Featured

Seberapa Jujur Sih Kita Dalam Berkarya?

Pertanyaan di atas sering banget gue pikirin dan mungkin juga jadi pertanyaan banyak orang soal karya yang mereka buat. Tapi yang gue maksud bukan tentang hak cipta atau plagiarisme ya. Hal yang gue maksud adalah, bagaimana kita bisa berkarya secara jujur sesuai dengan hati nurani kita?

Hmm kedengerannya kayaknya berat banget. Tapi ternyata sederhana aja kok, yaitu memahami diri sendiri. Rhaka Ghanisatria, Co-Founder Menjadi Manusia bercerita, saat ia membangun channel Youtube Menjadi Manusia, ia sedang dalam perjalanan memahami diri. “Saat gua ngerti diri gue, gue bakal lebih ngerti apa yang gue mau lakukan,” ujar Rhaka di Senyawa Plus, 3 November di M Bloc Space, Jakarta.

Rhaka percaya bahwa bisnis apapun harus memiliki dampak positif untuk masyarakat, sekecil apapun. Akhirnya Rhaka menciptakan Menjadi Manusia untuk orang-orang yang bingung dengan tujuan dalam hidup mereka. Berawal dari konten video, ia berfokus untuk berbagi cerita pengalaman dan perspektif sebagai cara paling tepat untuk belajar tentang kehidupan. Menurut Rhaka, ketika kita membuat konten, buatlah sesuai dengan yang kita rasakan.

Marchella FP, Co-Founder Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) juga sependapat dengan Rhaka. Menurutnya hidup itu tentang pencarian yang tidak akan pernah selesai. “Gue lebih mencari apa tujuan aku dilahirkan. Karena gue percaya semua orang itu dilahirkan punya purpose,” tutur Marchella.

Bagi Marchella, selain mencari uang, karya yang ia buat harus dapat menyenangkan diri kita dan berguna untuk semua orang. Apalagi di media sosial, begitu mudah untuk membagikan konten, namun tidak semua orang berpikir soal dampak dari konten itu. “Kita nggak bisa menakar apa efek samping yang kita bagi di media sosial. Makannya apapun yang gue bagi itu gue pertimbangkan,” kata Marchella.

Marchella juga berpendapat, masalah yang kerap dimiliki kreator itu adalah ketidakpahaman akan limit mereka masing-masing. Di saat gue mulai males, tutur Marchella, gue tau itu saatnya gue kerja keras. Tapi kalau di saat pulang nggak tahu diri gue, itu saatnya itu gue rehat. 

Gue setuju banget sama Rhaka dan Marchella bahwa memahami diri sendiri adalah perjalanan seumur hidup, dan dapat berdampak besar pada karya kita. Ketika kita tahu diri kita, kita lebih mengerti apa yang ingin kita lakukan di hidup kita. Kalau kata Marchella, “Gue takut mati sia-sia, gue nggak tahu apa yang terjadi setelah ini. Jadi, dimulai aja dulu.”