Opinion

Jualan Film Itu Gak Cuma Tentang Jualan Tiket Screening

Ada pola pikir yang mesti dibenerin dari para filmmaker Indonesia, kalau jualan film itu gak cuma tentang jualan tiket screening.

Mei lalu, dalam rangka World Intellectual Property Day, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) menyelenggarakan sebuah forum diskusi hak kekayaan intelektual yang membahas tentang bagaimana melindungi dan memonetisasi hak kekayaan intelektual di industri film.

Image credit: haqiachmad.wordpress.com

Salah satu panel membahas tentang beberapa kisah sukses monetisasi IP film di Indonesia. Panel ini menghadirkan dua filmmaker yang udah gak asing lagi namanya, yaitu Mira Lesmana dan Salman Aristo.

Seperti kita semua tahu, film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang diproduseri Mira Lesmana sukses besar, dan isunya sih, akan dibikin sekuel. Nah, kesuksesan itu gak bikin Mira Lesmana lantas terlena, tapi justru dimanfaatin untuk menghasilkan pendapatan tambahan.

Baca juga: Bangkitkan Kreativitas, Bangkitkan Film Indonesia!

Mungkin kita semua masih ingat, kalau tahun 2003, AADC sempat di-remake menjadi sebuah serial televisi yang selama sekitar dua tahun tayang di sebuah stasiun televisi. Walaupun gak bisa menyebutkan angkanya, Mira Lesmana mengaku kalau monetisasi dari pemberian license berupa judul, karakter, dan cerita sekuel ini memberikan pendapatan yang lumayan besar untuk AADC.

Lalu, baru-baru ini, pastinya kita masih ingat dengan Line AADC yang bikin heboh dan viral banget. Ini juga merupakan salah satu bentuk monetisasi film AADC dengan cara memberikan license kepada Line untuk judul film, karakter, cerita sekuel, video iklan Line, footage film AADC, dan print ad. License ini hanya diberikan selama enam bulan, tapi juga memberikan pendapatan yang besar.

Karena AADC adalah film yang sukses besar, Mira Lesmana selaku produser hati-hati banget dalam memberikan license-nya. Semua bentuk turunan kekayaan intelektual AADC memang punya kesempatan memberikan pendapatan tambahan, tapi Mira Lesmana juga pilih-pilih, dalam arti jangan sampai turunan tersebut menyimpang dari AADC. Line Messenger sendiri berhasil mendapatkan license karena storyboard yang ditawarkan dirasa cocok oleh Mira Lesmana.

Baca juga: Chicken-and-egg Dilemma di Perfilman Kita

Image credit: anomph.blogdetik.com

Filmmaker Kita Kurang Keyakinan?

Selain AADC, ada juga kisah sukses dari film Garuda di Dadaku. Pada panel tersebut, Salman Aristo, screenwriter untuk Garuda di Dadaku memonetisasi Garuda di Dadaku dengan berbagai cara, mulai dari serial TV spin-off selama dua season, buku prekuel dan cerita film, serta hak remake yang saat forum tersebut diselenggarakan masih sedang didiskusikan. Ke depannya, Garuda di Dadaku tidak hanya akan dimonetisasi melalui turunan-turunan kekayaan intelektual tersebut, tapi rencananya juga akan dikembangkan menjadi sebuah brand cerita sepakbola.

Kenapa sih penting untuk tahu cerita sukses dua film ini? Alasannya karena, menurut Salman Aristo, filmmaker Indonesia masih kurang punya keyakinan kalo hak kekayaan intelektual bisa jadi modal untuk menambah pendapatan. Ya, karena memang ekosistem kita belum matang, belum banyak yang benar-benar melihat intellectual property (IP) sebagai sumber pendapatan.

Kesuksesan monetisasi intellectual property bisa dibilang tergantung kepada kesuksesan film. AADC misalnya, karena sukses besar, jadi gak sulit untuk memonetisasi, karena yang mau beli license udah ngantri. Tapi, kalau kata Mira Lesmana, bukan gak mungkin kok, film yang gak sukses besar tetap memanfaatkan hak kekayaan intelektualnya.

Baca juga: Esensi Berkarya: Dapat Nama atau Bikin Perubahan?

Mira Lesmana memberi contoh film Pendekar Tongkat Emas yang diproduserinya. Film ini diharapkan bisa meledak, tapi ternyata gak sesukses yang diharapkan. Tapi, Mira Lesmana tetap berusaha memonetisasi IP dari Pendekar Tongkat Emas, misalnya dengan memberikan izin pembuatan adaptasi game-nya kepada studio Altermyth, izin pembuatan merchandise karakter kepada Toms Media Service Asia, serta izin pembuatan buku behind the scene dan komik kepada perusahaan penerbitan. Semuanya berjalan dengan sistem royalti.

Lewat tulisan ini, kita pengen menyadarkan filmmaker kalau jualan film itu gak cuma tentang jualan tiket screening. Bermodal sedikit keyakinan, bukan gak mungkin lama-kelamaan filmmaker Indonesia bisa memanfaatkan hak kekayaan intelektual kayak perusahaan sekelas Pixar. Filmnya belum diluncurin, merchandise-nya udah dibikin!

Go film Indonesia!

Header image credit: youtube.com/yam ama