Insight

Konsep Business Model Canvas a la Startup Founder

A startup is a temporary organisation designed to search for a repeatable and scalable business model. Steve Blank

Beberapa diantara elo semua pasti pernah kan nge-fans dan kagum sama salah seorang businessman yang sudah sampai di puncak dan sukses di bidang usahanya, kan? Tapi, pernah nggak sih kalian kepikiran  bagaimana business model canvas (BMC) yang mereka pakai terapkan sampai akhirnya mereka bisa menjadi orang sukses saat ini?

Kalau ngomongin tentang startup, lo harus mau geser sedikit untuk belajar memahami tentang BMC. Adalah sebuah konsep model bisnis yang awalnya dikembangkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur. Konsep BMC ini berisi tentang strategi yang harus dijalankan untuk sebuah bisnis yang sedang lo tekuni dan ingin lo jadikan sumber revenue.

Secara umum, ada beberapa poin dalam BMC yang harus lo pahami sebelum lo berandai-andai soal revenue yang menggudang dan bisnis lo bisa berjalan secara auto pilot. Berikut, konsep BMC yang bisa lo pelajari sebelum lo mulai mengekspansi bisnis lo.

Baca juga : Memetakan Value Proposition dari Customer Pains

PROBLEM

Kalau ngomongin soal duit, mau dapet gaji 100juta per hari pun juga nggak bakalan cukup. Untuk menghindari menjadi pribadi yang matrealistis, lo harus menjadi pribadi yang realistis terlebih dahulu. Maksudnya adalah, lo harus realistis, sebenarnya lo itu bikin startup untuk apa, sih? Kalau masih nggak jauh-jauh soal duit, mending stop, deh!

SOLUTION

Startup itu soal bagaimana elo bisa memulai sesuatu yang bisa menjadi solusi atas permasalahan orang lain. Kalo lo mampu berpikir sampai tahap ini, percaya deh. Kelak customer lo akan merasa bahwa hidupnya terbantu sama lo.

Jadi, sebelum lo mikir kalo lo bisa jadi kaya karena punya company, mending lo pikirin dulu. Sehebat apa sih solusi yang bisa lo ciptakan untuk permasalahan yang muncul di masyarakat?

KEY METRICS

Masuk ke tahap ini, lo sudah harus mulai menyiapkan beberapa parameter keberhasilan versi lo untuk mengukur bagaimana progress yang selama ini udah lo lakuin. Poin-poin yang ada di key metrics ini nggak cuma bisa jadi parameter, melainkan juga bisa jadi pemacu semangat lo ketika lo merasa business plan lo stuck dan lo merasa nggak ada perubahan yang baik atas rencana yang elo jalanin.

Baca juga : Sudah Benarkah Cara Kita Mengukur Kinerja Startup?

UNIQUE VALUE PROPOSITION & UNFAIR ADVANTAGES

Pada tahap ini, lo harus mulai merancang secara detail, sebenarnya “Apa sih yang bakalan di dapat oleh pelanggan jika dia mau memilih bisnis kita?” worth it nggak kira-kira kalau mereka pilih kita sebagai solusi atas permasalahan dari mereka? Kalau enggak, ya berarti ada yang salah sama kita. Ingat, ya. Pelanggan itu berpengaruh banyak sama bisnis kita. So, jangan sekali-kali lo nyalahin pelanggan jika bisnis yang lo kembangkan nggak punya unique value proposition dan unfair advantages!

CHANNELS

Kalau produk lo sudah siap, sekarang waktunya lo mikir gimana caranya produk yang lo bikin bisa sampai ke konsumen. Lo pasti akan butuh relasi dari berbagai bidang untuk bisa mendistribusikan produk lo sampai akhirnya produk lo bisa sampai ke konsumen, kan? Jadi, banyak-banyakin relasi dan channels kalau lo semua mau jadi bagian dari pengusaha yang sukses, ya!

Baca juga : Mengapa Pengembangan Produk Startup Sering Kali Gagal Menghasilkan Growth?

CUSTOMER SEGMENTS

Meski terkesan sederhana, customer segments itu harus lo pikirin secara detail, lho! Nggak cuma produk lo itu lo buat untuk gender pria atau wanita aja karena lo juga harus ngerti dan paham betul “Sebenarnya gue ini buat produk untuk siapa sih?”

Lo bisa mulai memetakan customer segments lo mulai dari gender, umur, kemampuan ekonomi hingga minat dari calon customer lo. Dengan demikian, lo akan tahu betul kalau produk lo itu tepat sasaran atau justru salah sasaran.

COST STRUCTURE

Elemen BMC ini mewajibkan lo untuk bisa menyajikan dua contoh model struktur biaya perusahaan yang akan lo keluarkan dan lo terima. Dengan demikian, lo akan lebih mudah untuk menghemat pengeluaran dan meminimalkan risiko kerugian yang mungkin lo dapet di tengah-tengah bisnis yang sedang lo jalanin.

Setelah lo bisa mengisi BMC dengan lancar, ada satu lagi yang perlu lo pahami, yaitu sebuah bisnis model itu harus scalable. Maksudnya adalah bisnis yang lo jalanin itu ke depannya harus bisa menghasilkan revenue dan menarik pelanggan secara terus menerus tanpa lo harus mengeluarkan cost berlebihan. Jadi, bisnis lo bisa auto pilot dan lo tetep dapet revenue, deh!

Baca juga : Startup yang Gagal itu Sering Berasumsi