Story

Ketika Software Engineer Amazon Mengabdi di Sukabumi

Pada kesempatan The Backstage yang diselenggarakan Jumat (27/06) lalu, kita kedatangan tamu khusus yang diimpor langsung dari Seattle ke Yogyakarta. Yap, siapa lagi kalau bukan, Ridy Lie!

Ridy Lie (kanan) di The Backstage, UGM. dok. Ziliun

Think Locally, Act Globally

Selepas kuliah IT di US, Ridy Lie–anak Indonesia asli Sukabumi ini–langsung menancapkan kariernya sebagai salah satu software engineer di salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, amazon.com.

“Karyawan di Amazon itu banyak banget. Sekitar 12 ribu orang. Dari 12 ribu orang lalu dipecah menjadi 800 tim di mana tiap tim itu harus membuat side project-nya sendiri. Di sana saya bertugas membuat proyek baru Amazon bernama Amazon Fresh, yang menjual berbagai macam makanan segar,” cerita Ridy Lie tentang pengalamannya lebih dari 10 tahun bekerja di Amazon.

Baca juga: I Have a (Shopping) Dream…

Ridy Lie mengakui memang betah tinggal di Amerika. Nggak macet, minim polusi, dan finansial yang menunjang. Menariknya, kenyamanan yang didapatkan Ridy Lie di sana tidak lantas membuat Ridy Lie merasa sudah living life to the fullest.

Ridy Lie merasa ia harus mengejar kembali passion-nya, yaitu mengajar. Ridy Lie akhirnya pun meninggalkan paman Sam dan pulang ke tanah air untuk mengabdikan dirinya. Salah satu bentuk pengabdiannya saat ini adalah mengajar matematika dan komputer di sekolah kampung halamannya.

Perbedaan Mindset

Tinggal di negara adidaya, apalagi di lingkungan industri teknologi cukup lama, Ridy Lie melihat banyak perbedaan–baik budaya maupun mental kerja– dengan Indonesia.

“Di sana budaya gagal itu biasa banget dan dianggap sebagai proses. Kalau mau buat sesuatu mereka inisiatif sendiri, tanpa harus di dikte atasan. Pede aja gitu. Kebalik dengan orang Indonesia yang terlalu takut membuat keputusan. Takut membuat kesalahan. Padahal itu salah.” ujar Ridy Lie.

Baca juga: Ngobrol, Cara Tergampang Dapetin Ide

Ridy Lie juga menambahkan kalau developer di sana itu kalau menciptakan produk teknologi benar-benar membuat orang nggak melakukan apa-apa, berbeda dengan di sini yang masih melibatkan campur tangan manusia dalam teknisnya.

Pesan Ridy Lie di depan mahasiswa UGM agar sekelas mindset-nya dengan pekerja asing: “Lebih baik mencoba sesuatu dan gagal daripada tidak berbuat apapun selama hidup.”

Baca juga: 5 Hal Penting yang Harus Dikuasai UX Designer

Header image credit: dok. Ziliun