Opinion

Learn from Google: Developing Product by Involving Their User

Mari kita lihat dari contoh kasus Google Glass. Bukan cuma soal Glass adalah pionir wearable technology yang kemudian diikutin sama semua orang, tapi yang lebih menarik adalah bagaimana mereka bisa elevate produknya dengan pintar.

Dimulai dengan strategi yang paling awal, membuat sebuah teknologi yang sifatnya break-through. Siapa sih yang kepikiran bikin kacamata pintar sebelumnya? Banyak sih, tapi ngga ada yang bikin itu kejadian kayak Glass, kecuali Google. Smartphone yang ditanam di tools yang kita pakai sehari-hari, is one thing. Tapi bahkan lebih dari itu, Google bisa bikin teknologi yang dianggap nerdy jadi keliatan keren.

Caranya? Mereka sengaja ‘nitipin’ Glass di berbagai event keren, semisal Fashion Week. Siapa yang inget akan jejeran model melenggang di catwalk pake Glass? As if fashion and tech are the ‘it’ stuff. And you know what? It works like a charm. Semua orang merasa pake Glass itu super cool.

Lalu sebelum mereka lempar ke pasaran, Glass hanya dikasih ke beberapa gelintir orang tertentu yang mereka pilih. Developer, salah satunya. Tentunya dengan tujuan supaya semakin banyak apps yang di-develop. Sehingga Glass ada fungsi yang praktis, dan bukan cuma buat keren kalo dipake. Siapa yang ngga inget kehebohan Google I/O 2012 ketika Sergey Brin naik panggung membawakan keynote speech sambil menggunakan Glass? Live streaming via Hangout sambil nonton orang koprol terjun dari pesawat?

Step selanjutnya. Melempar Glass ke beta-tester. But instead of doing it like any normal company would treat a beta product, Google took it to the next level. Mereka sengaja memancing orang untuk berlomba-lomba menjadi beta-tester. Lewat kampanye “If I Had Glass”, Google men-disrupt seluruh tatanan normal akan sebuah beta product. Orang-orang diajak untuk memberikan ide, hal menarik apa yang akan mereka lakukan kalau mereka punya Glass. Hasilnya, Google menjaring para die-hard fans untuk membeli sebuah beta product yang bahkan belum jelas bentuk finalnya seperti apa, dan belum tahu kapan akan diluncurkan ke publik. Yang lebih sadisnya, para Glass Explorer – sebutan keren untuk beta-tester ini – diminta untuk membayar sebesar USD1,500 kalau mau mendapatkan Glass. How sick is that?

Tampilan Google Glass

Foto: Oik Yusuf/Kompas.com

Oh, and not to mention, the invitation to be a Glass Explorer is not transferable. So the Explorers would gain the whole exclusivity by joining a tad of cool people buying a half done product. Udah beli barang setengah jadi, mahal pula. Tapi toh orang-orang tetep kepengen beli dan punya.

Ivan Yudhi, salah seorang Glass Explorer yang mendapatkan invitation melalui kampanye “If I Had Glass”, menyatakan, “Kalau dari segi produk dan teknologinya, apa yang saya bayarkan itu memang nggak worth it. But I’m not buying merely a Glass. Di komunitas Glass Explorer, saya jadi punya afiliasi baru yang sangat antusias bikin banyak acara. Bahkan sampai jalan-jalan bareng pakai Glass, dan dengan senang hati menjelaskan sama orang lain yang pengen tau tentang Glass.”

See how smart Google is? Their beta-testers are also their ultimate salesperson. They cannot have any better deal than this, right?

Wrong. They actually have. Yang mungkin banyak orang ngga sadar adalah, Google men-develop produk Glass dari subsidi komunitas tersebut. Let’s say 3,000 orang aja yang punya Glass, di mana masing-masing membayar sebesar USD1,500. Kalau dihitung kasar, dari situ aja bisa dapat total 4,5 juta dolar untuk ngebiayain pengembangan produk yang ke depannya mungkin akan dihargai hanya sepertiganya, atau bahkan kurang. Mereka bisa bikin produk dibiayain sama konsumennya. Dengan sukarela. Dipromoin secara gratis pula.

Man, think about it. How come no one else can think like Google? No wonder they’re the biggest tech-cult in the world, don’t you think?