Insight

Kreavi: Mengapreasiasi Kreator Visual Lokal Untuk Berkarya

Sebelumnya, Ziliun pernah menampilkan artikel dari Mayumi Haryoto berjudul Industri Ilustrasi Dalam Negeri, Nasibmu Kini. Sekadar rekap, Mayumi menggambarkan betapa industri kreatif tidak mendapatkan apresiasi yang layak dari negeri sendiri.

Biarpun rendah apresiasi, tidak ada yang meragukan besarnya potensi Indonesia di industri kreatif. Sampai-sampai ada satu kementerian khusus yang mengurusi soal ekonomi kreatif di republik ini. Sayangnya, seperti banyak hal lain di Indonesia, biar ada menterinya juga belum ada perubahan signifikan yang membantu memajukan talenta lokal.

Memang, membuat perubahan tidaklah semudah itu. Perubahan dan solusi untuk suatu masalah yang kompleks tidak cukup hanya diatasi oleh satu pihak, tetapi oleh banyak pihak yang saling berkolaborasi. Bagaimana masing-masing pihak menjalankan bagiannya untuk memecahkan masalah tersebut.

Salah satu solusi yang dihadirkan untuk memajukan dan mengapresiasi kreator visual di Indonesia adalah Kreavi, sebuah wadah yang telah menghubungkan 18.000 kreator visual dan desainer lokal per April 2014 ini. Di Kreavi, para kreator visual tersebut saling berjejaring, nge-share portofolio desain, bahkan posting dan ngubek lowongan kerja.

Benny Fajarai, sang CEO memulai jejaring dan marketplace kreatif pertama di Indonesia ini launching sejak Agustus 2012 lalu. Kreavi menyatukan para pelaku industri kreatif visual di Indonesia, termasuk di dalamnya orang iklan, animasi, arsitektur, sinematografi, seni rupa, fotografi, sampe web desain.

Meskipun semua orang bisa sign up dan mendaftar jadi anggota, karya-karya yang masuk tetap melalui kurasi tim Kreavi, sehingga kualitas konten tetap terjaga. Setelah sign up dan masuk, kita bisa saling follow antar anggota, meng-upload karya, sampai cari inspirasi lewat masterpiece punya kreator-kreator lainnya. Nggak perlu takut terjadi pencurian konten karena resolusi pixel karya kamu dibatasi sampai nggak bisa dipakai buat kepentingan komersil.

Positifnya sih jelas, galeri digital ini ngebantu banget untuk desainer manapun yang lagi stuck dan seret ide, untuk ngelancarin inspirasi dan cari wangsit di sini. Semua anggota bisa saling komen dan bertukar pikiran juga. Setiap karya yang keren pun akan di-promote oleh Kreavi di berbagai channel social media mereka.

Nggak berhenti sampai di situ. Kreavi pun sudah menginisiasi banyak aktivitas dan gerakan yang bertujuan memberikan kontribusi melalui karya-karya seni dan desain kreatif; dari Indonesia, untuk Indonesia.

“Sebagai jejaring kreator visual di Indonesia, Kreavi percaya kalau desainer Indonesia tidak hanya mampu menghasilkan karya dengan kualitas internasional, tapi juga bisa berguna dan membawa manfaat yang besar bagi lebih banyak orang,” tegas Benny Fajarai, CEO Kreavi.

Kayak gini kira-kira aktivitas Kreavi.

Menghubungkan banyak talenta dengan berbagai peluang

Semua desainer kalau lagi cari proyekan atau kerjaan, pasti diminta portofolionya. Dengan punya portofolio online di Kreavi, kreator-kreator lokal kita bisa dengan mudah share link yang berisi portofolio masing-masing. Selain itu, Kreavi juga menjadi penghubung dan marketplace yang menjembatani talenta-talenta kreatif dengan pihak lain untuk saling bekerjasama.

Melelang karya untuk pelestarian budaya

Kreavi secara rutin mengadakan kompetisi untuk menjadi ajang asah kemampuan bagi para kreator lokal. Kompetisi yang dinamakan Kreavi Challenge ini mengajak para desainer untuk unjuk gigi sekaligus berkontribusi terhadap Indonesia.

Salah satu contoh yang baru-baru ini dilaksanakan, Kreavi berkolaborasi dengan Java Jazz untuk menggelar Kreavi Challenge: Pesona Batik dan Wayang. Selama sebulan, Kreavi mengajak para desainer lokal menuangkan ide untuk memadukan batik, wayang, dan musik jazz ke dalam karya visual.

Karya-karya yang masuk diseleksi hingga terpilih sepuluh karya terbaik. Karya yang terpilih adalah yang dianggap mampu menerjemahkan batik dan wayang sebagai kearifan budaya asli Indonesia, hingga setara dengan musik jazz yang mendunia. Pada hari H Java Jazz 2014, batik-batik tersebut dijual dan dilelang, di mana seluruh hasilnya akan disumbangkan penuh untuk pelestarian batik dan wayang Indonesia. Hasilnya nggak main-main, lebih dari 100 juta rupiah berhasil Kreavi kumpulkan di sini.

Hal ini sejalan dengan visi Kreavi untuk menghubungkan para desainer dan kreator visual lokal untuk berkarya dan berkontribusi kepada Indonesia, baik dari sisi sosial, budaya, maupun ekonomi.

Temu muka dalam gathering kreatif untuk Indonesia

Hebohnya massa Kumpul Kreavi ep.10 – Branding: The Visual Strategy di Universitas Mercu Buana, Jakarta
CEO Kreavi, Benny Fajarai, berbicara di Kumpul Kreavi ep.10 – Branding: The Visual Strategy

Mengukuhkan posisinya sebagai nggak sekedar galeri virtual atau jejaring sosial di dunia maya, Kreavi juga menggelar acara tatap muka dalam gathering yang mereka namakan Kumpul Kreavi. Acara seminar yang dikemas secara santai ini dibuat untuk membantu para insan kreatif muda Indonesia untuk belajar. Di sinilah Kreavi mempertemukan anggotanya dengan para pekerja kreatif yang berpengalaman dan kompeten di bidangnya. Di sini, mereka bisa saling sharing, networking, dan belajar antara satu dengan lainnya. Sejauh ini, Kumpul Kreavi sudah hadir di 5 kota di Indonesia: Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, dan Surabaya.

Mengangkat kembali lagu daerah Indonesia melalui desain

Kreavi juga akan menggelar event bertajuk RupaNada, pameran visualisasi lagu daerah Indonesia yang terselenggara berkat kerjasama dengan Fabula dan  Jogja Force, kelompok pionir digital art di Indonesia. RupaNada adalah awal dari gerakan yang bertujuan untuk menghidupkan kembali lagu daerah tradisional asal Indonesia.

Lagu daerah yang terkesan basi dan tidak keren menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para kreator visual untuk mengangkat dan memasyarakatkan kembali kepada orang banyak, terutama anak muda. Tantangan ini diteruskan pada para seniman digital untuk mengulik lebih dalam arti setiap lirik dari lagu-lagu daerah Indonesia, dan menampilkannya dalam visual yang memanjakan mata. Acara yang bertema Mendengar dengan Mata, Melihat dengan Hati ini merupakan cara mereka menerjemahkan lagu daerah dalam wujud karya seni visual.

Rupanada akan diadakan pada 2 – 8 Mei 2014 di Jogja Gallery, Yogyakarta.