Opinion

Prodigy, Bakat, atau Kerja Keras?

Ada dua anak Indonesia yang akhir-akhir ini sedang dibahas dan dipuji-puji semua orang. Yang satu, karena berhasil menembus nominasi penghargaan musik terbaik di dunia, Grammy Awards. Yang satu lagi, berhasil menembus jajaran pembalap papan atas di ajang kompetisi olahraga profesional bergengsi Formula 1.

Joey Alexander dan Rio Haryanto adalah pahlawan muda yang kita tunggu-tunggu dari dulu. Terlebih karena kita capek dengan berita dalam negeri yang melelahkan. Ketika muncul berita soal mereka, rasanya, kita nggak malu ngaku orang Indonesia. Nggak seperti sebelumnya, terkenal gara-gara terorisme, bom, atau menjadi negara di mana kota termacet di dunia berada.

Baca juga: Pro Kontra LGBT, Salah Siapa?

Joey Alexander. Image: liputan6.com
Joey Alexander. Image: liputan6.com

Pertanyaannya, where have they been all this time? Kenapa sih susah banget untuk Indonesia punya hal yang membanggakan, di luar kondisi alam dan sumber daya natural (yang mana itu sebenernya nggak perlu bangga-bangga amat, kan bukan diusahakan oleh kita sendiri)?

Orang-orang bilang mereka adalah child prodigy, alias anak ajaib yang punya keahlian melampaui usianya, atau bahkan usia orang yang lebih tua dari mereka. Sederhananya, ya orang bilang itu karena mereka genetically gifted, dari sananya udah begitu. Jadi ga usah diapa-apain pasti berhasil.

Orang Indonesia pada umumnya akan mikir gitu. Kenapa? Karena orang Indonesia pada umumnya tidak menghargai kesuksesan. Mereka menghargai pencapaian material yang didapat sebagai output dari kerja keras. Tapi bukan kerja kerasnya.

Baca juga: Manusia Pelacur

Yang penting menang atau tidak menang Grammy, masuk atau tidak masuk F1, bukan how they get where they are today.

The road to success doesn’t made up from sugar, spice and everything nice. It made up with hard work, sweat, and tears.

Padahal, Rio mengorbankan sebagian besar masa mudanya untuk berkarya. Di saat teman-temannya sibuk les dan pacaran, Rio mati-matian latihan dengan keras dan disiplin supaya bisa jadi pemenang. Udah susah, eh mesti bayar mahal pula untuk bisa masuk ke divisi utama. Udah berhasil, eh masih disindir orang-orang lagi dibilang makan uang negara.

Rio Haryanto. Image: singindo.com
Rio Haryanto. Image: singindo.com

Sementara Joey, di usianya yang baru 12 tahun, membuat pengorbanan untuk pindah ke Amerika Serikat, meninggalkan rumah yang ia kenal, dan pergi ke tempat asing untuk mencapai cita-citanya menjadi musisi kelas dunia. Nggak gampang lho, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya baru yang jauh berbeda. Banyak orang break down dan menyerah bahkan sebelum berperang hanya karena culture shock.

Di Amerika Serikat, Joey tampil di berbagai panggung kelas dunia bersama musisi Jazz legendaris yang usianya bahkan jauh lebih tua dari orang tua Joey. Come to think of it, semua itu nggak gampang sama sekali. Kalau mentalnya nggak kuat, bisa pingsan di atas panggung. Seserius itu.

Baca juga: Mengemis di Era Digital

Apa sih sukses? Sukses itu bukan keadaan atau kondisi. Oh, ada orang yang sukses dan tidak. It’s nothing like that. Sukses itu adalah hasil dari kerja keras. Tentu nggak semua kerja keras membuahkan hasil yang diinginkan. Tapi tanpa kerja keras nggak akan jadi apa-apa.

Rio dan Joey, mereka tidak sampai di kondisi mereka sekarang karena mereka beruntung. Tidak sesimpel karena mereka gifted. Tapi lebih banyak karena mereka mengambil pilihan-pilihan sulit ketika sangat sedikit, atau bahkan hampir tidak ada orang mengambil pilihan yang sama. Dan mereka konsisten serta terus berupaya mencapai tujuan yang ingin mereka capai.

Sementara kebanyakan orang Indonesia sukanya minta tips sukses. Kalau ketemu orang yang lebih sukses, pasti nanya, rahasianya apa? Ya ngga ada rahasia lah! Lagian apa yang mau dirahasiain. Kerja keras dan ngga nyerah, itu kuncinya.

Baca juga: Kalau Belajar Cuma untuk Gelar, Balik Deh ke Abad 20!

Image header credit: picjumbo.com