Featured

Sego Njamoer, Ada Do’a dari Petani Jamur

Artikel ini merupakan kerjasama antara ziliun.com dan majalah Luminaire Vol 3 persembahan Keluarga Mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB.

logolum

Ada do’a setiap petani jamur di setiap gigitannya. Yap! Begitulah tagline Sego Njamoer yang terinspirasi dari kehidupan hemat, praktis, dan simpel ala mahasiswa. Sego Njamoer sendiri adalah makanan dengan bahan utama nasi dan jamur yang dibentuk seperti onigiri. Sego Njamoer ini dirintis oleh  sekelompok mahasiswa ITS, Rizky dan timnya, untuk mengikuti PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) pada tahun 2009. Walaupun dalam lomba tersebut mereka belum berhasil, tetapi Rizky dan teman-temannya tidak menyerah untuk terus mengembangkan rencana bisnis tersebut menjadi bisnis yang serius. Saat ini, Sego Njamoer sudah memiliki banyak gerai yang berkembang melalui franchise yang tersebar di Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Sebelum mereka mengikuti PKM, Rizky dan teman-temannya sudah pernah bekerja sama dengan sebuah pondok pesantren untuk mengajarkan para santri berwirausaha. Di sekitar pondok pesantren tersebut, banyak petani jamur yang kesulitan memasarkan hasil panennya. Dari situlah, tercetus ide membuat makanan dengan bahan utama jamur yang diolah menyesuaikan dengan target market mereka, yaitu mahasiswa.

Nama Sego Njamoer sendiri memiliki arti unik loh! Nama tersebut diambil dari bahasa Jawa yang berarti nasi basi. Tidak ada filosofi khusus di balik nama ini, mereka hanya ingin menggambarkan Sego Njamoer sebagai suatu ajakan kepada orang-orang untuk cepat membeli dan cepat pula memakannya. Tetapi untuk sekarang, nama Njamoer  lebih dipakai untuk menggambarkan bahan dasarnya yaitu jamur.

Baca juga: HeySTARTIC, Menyulap Sampah Jadi Anugerah

Ada cerita menarik mengenai asal mula bentuk Sego Njamoer. Salah satu founder Sego Njamoer, Kak Ega, saat masih kanak-kanak sempat mengalami susah makan. Untuk mengatasi masalah ini, orang tua Kak Ega membentuk nasi seperti kepalan kecil agar terlihat menarik dan meningkatkan selera makan Kak Ega. Inilah yang menjadi inspirasi bagi mereka untuk membuat Sego Njamoer dalam porsi kecil, agar orang-orang membeli lagi karena belum puas jika hanya makan satu saja.

Untuk menyuplai jamur, outlet Sego Njamoer di Surabaya telah menghimpun petani di area Surabaya. Namun, untuk kota-kota lain, suplainya dipilih dari tempat yang paling dekat dengan kota tersebut. Hal ini dilakukan untuk memastikan jamur tersebut dalam keadaan segar. Sementara, bumbu-bumbu dan saus dibuat di pabrik Sego Njamoer yang berada di Surabaya supaya kualitas dan rasa tetap konsisten.

Inovasi Sego Njamoer terus dikembangkan. Rencananya, di Bandung akan ada fasilitas delivery seperti outlet yang berada di Surabaya. Akan ada mini café yang bernuansa santai dan juga menjual cemilan-cemilan best seller Sego Njamoer untuk gerai di Surabaya. Cemilan tersebut adalah pentol jamur yang berupa bakso kecil tanpa kuah, ditusuk dengan tusukan sate dan siomay jamur.

Baca juga: GoArchipelago.com, Inisiatif Henry Vienayoko untuk Memberdayakan Pariwisata Lokal

Walaupun terbilang sukses, bukan berarti bisnis Sego Njamoer tidak menghadapi kendala. Masalah yang sering mereka hadapi biasanya adalah SDM, seperti penjaga booth yang izin, sakit, atau resign dengan tiba-tiba. Kekurangan tenaga kerja di booth sangat menghambat dalam mencapai target omzet harian. Terkadang, ada pula franchise Sego Njamoer yang tidak laku dan akhirnya tutup. Hal ini dikarenakan kebanyakan orang mengira bisnis franchise adalah investasi. Mereka lebih memilih untuk membeli franchise makanan gerobak, karena terbilang lebih terjangkau dibandingkan franchise lain seperti franchise restoran. Padahal, kenyataannya menjalankan franchise berarti 50% investasi dan 50% turun tangan. Pemilik franchise harus sering-sering memantau SDM, mengambil omzet, dan sebagainya. Oleh karena itu, kebanyakan akhirnya memilih untuk menutup franchise saat kondisi kurang baik.

“Memulai bisnis baru untuk mahasiswa tidaklah sulit asal dapat memanfaatkan kesempatan dengan baik,” ujar Rizky. Modal utama bisnis bukanlah uang, karena uang bisa dicari dengan cukup mudah seperti memanfaatkan berbagai perlombaan misalnya. Yang terpenting ketika memulai bisnis adalah ide, keberanian membuat proposal, membuat produk, mengambil foto produk secara menarik, mempunyai konsep, serta pengembangan dan perhitungan yang baik. Setelah mendapat ide dan modal, realisasikan ide tersebut secepat mungkin. Dalam bisnis kuliner, kita dapat memanfaatkan keberadaan teman-teman untuk mencari tahu respon target customer yaitu melalui tester. “Yang paling penting untuk diingat adalah jangan takut untuk memulai. Namun, tidak ada gunanya jika tidak takut untuk gagal tetapi tidak berani untuk memulai”, pesannya.

Baca juga: Nadine Zamira: Menghidupkan Taman Kota di Jakarta Lewat Kampanye Hidden Park


 

Baca majalah Luminaire Vol 3 edisi “Specialpreneurs” di sini.


 

Header image credit: segonjamoer.com