Opinion

Wawasan Baru yang Nggak Akan Bisa Kamu Dapatkan di Tempat Lain

“Secrets from Google”

Ini adalah sesi sharing dari Sebastian Trzcinski-Clément, seorang program manager senior di Google. Ia dikenal juga dengan julukan “The Global Celebrity” atau setidaknya begitulah cara Chief Executive KIBAR, Yansen Kamto, memanggilnya. Kalau mau dirunut ke belakang, KIBAR adalah startup ecosystem builder pertama di Indonesia yang memberdayakan para pembuat konten Indonesia, inovator, dan entrepreneur dengan mendistribusikan peluang-peluang untuk menciptakan berbagai solusi yang berarti bagi masyarakat. Sederhananya, KIBAR adalah rumah bagi para startup dan jaringannya. Acara ini diselenggarakan oleh Digitaraya Powered by Google Developers Launchpad, sebuah perusahaan akselerator di bawah KIBAR.

Sesi sharing ini fokus membahas tentang “Google’s 10 core values”, tapi di balik itu ada banyak hal yang menurut saya jauh lebih menakjubkan yang bisa diambil sebagai pelajaran selain core values tersebut yang bisa dilihat secara online, karena kita mendengar langsung dari pakarnya yang bercerita berdasarkan pengalaman pribadinya. Berikut beberapa pelajaran hidup yang diberikan Sebastian tentang bagaimana meraih kesuksesan secara umum:

Quality comes from quantity.

Beberapa orang, termasuk saya sendiri, berpikir bahwa kualitas dengan kuantitas lebih sedikit lebih penting dan lebih efektif. Namun, untuk mendapatkan ide / produk berkualitas tinggi itu membutuhkan banyak usaha. Selain itu, kita nggak akan bisa tahu yang mana yang berhasil dan mana yang tidak jika kita tidak terus menghasilkan. Dari berbagai ribuan ide yang dihasilkan, akan ada satu yang benar-benar bersinar, yang artinya hanya sedikit atau bahkan hanya satu ide luar biasa yang akan dihasilkan di antara berbagai ide-ide buruk.

Geniuses must come from somewhere.

Orang-orang jenius yang menurutmu jenius sejak lahir itu nggak akan pernah ada. Mereka pasti datang dari suatu tempat. Suatu tempat itu bisa jadi karena pengaruh dari keluarga, pengalaman-pengalaman sebelumnya, kerja keras, dan masih banyak faktor lainnya. Jadi, jangan kehilangan keberanian dan kepercayaan diri.

Challenge the assumptions.

“Asumsi-asumsi bisa membunuh dirimu sendiri”, merupakan suatu ungkapan yang mungkin banyak dari kamu sudah pernah dengar. Sebastian memulainya dengan menceritakan kisah tentang eksperimen yang dilakukan pada sekelompok monyet di mana monyet-monyet itu tidak mendapatkan hadiah mereka, dalam hal ini pisang, karena mereka tidak menantang asumsi yang mereka miliki saat itu. “Jangan pikir jika sesuatu berjalan seperti itu untuk sekian lama, hal-hal tidak dapat berubah”, Sebastian berpesan. Usahamu mungkin telah gagal beberapa kali, tetapi akan juga ada beberapa hal yang berubah seiring berjalannya waktu.

“Why is this a bad idea?”

Dalam beberapa kasus, sangat penting untuk membuat daftar ide-ide buruk dan mengumpulkannya jadi satu. Misalnya, kamu melakukan pitching di depan para investor. Tentu saja selama pitch, kamu ingin menyoroti hal-hal yang menarik dari startup-mu. Namun, ada baiknya juga menyebutkan mengapa para investor mungkin tidak ingin berinvestasi pada startup-mu karena hal itu akan menghalangi mereka untuk melihat kekurangan lain dan ingat, investor akan selalu mencari berbagai kekurangan dalam sebuah startup.

Procrastinate is good…

Ungkapan yang pastinya ingin didengar oleh setiap murid. Tapi, yang pasti, hal tersebut hanya boleh dilakukan dengan satu syarat: kamu harus mulai mengerjakannya terlebih dahulu dan menyelesaikan pekerjaanmu sedikit. Setelah kamu melakukan brainstorming tahap awal, kamu bisa mengistirahatkan otakmu sejenak; cara ini akan sangat efektif. Penelitian menunjukkan, ketika kamu melakukannya, pikiranmu akan terus tertuju pada pekerjaan tersebut dan otakmu akan memproses informasi. Ketika kamu kembali ke pekerjaan tersebut, ide-ide kreatif yang sebelumnya mungkin nggak kamu pikirkan akan bermunculan.

It’s not 100%, it’s 120%.

Google percaya bahwa kamu selalu dapat melakukan lebih dari apa yang kamu pikirkan. Inilah sebabnya mengapa motto Google bukan “lakukan 100%”, tetapi “lakukanlah 120%”. Hal ini mengarah ke salah satu nilai inti Google, yaitu “great just isn’t good enough”. Cobalah untuk meraih versi terbaik dari segalanya.

Ada banyak pelajaran lainnya dari Sebastian yang nggak bisa saya bagikan karena keterbatasan ruang di artikel ini, tetapi sebagai anak magang, yang ingin liburan tengah semesternya diisi dengan pelajaran-pelajaran berharga, saya pribadi merasa bahwa KIBAR adalah tempat yang luar biasa untuk bekerja. Ada banyak sekali kesempatan untuk belajar serta mendapatkan pengalaman dan sesi sharing ini hanyalah salah satunya. Bayangkan pembelajaran yang luar biasa ini terjadi hampir setiap hari dan kamu bisa bertemu dan bahkan bekerja dengan berbagai orang hebat dari seluruh dunia, yang sangat berpengalaman di bidang mereka masing-masing. Seru banget, kan?

Artikel ini ditulis oleh Inez, yang berkuliah di UC Berkeley jurusan Ilmu Ekonomi dan saat ini sedang magang di KIBAR. Tujuannya magang adalah untuk mendapatkan berbagai wawasan dari sisi investor tentang hal-hal apa yang mereka cari dari sebuah startup dan bagaimana mereka menganalisa startup. Mengapa ia memilih KIBAR sebagai tujuan magangnya? “Saya suka banget dengan value yang dimiliki KIBAR, perusahaan KIBAR sendiri, dan menurut saya, Yansen Kamto adalah sosok yang sangat menginspirasi. Di samping mendapatkan wawasan dari para investor, saya juga bisa sekaligus mendapatkan wawasan dari startup karena KIBAR merupakan startup ecosystem builder dengan seluruh startup yang mereka bangun berkumpul di satu gedung yang dirancang begitu keren dan nyaman bagi para anak-anak muda yang bekerja dalam suasana yang begitu menyenangkan di Menara by KIBAR.”