Story

Lapak Bisnis Sosial di Website E-commerce Baru Dreamdelion

Kolaborasi developer dan social movement dalam Project Katalis sudah membuahkan hasil! Setelah bertemu di Networking Day Project Katalis, mereka bekerjasama membangun website/aplikasi sampai jadi. Ini kisah mereka, dan hasilnya!

Sanggar Dreamdelion siang itu tampak lengang ketika Asep datang. Anak-anak sudah pulang, dan kegiatan sanggar Minggu pagi juga sudah selesai. Asep Saepulloh, developer volunteer Project Katalis untuk Dreamdelion, hari itu untuk kedua kalinya bertemu tatap muka dengan tim Dreamdelion, membahas pengerjaan website e-commerce baru mereka.

Website Dreamdelion sebelumnya, belum bisa mengakomodasi platform jual beli online untuk produk-produk bisnis sosial mereka, hasil karya masyarakat marginal. Padahal, jumlah produk bisnis sosial yang didistribusikan oleh Dreamdelion sangat banyak, dan akan terus berkembang jumlahnya. Dari segi user experience pun, website-nya sangat berat, dan halaman daftar produk malah seperti blog artikel. Intinya, belom enak dilihat, ribet, dan berbelit-belit.

Baca juga: Dreamdelion, Hidupkan Mimpi Masyarakat Pinggir Kali

Jadi, ujung-ujungnya tonggak pemasaran masih bergantung pada social media. Padahal, menurut mentor mereka, Prof. Rhenald Kasali di Rumah Perubahan, Dreamdelion butuh e-commerce site yang mumpuni untuk bisa terus bertahan ke depannya, di era serba digital ini.

Diskusi pertama tim Dreamdelion dengan developer, Asep, di Networking Day Project Katalis 

Tapi kini, Dreamdelion udah mulai siap-siap menggeser sentra pemasaran mereka ke website e-commerce yang baru. Yang sudah dirombak oleh Asep, mahasiswa IT Universitas Budi Luhur yang nyambi bekerja di sebuah perusahaan IT di bilangan Jakarta Selatan.

Sejak dipertemukan dalam Networking Day Project Katalis, Dreamdelion dan Asep jadi punya satu misi baru bersama: menjadikan website Dreamdelion sebagai tempat belanja online yang profesional layaknya e-commerce besar, yang bisa memanjakan para pembeli produk Dreamdelion.

Baca juga: Alia Noor Anoviar: Mencerdaskan Manggarai dengan Karya

Halaman belanja di Dreamdelion

Dan per hari ini, Dreamdelion sudah punya amunisi baru untuk mewujudkan misi itu. Asep sudah dengan apik menyiapkan fitur-fitur standar sebuah toko online seperti Shopping Cart, Billing Address, User Management, Product Management, sampai ke system invoice-nya.

“Semua fitur ini intinya biar tim Dreamdelion nggak usah terlalu banyak pekerjaan untuk mengelola toko online-nya. Biarkan sistem yang bekerja,” ujar Asep. Teman-teman bisa melihat halaman e-commerce Dreamdelion yang baru di halaman dreamdelion.com/belanja ini.

Mewujudkan website baru ini, Asep nggak kerja sendiri. Dreamdelion mengerahkan kekuatan mereka untuk menciptakan kolaborasi nggak hanya dengan Asep, tapi juga di internal organisasi sendiri. Mulai dari Alia Noor Anoviar (CEO) dan Maharhanie (Network Specialist), tim Marketing, Design, dan Project; semua bahu bembahu menyediakan kebutuhan website baru.

Salah satu produk bisnis sosial yang didistribusikan lewat Dreamdelion

Baca juga: What is Networking, Actually?

“Lewat proses kolaborasi ini kita saling belajar. Terima kasih atas kegigihan Asep sebagai web developer, kita jadi belajar banyak hal mengenai seluk-beluk e-commerce dan gimana membuat sistem yang baik untuk pengunjung,” papar Maharhanie, Network Specialist Dreamdelion, pada kami.

“Kami ingin mempersembahkan website Dreamdelion yang baru dengan cara yang unik, lewat edukasi di social media juga. Menuju ke sana, langkah pertamanya adalah memperkuat sistem dan tim. Kami akan membentuk tim pengelola web dan logistik sendiri untuk mengurus website,” sambungnya.

Baca juga: Bahkan Peggiat Gerakan Sosial juga Butuh Uluran Tangan

Berharap karyanya berguna buat banyak orang, Asep juga mengekspresikan keinginannya untuk terus terlibat dan ke depannya membuatkan mobile apps khusus untuk Dreamdelion. “Saya soalnya melihat Dreamdelion dengan produk-produk sosialnya ini punya peluang besar di industri online shopping kita, harus dikembangkan lebih jauh lagi,” katanya.

Datang terlalu siang hari itu membuat Asep melewatkan sesi kegiatan bersama anak-anak Dreamdelion. “Suatu hari, mungkin boleh ngajarin anak-anak sanggar Dreamdelion mengenal komputer,” kata Asep mengungkapkan harapannya. Gimana, Dreamdelion?

Header image credit: rhesaazandri.blogspot.com