Opinion

Kenapa Saya Tak Lagi Percaya pada Pembangunan Karakter (2)

Pepatah kuno mengatakan, “Jika Anda mau mengubah dunia, mulailah dari diri Anda sendiri, dari dalam diri ini.”

Lupakan pepatah itu. Pergi keluar, berontaklah, dan rancanglah cara-cara yang lebih bagus untuk menjalani hidup. Anda layak melakukannya.

Panggilan atas Materialisme

Tahukah Anda mengapa orang-orang di Indonesia tidak banyak membaca? Itu karena kita melarang membaca santai di sekolah sementara distribusi buku berada di bawah monopoli sebuah rantai toko buku raksasa yang hanya dapat diakses di mal-mal dan kota-kota besar.

Tahukah Anda kenapa kita mengalami fenoma “alay” — kebencian orang-orang berkelas terhadap mereka yang memiliki citarasa buruk yang mencoba begitu keras untuk menjadi keren? Itu karena hal-hal yang keren hanya diproduksi dengan dikonsentrasikan pada satu kota — Jakarta — sementara daerah-daerah yang lebih miskin harus berjuang ekstra keras untuk menyamainya.

Baca juga: Mau ‘Jalan di Tempat, Grak!’ atau ‘Maju, Jalan!’?

Tahukah Anda kenapa begitu banyak pemerkosaan dan pornografi di bawah umur yang terjadi di Indonesia? Karena kita memiliki undang-undang anti-pornografi yang menyalah-nyalahkan para korban, ditambah dengan (dan ditanggung oleh) sistem peradilan yang sangat seksis.

Dan, sungguh  apa-apaan dengan kejahatan mode yang terwujud dalam rok-rok seragam sekolah yang panjang dan keanehan-keanehan lainnya?

Menjadi seorang materialis berarti beroperasi di bawah anggapan bahwa aksi adalah hasil dari sebuah desain. Desain-desain itu dapat dibuat secara sengaja ataupun tidak, tapi mereka adalah struktur material yang menyebabkan hal-hal terjadi dalam satu cara alih-alih cara lainnya.

Tolong berhenti membicarakan mengenai Indonesia ini dan Indonesia itu. Bahwa ada potensi luar biasa di bawah budaya yang parah dan tak ada dukungan dari pemerintah dan seterusnya dan seterusnya. Oke, kita sudah paham itu.

Baca juga: Fenomena Batu Akik: Menyikapi Irasionalitas Berjamaah

Semua Ini Mengenai Desain (Buruk)

1-hdAbY1z_Rg4EvbXlWcumJA

Yang membuat saya paling sedih adalah di kalangan desainer dan kaum intelek papan atas pun mitos-mitos mengenai budaya lokal Indonesia dan dibutuhkannya pembangunan karakter telah menjalar begitu dalam.

Untuk apa bicara mengenai pembangunan karakter jika kita memaksa anak-anak kita mengenakan seragam-seragam sekolah yang mengerikan dan memberikan pejalaran-pelajaran moral yang membosankan — dan Anda bahkan tak menyadari pentingnya membaca santai?

Untuk apa bicara mengenai kearifan lokal ketika Anda membatasi diproduksinya hal-hal keren untuk memusatkan segalanya di bawah bendera kapitalisme, lalu meneriakkan ejekan “alay” kepada orang-orang yang tidak bisa mencapai posisi Anda karena mereka kekurangan sumber daya?

Baca juga: Think Like A Freak

Untuk apa bicara mengenai revolusi mental jika Anda tidak melakukan apa-apa terhadap kebiasaan buruk dan alih-alih mencoba menutupi segalanya di bawah pretensi seorang pria kuat?

Kenapa tidak, misalnya saja, bicara mengenai membuat buku-buku menjadi mudah dibeli dan bagaimana kita bisa memberi insentif terhadap para pengajar untuk mempersilakan membaca santai di kelas? Atau, misalnya saja, kita menulis cerita dimana wanita gemuk, homoseksual, dan aktor berparas pribumi tidak sekedar menjadi bahan candaan?

Bagaimana jika kita membuat sekolah yang menegaskan bahwa mereka percaya pada anak-anak muda, alih-alih meneriakkan jargon ‘agen perubahan’ terus-menerus, dan mulai memikirkan caranya untuk membuat seragam sekolah menjadi sesuatu yang keren lagi, sebagaimana yang dilakukan oleh Jepang, sehingga anak muda menjadi simbol dari cool?

Atau mungkin kita bisa membuat aplikasi yang membantu korban-korban pemerkosaan dan mengekspos ketidakadilan yang seringkali mereka terima di pengadilan? Dan tandai orang-orang yang mencari kata kunci “cewek SMP bugil” di Google untuk membuat Indonesia menjadi lebih aman dari predator seksual?

Baca juga: Kenapa Saya Tak Lagi Percaya Pada Pembangunan Karakter (1)

Pepatah kuno mengatakan, “Jika Anda mau mengubah dunia, mulailah dari diri Anda sendiri, dari dalam diri ini.”

Lupakan pepatah itu. Pergi keluar, berontaklah, dan rancanglah cara-cara yang lebih bagus untuk menjalani hidup. Anda layak melakukannya.


Artikel ini ditulis oleh Bonni Rambatan dan diterjemahkan oleh Ahmad Alkadri dan sebelumnya dimuat di sini.

Image header credit: picjumbo.com