Story

Melupakan Model Bisnis, Melupakan Esok Hari  

Gagasan, teknologi, produk, atau jasa yang hebat sekalipun akan berumur pendek tanpa model bisnis yang bisa bertahan lama.

Guy Kawasaki

Usaha yang hebat dimulai dari cara kita memberi makna. Ya, meaning! Penting banget untuk mengetahui makna apa yang lo berikan atas usaha yang lo jalanin. Biasanya, mahasiswa jago banget untuk urusan ini. Atas nama idealisme, orang-orang berani memulai usahanya tanpa mempedulikan model bisnisnya.

Frasa ‘model bisnis’ di atas sebenarnya untuk menggantikan pertanyaan kasar berikut ini: Kantong siapa yang nantinya bakal lo “kuras”? Begitulah yang dijelaskan Guy Kawasaki dalam bukunya, The Art of the Start.

Bila digambarkan secara elegan, pertanyaan tersebut berkaitan dengan penentuan konsumen lo dan kebutuhan yang mereka rasakan.

Baca juga: Kenapa Kompetisi Itu Bagus Buat Startup

Selain itu, Guy juga mempertanyakan: Bagaimana cara lo mengisi kantong lo? Pertanyaan ini fokusnya pada penciptaan mekanisme penjualan yang bisa menjamin bahwa pendapatan lo lebih besar dari biaya yang lo keluarin.

Di sini, saya tidak ingin memperdebatkan lebih bagus mikirin untung atau berpegang teguh pada idealisme yang mulia. Keduanya, bisa bersinergi, kok. Dan kalau untuk bisnis, memang keduanya harus bersinergi.

Tanpa idealisme, bisnis akan terombang-ambing. Tapi, kalau kita nggak mikirin bagaimana kita memperoleh keuntungan, ya, sulit juga untuk mempertahankan keberlangsungan usaha kita kedepannya.

Seperti yang dibilang Guy juga dalam bukunya, bahwa gagasan, teknologi, produk, atau jasa yang hebat sekalipun akan berumur pendek tanpa model bisnis yang bisa bertahan lama.

Hal ini juga menjadi perhatian Sofian Hadiwijaya, founder Crazy Hackers. Ditemui saat menjadi mentor sebuah acara Hackathon, Sofian menjelaskan pentingnya para startup untuk mengetahui model bisnis dari aplikasi yang dibuat.

Baca juga: 4 Co-founder yang Bisa Dijadikan Role Model Membangun Startup

“Kebanyakan startup tidak memikirkan model bisnis. Padahal, ide dan teknologi yang digunakan sudah keren. Tapi mereka nggak tahu apakah ide itu akan sustainable,” ungkap Sofian.

Sofian menekankan bahwa startup juga perlu mengetahui bagaimana memonetisasi aplikasi yang mereka buat. Bahasa gampangnya, cara mereka menghasilkan uang.

Berikut ini, tips dari Guy Kawasaki untuk mengembangkan model bisnis. Pertama, menjadi spesifik. Nggak sedikit entrepreneur yang kesulitan menggambarkan konsumen secara lebih spesifik. Banyak yang ketakutan untuk menjadi tersegmen dan nggak bisa menguasai semua kalangan. Maunya semua diembat! Ya, kayak lo nembak cewek aja. Kalau lo nembak 4 cewek di tempat dan waktu yang sama, kira-kira tuh cewek mau nggak? Tentukan pilihan lo!

Kedua, harus selalu sederhana. Kalau lo nggak bisa menggambarkan model bisnis dalam 10 kata atau kurang, Guy bilang, bahwa sebenarnya lo nggak punya model bisnis.

Ketiga, cobalah untuk meniru model bisnis mereka yang udah sukses. Lo bisa bikin inovasi dalam hal teknologi, pasar, dan konsumen. Guy bilang, menciptakan model bisnis yang baru bakal terlalu berisiko tinggi.

Sekarang, udah tahu kan bagaimana pentingnya model bisnis? Ya, terserah sih kalau cuma mau bikin aplikasi untuk dipakai sendirian aja. Inget Bung, kita hidup bukan hanya untuk hari ini. Pikirkan juga hari esok.

Baca juga: Sulitnya Menjelaskan Kalau Kita Kerja di Startup

Image header credit: http://images.bwbx.io/