Opinion

OPTIMISTIC PEOPLE DO THIS: THEY’RE ALWAYS LATE

Orang yang optimis adalah orang yang suka ngaret. Mayoritas warga Indonesia adalah orang yang suka ngaret. Maka kesimpulannya, mayoritas warga Indonesia adalah orang-orang yang optimis.

Sebuah premis yang cantik, namun sarkastik.

Artikel ini diawali dari sebuah ungkapan,

Most late people have been late all their life, and they are late for every type of activity — good or bad. (by Diana De Lonzor, management consultant)

Udah jelas kan, orang yang sering datang terlambat, biasanya selalu terlambat di setiap aktivitas atau acara yang didatanginya.

Sebenernya, penyebab dari telat ini apa aja, sih? Begadang? Kesiangan? Macet? Atau malah karena udah jadi budaya? Yaa.. Beberapa alasan tadi mungkin bisa jadi salah satu penyebabnya. Tapi kalau telatnya tiap hari?

Ternyata pertanyaan gue ini terjawab setelah baca artikel ini. Kata beberapa penganut teori, orang yang sering telat, memiliki masalah di dalam lobus otaknya. Haduh serem juga, ya.

Baca juga: Penyakit Procrastination, dari Penyebab Hingga Solusinya

Sekarang, coba lihat di sekeliling kita. Misal, ada undangan buat meeting jam 3 sore di ruang A. Yang dateng jam 3 kurang, pasti bisa dihitung dengan jari. Yang dateng jam 3, yaa.. Lumayan lah udah segelintir orang. Setengah jam kemudian, bisa nambah beberapa. Dan akhirnya, rapat baru dimulai jam 4.

Molor sejam ye. Tapi, di sekeliling kita, batas waktu satu jam itu rasanya masih wajar. ‘Keren’ bener dah, 60 menit itu ditolerir loh! Bayangin deh, lamanya satu jam itu bisa dipake Lilyana-Tantowi buat memenangkan pertandingan bulutangkis sebanyak 2 kali! Waktu sejam itu sebenernya bisa buat ngerjain hal lain yang produktif. Bukan nungguin meeting mulai, karena orang-orang lain datengnya telat.

Kalo udah kayak gitu, siapa yang rugi? Yang nungguin, karena kehilangan waktu sejam. Dan yang telat, karena ketinggalan materi meeting nya plus bikin orang lain ngebuang waktu berharganya mereka. Ruginya dobel-dobel.

Gue penasaran sama fenomena tarik ulur karet waktu ini, dan melakukan riset kecil-kecilan dengan tanya ke orang-orang yang biasanya telat. Dan gue mendapatkan jawaban yang unik, dan cukup mengerutkan dahi:

“Tadi ngurusin sesuatu dulu yang lebih urgent.”

“Ban motor gue bocor.”

“Yah telat 10 menit doang, kok. Lagian masih banyak yang lebih telat daripada gue.”

“Sebenernya gue suka nelat gini karena sakit ati. Dulu, gue selalu dateng on time, tapi ga pernah dihargai. Akhirnya yaudah, gue ngikut nelat aja.”

“Gue ga telat kok. Lo nya aja yang ga ngerti. Kalo ada announcement buat meeting jam 3, itu artinya jam 3 berangkat. Baru mulai jam 4. Kayak baru idup di sini aje, lo”

Yang terakhir agak sakit ya. Gue cuman nanya, eh malah dikatain.

Coba sekarang introspeksi, lo termasuk tipe yang mana? Hehe.

Baca juga: Betapa Mudahnya Mengambinghitamkan Teknologi

Menurut artikel yang gue baca, ada 2 tipe dari lateness:

  1. Not okay lateness

Keterlambatan yang membawa dampak negatif bagi orang lain. Contohnya seperti kejadian meeting jam 3 tadi.

  1. Okay lateness

Keterlambatan yang tidak membawa dampak negatif bagi orang lain.

Nah, jenis yang kedua ini yang bahaya! Orang-orang dengan keterlambatan kronis kayak gini punya pola pikir bahwa ‘terlambat itu gapapa. terlambat itu tidak salah.’ Ini yang dimaksud sama beberapa penganut teori tadi, bahwa ada yang salah dalam lobus otaknya.

Si okay lateness ini, ternyata punya sisi positif dari kelakuan telatnya tadi. Biasanya orang-orang ini punya sifat optimis. Mereka jadi bener-bener narsis. Menganggap bahwa, “semua pekerjaan bisa gue selesaikan semua kok dalam waktu yang singkat”. Atau mereka mikir, “gue adalah seorang multitasker yang hebat”. Simpelnya, mereka bukan tipe orang yang hopeless, mereka tipe orang yang hopeful. Wew, ga nyangka ya. Terlihat mindblowing, bahkan ga realistis, tapi itulah faktanya.

Tapi, daripada optimis ini disalahgunakan buat mentolerir sebuah keterlambatan. Kan lebih baik optimisnya dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih produktif dan kreatif. Karena buat bahas masalah waktu ini, ga bakal ada habisnya. Inget kan, kalo “waktu adalah relativitas”?

Artikel ini bakal ditutup dengan salah satu quotes favorit gue, “Chronological time doesn’t matter. What matters is how you use your time.”

Baca juga: Kata Siapa, “Harus Jadi Sarjana Dulu Kalau Mau Sukses” ?