Insight

Less is (always) More

Pernah ngga sih ngerasa tertekan karena kesibukan? Ngerasa super sibuk tapi ngga produktif?
Ngerasa lelah sama kegiatan akademis maupun non-akademis?
Ngerasa diganggu sama pekerjaan yang harusnya dikerjain orang lain?

Kalo pertanyaan-pertanyaan itu jawabannya iya, ada sebuah prinsip yang bisa bikin kalian lepas dari perasaan-perasaan tersebut.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah buku yang berjudul Essentialism: The Disciplined of Pursuit Less karangan Greg McKeown. Buku ini menjabarkan tentang pola hidup less but better yang bisa bikin kalian menghasilkan kontribusi yang lebih besar terhadap apa yang kalian kerjakan.

Prinsip Essentialism ini bukan menjelaskan tentang gimana kalian bisa mengerjakan lebih banyak pekerjaan di waktu yang lebih singkat, tapi bagaimana kalian bisa getting only THE RIGHT THINGS DONE. Nah, tentunya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum bisa mempraktikkan prinsip ini. Kita harus bisa mengubah mindset yang sebelumnya “Gue bisa mendapatkan semuanya” ataupun “Gue harus melakukan semua hal” dengan “Gue memilih melakukan hal yang tepat, di waktu yang tepat, dengan cara yang tepat”. Prinsip ini mengajarkan tentang bagaimana kita mengatur pilihan tentang pekerjaan yang akan kita lakukan untuk menghabiskan waktu dan energi kita.

Baca juga: Whatever You Think, Think The Opposite

Image credit: bigmonocle.com
Image credit: bigmonocle.com

Ada 3 bagian yang harus kita perhatikan untuk menerapkan prinsip ini yaitu:

1. Explore
Bagian pertama yang menjadi inti dari Essentialism ini adalah explore yaitu gimana cara kita misahin mana yang penting dari beberapa pilihan yang kita punya. Untuk menjadi seorang Essentialist, nantinya kita akan menaruh komitmen untuk “GO BIG” kepada ide-ide atau kegiatan yang dianggap penting. Oleh karena itu, kita harus mengeksplor lebih banyak pilihan diawal baru kemudian memilih pilihan yang dianggap penting.

2. Eliminate
Ketika kita sudah melakukan eksplorasi terhadap pilihan-pilihan yang ada, banyak dari pilihan kita yang menjadi “harus dibuang”. Dengan kata lain, memilih apa yang kita anggap penting saja ngga cukup. Kita juga harus bisa membuang hal-hal yang ngga cukup penting itu agar kita bisa fokus kepada hal yang penting.

3. Execute
Setelah kita memilih hal yang penting dan membuang hal yang ngga penting, pada akhirnya kita harus ngejalananin hal-hal yang penting tersebut. Nah, agar apa yang kita udah pilih itu bisa menghasilkan sesuatu yang memiliki dampak besar, kita harus melakukan eksekusi dengan penuh komitmen juga. Dengan menyingkirkan segala distraksi dan ngebikin sistem kerja yang efektif, kita bisa melakukan hal yang penting ini dengan effort yang lebih sedikit dan jadi lebih produktif!

Baca juga: Thinkertoys: A Handbook of Creative Thinking

Secara singkat, ketiga hal itulah yang menjadi inti prinsip essentialist ini. Walaupun keliatannya ngga susah, tapi ketika kita harus memilih sesuatu yang menentukan masa depan kita, pilihan itu ngga bakal jadi semudah itu.

Jadi, yuk kita mulai pilih apa yang penting buat kita, biar hidup kita bisa jadi lebih bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Good luck!

Header image credit: fastcompany.net