Story

Renungan di Hari Pendidikan Nasional: Siapkah Kita Berubah?

Dalam presentasinya yang ramai dibicarakan orang, Sir Ken Robinson  mengemukakan pendapat tentang perlunya pembaharuan dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang ada sekarang adalah sistem yang dibuat untuk merespon revolusi industri sekitar 300 tahun lalu. Murid-murid dikelompokkan dengan umur yang setara dan tahun kelulusan, seakan batch kode produksi macam hasil pabrikan.

image: bimba-aiueo.com

Banyak anak dicap mengidap gangguan psikis ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) karena sulit berkonsentrasi saat pelajaran. Menurut Sir Ken Robinson, salah jika kita terlalu dini menganggap mereka mengidap ADHD. Dengan segala kemudahan akses informasi di zaman ini, anak-anak memang seakan tidak memiliki kapabilitas untuk berkonsentrasi. Bagaimana tidak, segala macam gadget yang bertebaran di sekeliling kita, bisa digolongkan sebagai distraksi.

Barangkali memang, sistem pendidikannya yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman sekarang. Bayangkan, anak-anak ini lahir dan bermain tablet sejak kecil. Dengan segala keterbukaan informasi di internet, mereka harus duduk diam di dalam kelas dengan guru-guru yang cara penyampaiannya masih sama saja sejak puluhan tahun terakhir. Seharusnya tidak perlu heran jika anak-anak ini menganggap pelajaran di kelasnya sangat membosankan jika dibandingkan dengan gadget mereka.

Di Amerika sendiri, sudah ada perdebatan tentang pembaharuan sistem pendidikan ini. Banyak orangtua mulai mencari alternatif sistem edukasi baru, misalnya menerapkan home-schooling, atau mencari sistem pendidikan baru yang menghilangkan pengelompokan kelas berdasarkan umur melainkan berdasarkan minat. Pemerintah AS sendiri menyadari, banyak murid mereka mendapatkan nilai SAT yang sangat rendah jika dibandingkan dengan murid-murid di Asia (Timur, khususnya). AS pun mulai melirik sistem pendidikan di Cina dan Jepang karena dianggap sukses dengan keberhasilan lulusannya yang mendapatkan nilai SAT sangat tinggi.

Namun lucunya, Cina sendiri menganggap sistem pendidikannya tidak sukses karena walau banyak lulusan yang mendapatkan nilai SAT tinggi, mereka tidak memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja.

Intinya, pendidikan membutuhkan pembaharuan di mana pun di seluruh dunia.

Bagaimana dengan negara kita? Saya sempat tak sengaja mengunjungi sebuah situs, dan membaca tulisan aktivis Inggris di Indonesia bernama Elizabeth Pisani. Dalam tulisannya yang berjudul “Indonesian Kids Don’t Know How Stupid They Are”, ia mengemukakan betapa menyedihkan nilai rata-rata murid-murid kita jika dibandingkan dengan negara lain. Terlepas dari setuju atau tidak dengan cara Elizabeth Pisani membungkus artikel itu, menurut saya, kita tidak bisa melepaskan fakta bahwa memang nilai rata-rata murid-murid kita sangat menyedihkan. Kita di sini bicara rata-rata, jadi bukan hanya sekedar nilai mereka yang di kota besar saja, namun termasuk di daerah-daerah pelosok dan terpencil. Sehingga walau ada banyak murid berprestasi di kota besar, itu menjadi tidak berarti ketika diambil nilai rata-rata dari keseluruhan nilai murid-murid di Indonesia.

Saya sendiri bukan ahli sistem pendidikan atau akademisi. Hanya saja kebetulan, belakangan ini saya lagi getol-getolnya membaca buku tentang sejarah peradaban dunia. Ada hal yang menarik perhatian saya, yaitu bagaimana setiap peradaban bersaing dengan peradaban lain, atau berinovasi dalam merespon kondisi masyarakatnya. Dan sepertinya bisa ditarik satu kesimpulan, setiap peradaban yang berhasil mengangkat peradabannya menjadi lebih maju bahkan sampai menguasai pasar dunia, adalah peradaban yang bisa melihat kesempatan dalam kesempitan (advantage in backwardness).

Sebagai contoh dasar, sekelompok manusia yang tadinya nomaden, bisa belajar bertani karena dituntut keadaan dan strategisnya posisi geografis mereka. Contoh lainnya, bangsa yang hidup dalam empat musim sebenarnya tidak lebih beruntung jika dibandingkan bangsa yang hidup di dua musim dengan tanah subur sepanjang tahun. Namun justru “kesempitan” itulah yang memancing mereka untuk belajar tentang sistem bertani yang lebih maju agar mereka tidak kelaparan di musim dingin.

