Featured

Kenapa Karakter Animasi Indonesia Cuma Jalan di Tempat?

Pernah bertanya-tanya gak, kenapa ya animasi Indonesia jalan di tempat, sementara animator kita banyak yang jago dan kerja di luar negeri?

Kalau kita lihat televisi lokal sekarang, udah banyak animasi lokal. Sebut aja, Keluarga Somat, Si Entong, Adit & Sopo Jarwo. Tapi, animasi-animasi ini gak pernah se-”mewabah” animasi luar kayak Upin & Ipin, Masha and The Bear, atau Jejepangan dari Naruto sampai Dragon Ball.

Well, coba kita telusuri dari hal yang paling mendasar: kenapa suatu animasi bisa terkenal?

Jawabannya: karena masuk TV.

Baca juga: Kata Hukum tentang Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia

Image credit: hebring.telkomspeedy.com
Image credit: hebring.telkomspeedy.com

Ya, kan? Kalau animasi-animasi itu gak ada di TV, kecil banget kemungkinannya dia bisa mewabah dan bikin kita mau beli bonekanya, tasnya, botol minumnya. Mal-mal gede juga gak bakal bikin Meet & Greet with Dora kalau si Dora gak masuk TV dulu awalnya.

Lalu, kenapa karakter animasi asli Indonesia semuanya gak pada dimasukin TV aja?

Well, here comes the problem.

Menurut Andi Martin, kreator karakter superhero Hebring, TV nasional bisa membeli episode animasi luar seperti Doraemon dengan biaya sangat murah. Kenapa bisa murah? Karena, distributornya Doraemon yang menjual episode-episode tersebut udah keliling dunia untuk menjual ke tiap negara. Isitlahnya, dari Indonesia, distributor itu cuma nambah uang jajan aja. Gak perlu nutupin biaya operasional lagi.

Baca juga: Hompimpa Studio, Siapa Bilang Indonesia Nggak Bisa Bikin Film Animasi

Sementara, when it comes to local animation, TV nasional gak mungkin hanya membayar tiap episode dengan harga semurah Doraemon. Biaya produksi satu episode itu hitungannya bisa 10 kali lipat harga episode Doraemon yang dijual ke TV Indonesia. Dengan dua pilihan antara membeli animasi luar sekelas Doraemon dan membeli animasi lokal (yang belum tentu sukses) dengan harga 10 kali lipat, ya kalo mikirnya pake hitung-hitungan bisnis, animasi lokal akan selalu kalah.

Kalau aja ya, kalau aja ada TV nasional yang punya hati untuk naikin animasi lokal :’). Atau paling gak angel investor yang mau biayain produksinya para animator…

Inisiatif Para Animator Lokal

Ya tapi kalau nunggu kebaikan dari orang lain, animasi Indonesia gak akan kemana-mana. Mendingan, para animator berkolaborasi untuk menaikkan industrinya sendiri, iya gak?

Misalnya, seperti yang dilakukan oleh teman-teman animator dari Kratoon Channel (singkatan dari Kerajaan Cartoon), sebuah channel khusus animasi Indonesia yang akan diluncurkan tepat pada Hari Pahlawan, 10 Nopember nanti. Andi Martin yang juga merupakan salah satu co-founder Kratoon mengungkapkan bahwa Kratoon dibuat sebagai media alternatif animasi-animasi lokal.

“Idenya berangkat dari temen-temen di animasi, karyanya itu susah sekali diapresiasi dan masuk ke TV. Dari ngobrol-ngobrol akhirnya, kita mikir, kalau kita gak masuk TV, karakter kita gak terkenal-terkenal. Ya kita harus cari cara lain, salah satu jalan adalah dengan social media.”

Baca juga: Karakter Fiksi Indonesia Butuh Proteksi Hak Cipta

Logo-Kratoon-01

Kratoon Channel ini nantinya terbuka untuk para kreator yang punya karakter, dengan animasi sebagai produk turunannya. Tentunya, para kreator yang ingin ikut akan dikurasi, dilihat dari kualitas dan keseriusan mereka dalam mengembangkan karakternya.

“Kita maunya bikin character industry. Karena kita udah gak ngomongin animation industry lagi. Kalau di Jepang, disebutnya character industry, di mana karakter lo bisa jadi animasi, game, yang sebenarnya hanya produk turunan,” kata Andi Martin.

Kratoon Channel akan memanfaatkan berbagai media sosial dari YouTube, Dailymotion, Instagram, hingga Facebook. Karakter-karakter yang boleh ikutan di Kratoon pastinya adalah karakter yang ceritanya punya pesan positif, karena Kratoon menyasar penonton anak-anak usia 5-15 tahun. Yang pasti, jauh lebih positiflah, daripada sinetron-sinetron gak jelas di TV nasional!

Animator-animator aja udah semangat mau memberdayakan diri sendiri dan sesama animator. Ayo dong, TV nasional dan orang-orang berduit, masa mau anak-anak Indonesia bercandaannya kayak orang Malaysia dan Rusia?

Header image credit: huffingtonpost.co.uk