Opinion

Katak Dalam Tempurung di Era Internet

“Bagai katak dalam tempurung.”

Pernah denger peribahasa itu kan? Kebanyakan orang Indonesia tahunya arti dari peribahasa bagai katak dalam tempurung itu adalah picik, orang-orang yang berpikiran sempit dan tidak memiliki wawasan yang luas. Dulu peribahasa ini populer karena belum ada teknologi yang namanya internet. Dengan peribahasa itu, orang-orang diwajibkan untuk “keluar rumah” untuk mencari ilmu lebih banyak lagi. Pergi ke perpustakaan dan lebih sering lagi bertemu dengan orang-orang baru untuk bertukar ilmu juga.

Sekarang zaman berubah. Dengan internet, orang yang duduk di rumah bisa menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah mereka datangi dan mengetahui kebudayaan yang ada di belahan dunia lain. Di internet juga, orang-orang saling berbagi cerita dan pengetahuan secara cuma-cuma. Hal-hal tabu yang sulit ditanyakan di tempat umum pun bisa kita dapatkan jawabannya hanya dengan internet. Nah, sayangnya di zaman modern ini, orang-orang yang termasuk kategori katak dalam tempurung malah semakin banyak, mungkin aja salah satunya adalah kita.

Image credit: jakeorr.ac.uk
Image credit: jakeorr.ac.uk

Pertama, orang yang nggak mau menerima kritik. Nggak sedikit kreator Indonesia membentuk circle sendiri untuk saling berbagi karya. Tapi kalau nunjukin karya ke sesama teman circle doang, kapan improve-nya? Contoh paling mudah adalah saat kontes comic challenge yang diadakan oleh sebuah platform komik milik aplikasi pengirim pesan yang populer di Indonesia. Beberapa komikus mengeluhkan komentar-komentar pembaca di platform tersebut yang dianggap bodoh dan nggak masuk akal. Nah hal yang kayak gini yang bikin komikus jadi katak dalam tempurung. Baru nemuin komentar nggak enak, malah menganggap pembaca bodoh. Padahal kan pembaca adalah konsumen yang notabenenya adalah raja, yang nggak perlu tahu teknis dan susah payahnya si kreator bikin karya tersebut. Percaya deh kalau karyanya bagus, pasti konsumen dengan sendirinya bisa berpikir bahwa karya tersebut dikerjakan dengan susah payah dan teknik-teknik tertentu yang tidak bisa mereka bayangkan.

Teruntuk kreator Indonesia, ayolah keluar dari tempurung kalian. Jangan takut karya dicuri orang kalau diliat orang banyak dan menerima kritik dengan lapang dada. Tentu saja semua kritik itu bisa disaring untuk improvement karya sendiri.

Kedua, komunitas yang ngerasa eksklusif. Ya sah-sah aja kalau mau menjadikan komunitas itu tempat yang eksklusif, tapi inget dunia ini isinya bukan cuma komunitas kalian. Ambil contoh rusuhnya supporter Persija di pertandingan Piala Presiden kemarin. Yang bertanding siapa, kok yang rusuh malah yang “ngerasa” punya stadion bola? Belum lagi komunitas pecinta Jejepangan yang mudah banget nebar kebencian ke komunitas lain, misalnya komunitas pencinta Korea atau komunitas pencinta penyanyi Barat. Duh orang-orang macem ini tuh hidup di “dunianya sendiri” tapi ingin diakui oleh orang lain. Kan lucu! Mau diakui tapi nggak mau mengakui keberadaan komunitas lain. Kenapa nggak coba menjalin hubungan lain dengan komunitas lain? Kan bisa kolaborasi. Kan bisa eksis bareng.

Image credit: theodysseyonline.com

Ketiga, hidup dalam zona nyaman. Tanpa disadari, kita sendiri yang menciptakan tempurung itu. Merasa bahwa pengetahuan sendiri sudah cukup jadi nggak perlu belajar lagi. Padahal di luar zona nyaman itu masih banyak yang belum kita ketahui, masih banyak keajaiban yang belum kita dapati. Di luar sana, orang bisa melakukan perubahan hanya karena menantang diri keluar dari tempurung yang kita buat sendiri. Belum lagi orang-orang yang rela meninggalkan kehidupan nyatanya demi kehidupan di dunia maya. Padahal apa yang ada di dunia maya kan ciptaan dari dunia nyata. Apa segitu kejamnya dunia nyata sampai rela hidup di dunia maya yang uda jadi zona nyaman kalian tanpa perlu beraksi?

Teknologi diciptakan dan dikembangkan untuk keluar dari tempurung. Untuk melangkah maju ke depan. Sebagai masyarakat modern, masa masih mau jadi katak dalam tempurung?

Header image credit: leaplikeafrog.com