Bicara tentang pendidikan, Cina adalah bangsa pertama yang menerapkan sistem sekolah dan tes untuk para pejabatnya. Mereka yang ingin mendapatkan jabatan di pemerintahan, harus berhasil lulus dengan nilai terbaik. Sementara di peradaban lain, hampir semua pejabat dan penguasa negara menjabat lantaran keturunan. Cina dianggap sangat modern saat itu. Bahkan ketika sebagian masyarakat Inggris mencoba sistem tersebut, mereka dianggap melakukan usaha Cina-isasi. Tapi penerapan sistem tersebut tidak lepas karena pengalaman mereka selama ratusan tahun mengalami jatuh bangun karena ulah pejabat-pejabat korup.

source: infoakademika.com

image: infoakademika.com

Contoh lain adalah peradaban bangsa Mongol. Bangsa yang dulu sempat menguasai hampir seluruh belahan dunia ini, memiliki kultur nomaden yang umumnya dianggap sebagai suatu kelemahan karena mereka tidak memiliki pengetahuan mengenai sistem bertani dan pembangunan kota. Dalam “kesempitan” ini, mereka menggali peluang dengan memiliki pasukan kuda paling kuat di dunia.

Kasus lain adalah bangsa Eropa yang sistem militernya sangat maju. Dalam masa kegelapan Eropa, ketika itu Cina dan Persia menguasai pasar dunia, sementara Eropa hanya sibuk perang sendiri satu sama lain. Hasilnya, setelah ratusan tahun berperang, mereka memiliki sistem militer yang sangat kuat. Sehingga ketika mereka memulai koloni ke peradaban lain, tidak ada yang bisa menandingi kekuatan militernya. Ironisnya, bubuk mesiu pertama kali diciptakan oleh bangsa Cina. Hal ini pula yang menyebabkan revolusi industri terjadinya di Inggris dan bukan di Cina.

Padahal Cina, di bawah Dinasti Ming saat itu, adalah bangsa paling modern dengan armada laut yang dilindungi oleh Jenderal Zheng He yang sangat terkenal dan telah mengelilingi dunia (kecuali Amerika). Namun, revolusi industri tidak terjadi di sana karena mereka tidak berada dalam kondisi terpojok dan putus asa untuk menemukan inovasi baru dalam peradabannya.

Dalam tekanan ekonomi di Eropa, Columbus pun akhirnya tak sengaja “menemukan” Amerika dalam usahanya mencari jalur perdagangan baru dengan Cina tanpa melalui kerajaan-kerajan Persia atau melewati Mongolia. Lainnya? Masih banyak lagi contoh dari bangsa lainnya dengan cerita bernada sama: advantages in backwardness.

Melihat pola di atas, lantas saya berpikir, adakah kesempitan bangsa Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi keuntungan buat negeri ini? Menurut saya, our advantages in our backwardness adalah tidak adanya sistem yang berjalan dengan solid di negara ini. Taruhlah sistem pendidikan seperti yang saya coba bahas di awal tulisan ini.

Kenapa saya menganggap ini sebagai keuntungan? Karena dunia sedang berlomba menemukan sistem edukasi baru. Dan tidaklah mudah untuk n menerapkan sistem baru di tengah-tengah sistem yang sudah sangat solid mereka jalankan selama ratusan tahun itu. Sementara akan sangat mudah dan cepat untuk bangsa ini beradaptasi dengan sistem baru, karena sebelumnya memang tidak memiliki sistem yang solid.

Melihat bagaimana pemerintah mengubah-ubah kurikulum tanpa alasan yang jelas, ditambah hasil tes PISA yang dikemukakan oleh Elizabeth Pisani dalam laporannya di atas, memang sangat mengkhawatirkan. Tapi melihat dunia juga sedang sibuk berpikir mencari sistem pendidikan yang lebih layak untuk generasi baru mereka, kenapa nggak kita ekstrem saja meninggalkan sistem edukasi lama itu dan terapkan sistem edukasi baru sekalian?

Saya rasa, waktunya sangat tepat untuk bereksperimen. Ada banyak ahli yang mengungkapkan pemikiran-pemikirannya mengenai seperti apa sistem pendidikan yang lebih baik, salah satunya Sir Ken Robinson di atas.

Saya yakin, setiap orang akan memiliki jawaban yang berbeda untuk menjawab apakah yang menjadi “advantage in our backwardness” untuk bangsa ini. Dan sepertinya, tidak ada yang salah dan benar dalam hal tersebut. Seperti halnya sejarah peradaban dunia, ada satu faktor lagi yang menentukan majunya suatu peradaban. Sebuah pertanyaan yang lebih krusial dan perlu kita jawab: are we desperate enough to change our fate?