Opinion

Menjadi Spesialis di Tengah Lesunya Ekonomi Global (2)

Artikel sebelumnya bisa dibaca di sini ya!

Jangan salahkan lesunya ekonomi global. Jangan salahkan sumber daya alam yang makin lama makin habis. Jangan salahkan dunia industri yang lagi ga stabil belakangan ini. Jangan salahkan inflasi yang semakin tahun semakin mencekik leher. Jangan salahkan daya beli masyarakat yang turun. Jangan salahkan harga komoditas yang lemah. Jangan salahkan pemerintah karena regulasi dan kebijakan yang ga semuanya tepat sasaran. Jangan salahkan kedatangan era informasi dan teknologi. Jangan salahkan apa pun. Jangan salahkan siapa pun.

Sekarang, ayo mikir bareng!

Jadi spesialis di tengah lesunya perekonomian saat ini bukanlah hal yang salah. Saya justru appreciate dengan orang-orang spesialis, karena kemampuan fokusnya yang sangat baik. Mungkin ada yang menganut “the 10.000 hours of rule” milik Malcolm Gladwell dalam bukunya “Outliers”. Kan buat jadi sukses harus fokus ke satu bidang, dan latihan selama 10.000 jam. Cakep, tuh. Atau ada yang bilang, kalo ga spesialis itu namanya ga konsisten! Ora popo.

Namun di sisi lain, ga akan ada yang bisa memprediksi gimana dunia di masa depan. Saya ga menyarankan kita semua buat jadi cenayang dan ahli nujum supaya bisa ngeramal gimana kondisi masa depan. Prediksi itu butuh ilmu khusus dengan melihat history atau pergerakan trend. Dan ga semua orang bisa.

Baca juga: Kesalahan Terbesar Para Beginner

Then, how?

  1. Cermati sejarah, lalu ikuti fenomena saat ini

Kodak adalah contoh nyata. Mereka adalah spesialis dengan hasil cetakan foto yang bagus. Padahal, masyarakat sekarang kan udah jarang banget cetak foto. Karena mereka ga melakukan strategi baru, Kodak kini hanya tinggal kenangan. Nokia juga sama, menjadi spesialis “Connecting People”. Kemampuan voice quality dan user friendly nya ga perlu diragukan lagi. Tapi, kita sendiri tahu faktanya. Orang-orang jaman sekarang udah ga terlalu sering menelepon. Yang ada, aplikasi messaging atau chatting justru laris manis. Ya udah, Nokia harus ikhlas mati perlahan.

Apa iya, mesti nunggu bangkrut dulu, baru bisa jadi spesialis yang lain? Apa iya, mesti nunggu di-PHK dulu, baru mencari skill hidup yang baru?

Pelajari skill baru. Milikilah banyak minat.

Lah, emang gimana caranya numbuhin minat?

Banyak minat bisa muncul karena pembiasaan pola pikir “mengapa” dan “bagaimana”. Mengapa bisa begini? Bagaimana bisa begitu? Selalu tanyakan sama diri sendiri. Manfaatkan rasa keingintahuan yang tinggi buat hal-hal yang baik. Bukan untuk ngepoin hal-hal yang ga penting dan ga kasih impact apa pun sama hidup kita.

Kalau kalian kerja di sektor retail, amati bahwa jumlah orang yang datang ke store sekarang mengalami penurunan. Contoh, Alfamart sekarang membuka Alfamart Online. Matahari dengan MatahariMallDotCom.

Kalau kalian kerja di sektor perbankan, amati bahwa jumlah nasabah yang datang ke kantor cabang semakin sedikit. Untuk itulah mobile banking dan internet banking diciptakan.

Intinya, selalu observasi. Tumbuhkan banyak minat. Be open minded. Miliki keingintahuan yang tinggi. Kembangkan menjadi skill baru.

Baca juga: Belgia, Eropa, dan Bhinneka Tunggal Ika

  1. Keep persistence

Plan B dibutuhkan jika rencana A gagal. Orang butuh berbagai alternatif untuk mengatasi kegagalan. Saat kita udah punya berbagai minat sejak dini, otomatis kita punya berbagai pilihan yang dapat dipertimbangkan. Peluang semakin terbuka lebar. Kita tetap bisa gunakan berbagai minat, meskipun udah punya pekerjaan tetap. Misalkan, saya suka blogging, berjualan, membuat website, menulis, bermain musik, dan olahraga. Dan saya bekerja pada sebuah start up. Pengetahuan saya tentang dunia blog, membuat tulisan yang bagus, dapat saya gunakan untuk promosi bisnis yang dijalankan. Pun ilmu yang dimiliki mengenai musik yang baik dan olahraga yang sehat dapat digunakan untuk membuat content yang menarik di website start up. Seperti itulah cara kerja minat dan pilihan di kehidupan sesungguhnya.

Kalau udah punya banyak minat, terus jadi labil, gimana dong?

Kuncinya ada pada kegigihan.

Ga usah ragu buat ambil risiko dan berkomitmen sama banyak minat. Inget, tetap disiplin sama apa yang udah diputuskan. Jangan mau sama hasilnya doang. Puncak karir bakal diraih sama manusia yang gigih, tahan banting, dan ga pernah ngeluh!

Baca juga: To Earn or Learn

  1. Bangun networking

Berkawan dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Bangun hubungan baik dengan mereka. Give and share.

Banyak banget keuntungan kalau kita punya banyak networking. Anti-sosial? Ke laut aje, sono. Inget, anti-sosial beda lho sama introvert! Misalnya, saya minat sama musik tapi ga expert di bidang itu. Project yang saya tangani sekarang butuh man power di bidang musik. Tinggal calling aja temen yang jago musik, kelar deh semua urusan. Superman aja ga bisa ngelakuin semuanya sendiri. Masa kita mau maruk nglakuin apa-apa seorang diri? Maka dari itu, terciptalah kolaborasi. Indah kan kalau kita saling berbagi? Berbagi pengalaman, berbagi project, dan juga berbagi rejeki!

Saya nulis ini bukan karena preferensi terhadap bidang atau sektor tertentu. Saya juga tidak mengajak para pembaca untuk serta merta hijrah menjadi orang-orang multitalenta, dan melarang untuk menjadi orang spesialis. Tidak.

Saya hanya ingin kita semua bisa membaca situasi yang terjadi dan mengambil keputusan yang tepat. Bisa memposisikan diri di tempat yang layak dan waktu yang tepat. Plus komitmen, disiplin, dan kegigihan. Demi karir dan kehidupan yang bermanfaat bagi banyak orang.

Selamat berjuang mengarungi samudera kehidupan!

Baca juga: Betapa Mudahnya Mengambinghitamkan Teknologi