Opinion

Menjadi Filter Informasi untuk Diri Sendiri

Kita hidup dimana dunia tidak akan berarti apa-apa tanpa internet. Kita hidup dimana dunia nyata dinomorduakan dari dunia maya. Iya, dunia maya berarti segalanya. Sosial media, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, Path — merajalela.

Sah-sah saja, tentu. Tidak ada yang salah, karena semua ini adalah bagian dari perkembangan teknologi yang patut membuat kita bangga hidup di zaman yang serba modern. Sampai-sampai kita sendiri lupa bahwa ternyata sms dan telepon jauh lebih penting ketimbang WhatsApp dan BBM.

Dalih kita sederhana, “Kan kalau sms dan telepon makan pulsa lebih banyak. Jadi, telepon pake WA atau BBM ajalah”.

Baca juga: Karena #BahagiaItuSederhana

Kita juga lupa bahwa tidak semua orang punya smartphone secanggih milik kita yang bisa download beberapa aplikasi sekaligus. Jujur saja, kita lupa hal itu, bukan? Bahkan kita lupa bahwa tidak semua orang memiliki smartphone secanggih milik kita. Karena beberapa diantara kita ada yang masih menggunakan handphone biasa. Handphone yang hanya bisa digunakan untuk mengirimkan pesan sms dan melakukan panggilan telepon. Bahkan, ada juga yang tidak punya keduanya, bukan begitu?

This is not the point that I would like to share.

But I want to remember my self and our absolutely that Internet changes everything!

Kita patut bersyukur hidup di dunia yang sudah canggih dengan teknologi — internet. Mau pesan tiket, gampang. Mau cari info wisata, gampang. Mau saling kirim foto, gampang. Mau nulis surat elektronik, gampang. Tapi, kita harus tetap waspada. Dunia berubah karena internet. Pola perilaku kita bisa dipengaruhi lewat internet.

Internet merubah pola pikir. Sosial media, sebut saja demikian karena internet yang paling dekat dengan kita adalah ini. Darinya, semua informasi bisa masuk bebas 24 jam. Entah itu baik dan buruk. Timeline kita penuh dengan berbagai berita yang kita nggak tahu kebenaran dan keshahihannya. Nggak ada yang salah, karena sosial media tujuannya memang diciptakan untuk saling bersosialisasi dan sharing everything meski kadang kita merasa timeline kita seperti sampah.

Baca juga: 6 Tahun Berbagi

Tugas kita adalah mengendalikan diri supaya informasi yang masuk, adalah informasi yang baik. Informasi yang bisa mengubah diri dan dunia kita menjadi lebih baik. Informasi yang membuka wawasan kita tentang kecanggihan teknologi supaya kita tidak menjadi manusia gaptek. Informasi yang bisa menjadikan kita manusia yang lebih open minded, dan bahkan bisa menggerakkan hati kita untuk bermanfaat untuk orang lain.

Selain dengan melakukan filter terhadap informasi yang masuk, membentengi diri dengan nggak mudah terprovokasi itu penting! Akan lebih baik kalo kita sebagai penerima informasi melakukan kroscek akan kebenaran informasi yang didapatkan. Nggak sendikit lho, broadcast informasi yang ternyata bodong.

Lalu sebagai penyebar informasi, pikirkan lagi tentang apapun yang akan kamu share di social media. Orang lain akan melihat, membaca, atau bahkan menirunya, pikirkan dampaknya. Iya kalau konten yang kita bagikan bagus? Kalau ternyata berdampak negatif? (Eng, misal kayak yang belakangan lagi heboh soal selebgram dan YouTuber abege yang katanya cantik itu!)

And for the last, let me remind us that:

Before the Internet, we could receive maybe 1 or 2 pieces of bad news per day.

But now, you get to hear everyone’s bad news from all over the world, 24/7.

And that’s not mentally healthy.

It’s important to take some time to shut off the phone, close the laptop, and just find somewhere nice to sit and relax.

Lepas dari dunia maya sejenak itu, perlu. Untuk apa? Untuk melakukan kegiatan bermanfaat lain yang membutuhkan pikiran dan tenaga kita. Iya, kan?

Baca juga: Trial and Error, Bukanlah Motivasi