fokus, dan gue merasa benar akan hal itu. Suatu ketika, gue menyadari bahwa menjadi jurnalis maupun peneliti saat ini udah beda keadaannya dari jurnalis atau peneliti jaman dulu (zaman gue menentukan impian gue).

Singkat cerita, gue akhirnya bekerja di sebuah startup media dan teman-teman gue beragam banget! Bahkan ada penulis yang waktu kuliah jurusannya Desain Komunikasi Visual (DKV). Ketika gue tanya ke si penulis ini, dia bilang baru tahu kalau passion dia menulis ketika dia sudah mencoba menjadi penulis. Hmm dipikir-pikir, iya juga ya, gimana kita bisa tahu apa yang paling bisa bikin kita bahagia kalau kita  aja belum mencobanya. 

Serunya lagi, temen-temen gue ini karena punya latar belakang pendidikan yang berbeda dari pekerjaannya, mereka jadi bisa ngasih perspektif yang berbeda. Dia bisa kasih insight soal kepenulisan, dengan mindset yang selama ini dia pelajari di DKV. Misalnya soal penyajian informasi dengan bentuk-bentuk baru seperti infografis, video kreatif, bahkan gifo. 

Hal itu membuat gue jadi berpikir, seandainya gue enggak cuma fokus pada impian gue, apakah gue bisa menemukan hal baru yang gue suka, dan tentunya bermanfaat di konteks masyarakat sekarang?

Terus gue jadi kepikiran lagi, kalau gitu, apa sih yang harus kita kejar untuk mengetahui, menentukan, dan mencapai impian kita? 

Priscilla, CEO Office Manager at Tokopedia pernah bilang, “The digital era will change our career path in the future. Be value-driven, not job-driven. Don’t just focus on pursuing a profession that may not exist in the future. Digitization will eliminate many professions, but will also create new professions.”  

Yes, jadilah orang yang fokus pada value, bukan profesi. Karena di era digital ini, mungkin aja profesi yang kita impikan sekarang bakal hilang di masa depan. Sedangan ketika kita fokus pada value, kita bisa mencari bentuk baru untuk mewujudkan misi kita. 

Bagi gue, proses menjadi manusia yang value-driven ini sangat personal. Ditambah rasa insecure tiap liat orang-orang keren yang udah “sukses” di usia muda. Akhirnya malah jadi overthinking dan bingung harus mulai dari mana.  Sedihnya, gue jadi enggak maju-maju. Tapi ketika gue ngobrol sama seorang founder startup soal apa sih hal yang paling penting untuk maju, jawabannya adalah: attitude. 

Halah, basi kan?

Ya, gue juga dulu ngerasa itu nasihat yang basi. 

Tapi ketika gue lebih banyak baca lagi cerita-cerita dari para startup founder, hampir semuanya bicara soal si attitude  ini. Misalnya menurut Mas Iskandar Soesman dari Awanio, dia bilang kalau attitide bahkan lebih penting melebihi skill.  Dengan adanya attitude , komunikasi menjadi lebih lancar dan secara tidak langsung menciptakan mekanisme transfer skill antar sesama anggota tim di startupnya. Hal ini menjadikan seseorang yang skill-nya masih rata-rata bisa terbantu oleh mereka yang memiliki skill lebih tinggi. 

Lalu gue menemukan konsep can-do attitude. Sederhananya, can do attitude ini merupakan mindset orang-orang yang mau mempelajari hal baru.  Sejak gue masuk dunia kerja pun, gue jadi sering ketemu sama orang-orang ber-mindset can do attitude. Menurut gue, orang-orang dengan mental can do attitude ini biasanya lebih resourceful. Karena mereka bukan orang yang ‘belum apa-apa udah bilang enggak bisa’ dan takut memulai. Growth mindset menjadi kunci mereka untuk maju. 

Baca juga: Modal Kerja: Bukan Ijazah, Bukan Pengalaman, tapi Attitude

Sekarang gue bersyukur banget dikelilingi oleh orang-orang dengan pola pikir growth mindset dan punya sikap can do attitude. Semua hal itu bikin gue bercermin, jangan-jangan impian yang udah gue tentukan dan (berusaha) gue capai malah membuat gue sok tahu dan menghindari hal-hal baru yang gue sangka enggak bermanfaat buat mewujudkan impian gue. 

Akhirnya gue mikir, sekali-kali boleh lah keluar dari zona mimpi. Lihat sekitar, belajar hal baru, dan menyelami prosesnya. Selamat memulai!