Story

Q&A: Lance Mengong, Mengapresiasi Film Indonesia Lewat Gerakan Ayo! Film

Dari sisi kreator, memang mau tidak mau harus meningkatkan kemampuannya dengan cepat pula, untuk mengejar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi film yang semakin canggih. – Lance Mengong

Maret lalu kan kita baru saja merayakan Hari Film Nasional, dan Mas Lance aktif terlibat untuk kampanye Ayo! Nonton Film Indonesia. Apa sih output nyata yang sebenarnya diharapkan dari perayaan dan kampanye tersebut?

Ide kampanye Ayo! Film Indonesia sebenarnya datang dari teman-teman yang ditunjuk menjadi panitia pelaksana perayaan Hari Film Nasional 2015. Pada saat itu muncul pemikiran untuk melaksanakan perayaan Hari Film Nasional yang lebih memberi manfaat nyata dan bukan hanya sekadar perayaan semata. Saat itu juga kami melakukan pemetaan sederhana atas kondisi, tantangan dan harapan yang dihadapi film Indonesia dan langkah apa saja yang dibutuhkan, untuk paling tidak, memberikan kontribusi positif dan nyata pada perkembangan Film Indonesia.

Empat program, yaitu Membawa Penonton ke Bioskop, Kampanye Stop Pembajakan, Meningkatkan Kualitas SDM Perfilman, dan Preservasi Film, kita putuskan menjadi hal utama yang bisa kita gunakan sebagai awal gerakan cinta film Indonesia yang berkelanjutan melalui program-program yang strategis dan direncanakan dengan matang sesuai pemetaan situasi perfilman Indonesia terkini.

Image credit: googleplus.com/LanceMengong

Empat program itu didukung dengan kampanye gerakan cinta film Indonesia secara terus menerus dan terencana sepanjang tahun 2015 melalui ajakan AYO! NONTON Film, AYO! STOP Pembajakan, AYO! MAJU Film Indonesia dan AYO! RAWAT Film Indonesia.

Program dan kampanye ini memang ditujukan sebagai pendukung dari hal-hal teknis yang utama dan penting, seperti peraturan perundang-undangan bidang film, badan pelaksana, asosiasi profesi film dan stakeholder perfilman lainnya.

Karena nature-nya sebagai gerakan, maka kami menerapkan pola-pola komunikasi melalui aktifitas media sosial, meme, dan media-media digital lainnya, dengan bekerjasama dengan teman-teman dari lintas disiplin ilmu, dengan harapan ini akan menjadi sesuatu yang tumbuh dari bawah dan pada akhirnya berkelanjutan dan menjadi lebih masif.

Tujuan dan output gerakan Ayo! Film Indonesia sebenarnya sangat sederhana, untuk meningkatkan apresiasi dan kebanggaan semua stakeholder pada film-film Indonesia. Perlu waktu sampai dua atau tiga tahun untuk bisa mencapai tujuan akhir yang ideal, tapi perjalanan kampanye dan gerakan ini akan cukup signifikan untuk mulai menumbuhkan apresiasi pada film Indonesia, sedikit demi sedikit.

Sebagai filmmaker dan salah satu anggota IFDC, bagaimana Mas Lance melihat perfilman Indonesia sekarang? Apa saja milestone pencapaiannya dan apa yang masih harus ditingkatkan?

Kita sudah bergerak sangat jauh dari saat pertama kita memasuki era digital. Beberapa tahun terakhir ini teknologi film berkembang sangat pesat dan menjadikan semua proses pembuatan film menjadi sangat mudah dan terjangkau. Semua orang dengan perlengkapan yang sangat sederhana pun sudah bisa membuat film dan bisa memilih media tayang yang sesuai dengan keinginannya, mulai dari sinema, TV, web, smartphone dan perangkat digital lainnya.

Perkembangan ini harus juga diimbangi dengan proses belajar yang super cepat juga. Dari sisi kreator, memang mau tidak mau harus meningkatkan kemampuannya dengan cepat pula, untuk mengejar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi film yang semakin canggih.

Kita bisa meningkatkan kemampuan kita dengan belajar mengenai proses pembuatan film yang baik dan benar melalui buku-buku film, mengamati pengalaman kerja pembuat film lain baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, mempelajari film-film dari berbagai genre, baik yang komersil maupun yang non komersil, untuk menambah wawasan dan mengasah kemampuan membuat film.

