Opinion

Kunci Berinovasi: Lagi-Lagi, Crowdsourcing

Lo mungkin pinter. Startup lo mungkin punya the best people in the industry. Tapi, kalau kata Liverpool sih, You’ll Never Walk Alone, atau lebih tepatnya you can never walk alone.

Ada saatnya, dan kemungkinan besar sekarang adalah saatnya, pemerintah, bisnis, dan institusi lainnya benar-benar butuh input dari orang lain.

Dan input ini gak sekadar kita nanya-nanya ke user atau masyarakat: “Produk kita gimana?” “Apa yang perlu di-improve?” Ya, cara itu gak salah, tapi you can do more daripada sekadar survey yang hanya menganggap user sebagai pihak pasif.

You can do more dalam berinovasi dengan satu cara: crowdsourcing.

Sebelumnya, Ziliun pernah membahas bagaimana crowdsourcing–yang artinya adalah proses memperoleh layanan, ide, atau konten dengan mengumpulkan kontribusi dari komunitas online–dapat menjadi solusi untuk dunia pendidikan yang lebih dinamis. Nah, sebenarnya, ga cuma untuk pendidikan, crowdsourcing saat ini bisa menjadi solusi untuk bisnis, pemerintah, dan juga institusi-institusi lain.

Baca juga: Crowdsourcing, Solusi Masa Depan Dunia Pendidikan

Di sebuah artikel Harvard Business Review berjudul “Using The Crowd as an Innovation Partner”, dijelaskan tentang ketakutan-ketakutan perusahaan saat ingin mengajak konsumen berkolaborasi menciptakan produk baru. Misalnya, mereka ga yakin konsumen atau user bisa kasih solusi yang sesuai. Mereka juga takut dengan pelanggaran hak kekayaan intelektual. Dan pada dasarnya, memberikan suatu masalah untuk diselesaikan oleh sekelompok stranger itu aneh bagi mereka.

Image credit: archive.wired.com

Tapi sebenarnya, kita bakal kehilangan sesuatu yang besar kalau ga berani melakukan crowdsourcing. Contoh paling jelas adalah crowdsourcing yang dilakukan para ahli biologi di University of Washington untuk membuat struktur protein pembentuk virus HIV. Setelah lebih dari 10 tahun ga berhasil menemukan struktur protein ini, akhirnya seorang ilmuwan membuat video game bernama Foldit yang bertujuan menemukan struktur protein.

Hasilnya? Dalam kurang dari 10 hari, para gamer yang memainkan Foldit berhasil memecahkan masalah yang ga bisa dipecahkan ilmuwan selama lebih dari 10 tahun! Kalau aja waktu itu para ahli biologi gak berani berkolaborasi dengan crowdsourcing, pasti pencarian obat untuk HIV/AIDS masih stuck disitu-situ aja. Gila, gak?

Baca juga: Memimpikan Indonesia Serba Terbuka

Kalau secara sederhana, crowdsourcing itu semudah bikin sayembara di dongeng-dongeng kerajaan. Siapa yang berhasil menemukan blablabla, akan dapat sekarung emas, atau bisa menikah dengan sang putri. Bedanya, di crowdsourcing, terutama yang bentuknya kompetisi kayak game Foldit di atas, orang lebih mengejar kebanggaan atau nilai intrinsik daripada uang. Jatuhnya lebih murah dong daripada sayembara dongeng kerajaan?

Ga cuma dalam bentuk kontes, crowdsourcing bisa juga dalam diinkorporasikan ke dalam sistem. Contoh paling gampang: Wikipedia. Semua orang bisa berkontribusi bikin artikel di ensiklopedia online ini, bikin Wikipedia semakin besar tanpa harus punya ribuan karyawan untuk melengkapi kontennya.

Sekali lagi, seperti judul artikel ini, dalam berinovasi, kita ga bisa jalan sendiri. Minta saran dari orang-orang sih bisa, tapi kalau bisa crowdsourcing, alias langsung berkolaborasi membuat sesuatu bersama-sama, kenapa gak sih?

Baca juga: Guy Kawasaki on The Art of Innovation

Header image credit: sitebuilderreport.com