Opinion

Kisah Komikus Pelit dan Ilmunya yang Tak Tersampaikan

Saya sering mendapat pertanyaan yang kira-kira isinya begini: “Mas, kok bisa bikin alur cerita kayak gini? Gimana caranya?” atau yang lebih umum lagi, “Mas, ajarin dong bikin komik yang bagus!”.

Pertanyaan-pertanyaan tadi seringkali tidak bisa saya jawab. Bukan ‘tidak mau menjawab’, tapi bear-benar ‘tidak bisa’ menjawab. Selain karena pertanyaannya yang terlalu umum, saya sebetulnya bisa mengerjakannya tapi saya sendiri tidak tahu mengapa saya bisa membuat komik yang bisa mendapatkan respon pertanyaan-pertanyaan di atas.

Baca juga: Q&A: Sweta Kartika, Kunci Berkarya: Disiplin, Persistence, dan Konsistensi (1)

Sebelum melanjutkan, saya mau mengutip status teman saya, seorang musisi muda bernama Tesla Manaf Effendi. Dia menulis begini:

“Pernah gak ngerasain “gw gak ngerti musiknya, tapi ini bagus banget”. Menurut saya itu efek dari energi yg dilontarkan oleh musisi tersebut. Dari energi tersebut biasanya terpancarkan seberapa cintanya mereka terhadap musiknya, seberapa seringnya mereka berlatih dan seberapa kerasnya perjuangan hidup mereka. Kita gak perlu paham untuk menikmati keindahan dan kejujuran sebuah karya, cukup buka hati, mata, kuping dan pikiran saja.” (8 Agustus 2016, Facebook)

Tulisan itu seringkali kita alami juga ketika kita menonton film atau membaca komik yang bagus sekali, dan kita hanya bisa takjub tanpa bisa memahami formula istimewa yang bisa membuat karya tersebut menjadi luar biasa. Ada komik yang baru lima halaman membaca langsung kita tutup dan ditaruh begitu saja karena tidak menarik, ada juga komik yang begitu halaman terakhir ditutup, imajinasi kita segera liar dan terpukau sehingga membuat kita membuka komik itu berulang-ulang kali ke depannya karena saking bagusnya. Mengapa bisa begitu? Karena si komikus punya jurus rahasia yang ia dapat berdasarkan reputasinya, pengalamannya, perjalanan risetnya, pergaulannya, dan segala aspek yang menyusun pemikiran dan skill-nya dari waktu ke waktu hingga karya tersebut bisa lahir.

Gagasan cerita One Piece pastilah bukan ide yang muncul semalam. Apa yang kemudian lahir menjadi komik yang luar biasa pastilah hasil dari perjuangan dan rasa cinta komikusnya terhadap karyanya. Dan seringkali, rahasia formula itu bahkan tidak ia pahami. Dia hanya terus berkarya dan berkarya dituntun oleh intuisi hasil tempaan palu cinta kasih dan bara imajinasi yang mendidih oleh pengalaman dan kecerdasan imajinasinya.

Tidak semua formula pengkaryaan bisa dirumuskan.

Dan (sayangnya), sekalipun formula pengkaryaan komik itu bisa dituangkan dalam poin-poin rumus, belum tentu komikus lain bisa mengadaptasikannya ke dalam karyanya masing-masing.

Baca juga: Generasi Manja dan Euforia “Sukses Dadakan”

Pandji Pragiwaksono, seorang komika Indonesia, penggagas IP H2O:Reborn yang tengah saya karyakan komiknya, berkata di panggung ComicFest 2016 lalu:

“Ada masa ketika seseorang berimajinasi tentang sesuatu, lalu menuangkannya dalam gambar (komik), hasilnya tidak sama dengan apa yang dibayangkannya. Tapi ada orang yang antara imajinasi dengan realisasi karyanya itu nyaris tak berjarak. Sama. Jarak yang kemudian mendekatkan imajinasi dengan hasil karya itu adalah pengalaman. Pengalaman dalam bekerja keras, berlatih, dan bergaul,”.

Melalui catatan ini, saya sejatinya ingin meminta maaf kepada orang-orang yang menanyakan “cara membuat komik bagus” dan tidak bisa saya jawab. Selain karena “komik bagus” itu relatif, juga karena terkadang saya memang hanya bisa mengkaryakannya, tapi tidak sanggup merumuskannya. Seperti orang indigo. Ia bisa mengetahui satu hal tanpa sebab, tapi ia tidak tahu mengapa ia bisa mengetahuinya. Bukan karena pelit ilmu, tapi memang ilmu ini sulit sekali disampaikan. Pun tulisan ini tercipta dari hasil ngobrol dengan kreator-kreator lain yang sama-sama tidak bisa merumuskan pola pengkaryaannya. Pengalaman kita semua yang menyusun kemampuan emas itu.

Kita semua punya banyak waktu untuk bertualang, berlatih, bekerja keras, bergaul dengan baik, dan mengkaryakannya secara rutin. Itu semua adalah pengalaman yang fundamental dibalik terciptanya mahakarya yang mengguncang nalar pembaca, hingga tersimpan dalam hati, lalu menjelma menjadi titik inspirasi.

XGRA AXY!!

Baca juga: Q&A: Sweta Kartika, Kunci Berkarya: Disiplin, Persistence, dan Konsistensi (2)


Artikel ini ditulis oleh Sweta Kartika dan sebelumnya dipublikasikan di Notes Facebook Sweta Kartika.

@swetakartika adalah Komikus Grey & Jingga, Nusantaranger, H2O:Reborn, Pusaka Dewa, The Dreamcatchers, Piraku x Piraku, Spalko, dan Wanara.