Story

Theria Sofa dan Jasmine Tease: Ketika Tidak Ada Produk Menarik, Mari Ciptakan Sendiri

Bicara aksesori, memang tidak mudah menemukan yang sesuai dengan kepribadian atau signature style kita. Belum lagi banyaknya copycat berhasil menambah keseragaman aksen pada desain terkini. Kedua hal itu dialami oleh Theria Sofa yang memulai Jasmine Tease bersama suaminya sejak 2 tahun lalu. “Saya suka aksesori, tapi sulit menemukan yang sesuai selera saya untuk dibeli,” paparnya.

Namun, apa yang terjadi? Setelah berhasil bersusah payah mengenalkan brand aksesori handmade-nya, Jasmine Tease pun menjadi korban copycat. “Sekarang malah banyak competitor yang meniru signature design kita, yaitu macaroon bunny,” tutur Theria.

Baca juga: Jane Odelia Lukman and Nathalisa Octavia, Traveling Menjadi Inspirasi untuk Mendirikan From Tiny Islands

JT_HIRES_TAG

Meski demikian, bisa dikatakan keberadaan Jasmine Tease telah menambah keberagaman kreatifitas dalam kategori aksesori. Khususnya aksesori buatan tangan.

Biasanya aksesori buatan tangan alias handmade selalu identik dengan sesuatu yang tradisional. Tidak dengan Jasmine Tease yang banyak menggunakan karakter hewan, khususnya kelinci, dengan warna-warni yang sangat lembut dan feminin.

Karena tergolong unik, masyarakat awalnya tidak begitu memahami brand satu ini. “Kesulitan menjelaskan mengapa barang kami  mahal,” tukas Theria. Menurutnya, ia melihat kurangnya apresiasi terhadap barang handmade di indonesia.

“Target marketnya dari young adult dari usia 18 tahun sampai 35,” jelas Theria lagi. Maka tak heran, selain menampilkan produk aksesorinya di Basha Market, Jasmine Tease dapat dibeli melalui akun media sosial mereka, seperti Instagram yang akrab dengan para pengguna dari rentang usia tersebut.

Baca juga: Giovanni Widjaja, Dari Menjual Pomade Vintage hingga Membuka Barbershop

Aksesori merupakan sektor usaha yang dapat dianggap sebagai salah satu dari yang fast-selling. Namun bukan jaminan Jasmine Tease dengan mudah mendapatkan hati pelanggan. “Waktu awal mula kita membangun, banyak orang mengira barang kami mainan dan murah dan tidak diterima, agak sulit untuk build market,” tutur Theria lagi.

Ia harus melakukan banyak evaluasi untuk memperbaiki kualitas, bahan dan inovasi. Tentu, filosofi Jasmine Tease yang ia terus pegang menguatkan jalan Theria untuk terus menghidupkan karakter-karakter lucu yang menyenangkan. “Kita tawarkan adalah kualitas, service dan yg terpenting inovasi, ide yang fresh.”

Yang menjadi kunci keberhasilannya, Theria mengaku bahwa ia fleksibel terhadap masukan dan masukan, tapi selalu ingat dengan visinya.

Baca juga: Bagaimana Basha Market Dimulai: 960 Brand Dihubungi, 10% Berhasil Didapat