Featured

Melampaui Ekspektasi Tentang Perempuan dan Bisnis

Sekarang memang sudah banyak perepuan yang menjadi pemimpin di berbagai industri dan instansi lainnya. Tapi kita selalu saja mendengar tentang stereotipe perempuan yang melulu soal domestik. Apa sih masalahnya dan apakah memang perempuan perlu didorong begitu keras seakan-akan tidak berdaya?

Bianca Belnadia, Managing Director Love, Bonito bercerita, ketika kita mengerjakan sesuatu tanpa mengetahui ‘mengapa’ kita melakukan itu, maka itu lah yang sulit. Menurut Bianca, kesulitan itu bukan berdasarkan gender kita tapi terkadang perempuan, terutama di Asia, sering merasa underrepresented.

Padahal di dalam dunia bisnis, perempuan seringkali jauh lebih dipercaya dalam mengelola keuangan. “Investasi dalam wanita yang benar itu lebih aman apalagi kalau mereka punya passion karena perempuan sangat konservatif soal uang,” ujar Bianca di Senyawa Plus, November lalu di M Bloc Space, Jakarta.

Bianca mengatakan, pertimbangan Venture Captal ketika memberikan suntikan dana adalah foundernya, bukan produk. Jadi kepercayaan investor kepada founder perempuan sebenarnya cukup tinggi. Menurut Bianca, perempuan harus memiliki dua hal yaitu kesadaran akan diri sendiri dan mempunyai keinginan untuk selalu mencari cara dalam mengembangkan diri. “Always seeking for personal growth,” tutur Bianca.

Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan, menurut Bianca, seperti memulai berbicara di meeting atau juga mulai berkolaborasi. Bianca berujar, selalu ada orang yang lebih baik dari kita tetapi jangan minder melainkan harus jadi dorongan buat terus belajar.

Ketika membicarakan kesetaraan, jelas bukan berarti kita merasa lebih baik atau merasa pantas untuk mempermalukan laki-laki. Cara pikir ini tentu berbeda dengan nilai kesetaraan, bagi Bianca cara pikir dan skill set-nya berbeda, maka fokusnya adalah mencari keseimbangan di lingkungan kerja.

Selaras dengan Bianca, Riny Novitrianti VP Analytics and Market Research, Telkomsel juga berpendapat, bahwa perempuan memiliki kelebihan tersendiri di bidang bisnis, salah satunya adalah mengulik data. Tantangannya, menurut Riny adalah membangun kompetensi diri dan rasa percaya diri.

“Perempuan harus percaya diri untuk terus mencari ilmu, mencari role model, dan jangan menyerah,” kata Riny. 

Faye Alund, CEO KUMPUL berpendapat, narasi bisnis selama bertahun-tahun adalah narasi maskulin. Hal itulah yang membuat perempuan seperti terpinggirkan di dunia bisnis. “Sedihnya yang judgemental terhadap perempuan bahkan bukan laki-laki aja tapi perempuan lain juga,” tutur Faye. Jadi menurut Faye, perempuan perlu bergerak beyond our gender. Kalau tidak, maka perempuan akan terjebak dalam stigma.