Banyak yang bilang, “katanya” kelemahan film Indonesia itu ada di cerita. Bagaimana tanggapan Mas Lance terhadap anggapan ini?

Sebenarnya kita punya tantangan yang lebih besar dari hanya sekedar masalah cerita dalam film-film kita. Cerita hanya sebagian kecil dari elemen dalam proses pembuatan film. Cerita adalah bahan dasar yang dipilih dan disempurnakan melalui proses pengembangan yang panjang antara penulis, produser dan juga sutradara.

Untuk menyampaikan cerita ini pada penonton perlu keahlian khusus. Tuntutan untuk bertutur dalam bahasa yang khusus, karena uniknya media film, membuat prosesnya menjadi sedikit lebih kompleks dari pada hanya sekedar menceritakannya kembali di depan teman-teman, keluarga atau sahabat. 

Kreator dituntut untuk mampu menggunakan elemen visual dan audio, meramunya dalam komposisi dan takaran yang pas, dengan menggunakan tata bahasa film, untuk bisa menyampaikan kisah yang menumbuhkan imajinasi dan menghadirkan pengalaman baru bagi penonton.

Cerita yang sederhana bisa menjadi kisah yang indah dan bahkan fantastis di tangan kreator yang pandai mengolah imajinasi dan perasaan penontonnya.

Kemampuan itu yang perlu kita kembangkan melalui proses belajar dan latihan terus menerus. 

Apakah memang selera penonton kita belum bisa menerima film-film berkualitas, atau jumlah film-film berkualitas itu sendiri yang masih kurang?

Perkembangan film Indonesia memang agak sedikit unik. Kita memiliki banyak ragam jenis dan genre film yang dihasilkan oleh kreator maupun pelaku bisnis, tetapi kita melakukan penyeragaman saat menonton maupun menilai hasil kreasi film. Ekspektasi yang seragam membuat penilaian pada hasil kreasi yang banyak ragam menjadi sangat sulit untuk didefinisikan dengan jelas. 

Terkait intellectual property, menurut Mas Lance bagaimana agar filmmaker bisa lebih cerdas dalam memanfaatkan IP rights mereka?

Penghargaan atas IP rights baru akan muncul dengan komposisi yang seimbang kalau film sudah menjadi industri yang sustainable atau berkelanjutan dalam lingkaran ekosistem film yang utuh yang sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Tanpa itu, masih akan ada banyak masalah yang akan saling berkaitan dan saling tarik-menarik antara kepentingan kreator dan pelaku bisnis dalam perfilman.

Mungkin dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean akan mempercepat proses menuju industri yang sustainable atau berkelanjutan, karena tuntutan standardisasi industri film, yang mau atau tidak mau harus diikuti dan diterapkan. Keadaan ini akan mengubah perilaku kreator maupun pelaku bisnis dalam perfilman. 

Manfaat IP rights akan lebih jelas dan terukur sehingga tentu saja akan dimanfaatkan sebagai kekuatan baru dalam industri film. IP rights akan menjadi modal besar yang selama ini tidak pernah bisa dimanfaatkan secara maksimal, baik oleh kreator, pelaku bisnis, maupun oleh pemerintah.

Filmmaker, penonton, pihak swasta, dan pemerintah. Apa yang masing-masing pihak ini bisa lakukan untuk ikut memajukan film Indonesia?

Kita perlu merealisasikan ekosistem perfilman Indonesia (Studi, Produksi, Distribusi, Ekshibisi dan Apresiasi) dengan fungsi dan tanggung jawab yang jelas untuk masing-masing stakeholder-nya. Pemetaan ekosistem perfilman ini akan memberikan kejelasan akan fungsi dan tanggung jawab kreator, pelaku bisnis, pemerintah, penonton, dan sektor-sektor industri pendukung lainnya dalam menjalankan roda ekonomi perfilman.

Tidak ada jalan pintas yang bisa dilakukan untuk mempercepat proses ini. Kita harus dan wajib merencanakan, membentuk dan melaksanakan ekosistem perfilman yang ideal untuk mencapai tujuan yang lebih baik untuk semua pihak.