Opinion

Ide, Selalu Memunculkan Masalah Baru untuk Diselesaikan

Pernah merasa stuck dan kehabisan ide untuk menyelesaikan suatu masalah? Saya yakin, hampir semua orang pernah merasakannya. Stuck adalah kondisi dimana sebenarnya banyak sekali ide yang melintas dalam pikiran, namun sayangnya karena suatu hal tiba-tiba saja kita kehilangan arah untuk merealisasikan ide tersebut. Hal ini pun berlaku ketika kita sedang dimintai sebuah solusi atas sebuah masalah.

Kalau stuck-nya sendiri sih masih enak. Nah, kalau stuck-nya satu tim bareng? Gimana dong?

Dalam sebuah tim, salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan suatu masalah adalah dengan membuka forum diskusi. Dalam forum ini, seluruh anggota tim akan diminta untuk brainstorming dan menyampaikan setiap ide/gagasan yang sekiranya bisa menjadi jalan untuk menyelesaikan masalah.

Nah, perlu dipahami juga bahwa brainstorming memiliki kebebasan mutlak tanpa kritik. Tujuannya? Jelas, untuk membiarkan semua ide keluar tanpa batasan apapun sehingga titik temu masalah bisa ditemukan dan dipecahkan. Terlihat sederhana, bukan?

Baca juga: Ide Lo Basi Kalo Gak Divalidasi

Tapi tunggu dulu, bagi kamu para pelaku startup, kamu perlu ingat satu hal tentang:

Having an idea it is not only about thinking, right?

It is about finding, exploring, excecuting.

Itulah sebabnya kamu harus paham tentang metode design sprint yang populer di kalangan para pelaku startup. Design sprint memiliki konsep “build, learn and measure” dengan strategi yang prosesnya singkat dan juga minim biaya. Meski design sprint memiliki proses yang terbilang singkat, tapi ada tahapan yang harus kamu lalui untuk bisa membangun sebuah startup yang ideal.

Poin pertama kali untuk membangun sebuah startup yang ideal adalah dengan memahami konsep understand. Tak hanya konsep, understand bisa menjadi tahapan utama untukmu bisa memahami sebuah ide untuk pertama kali. Yes, you have to understanding your idea first. Simpelnya, sebelum kamu membangun sebuah startup, kamu harus tau arah idemu akan berjalan.

Baca juga: Validasi Ide Startup Aja Nggak Cukup!

Caranya adalah dengan membuat kuesioner dan menyebarkannya untuk menemukan poin masalah yang membutuhkan penyelesaian tertentu.Setelah masalah berhasil ditemukan, tugasmu selanjutnya adalah menyusun struktur permasalahan dalam bentuk desain berupa mapping yang nantinya akan kamu selesaikan melalui proses berikutnya.

Tahapan kedua adalah diverge. Masuk ke proses diverge, kamu harus menggali lebih lanjut terkait ide pemecahan masalah sebanyak-banyaknya dari anggota tim diskusi. Nah, cara ini bisa berjalan efektif dengan cara meminta seluruh anggota tim membuat draft kasar tentang bagaimana seharusnya ide tersebut berjalan dalam bentuk aplikasi.

Setelah itu, kamu baru akan masuk ke tahapan decide. Seperti dengan namanya, decide adalah tahap penentuan. Kamu bisa mulai melakukan voting untuk menemukan rancangan mana yang terbaik. Semua ide hasil dari brainstorming akan diputuskan oleh suara terbanyak. Yang artinya, setelah satu ide terbaik terpilih, langkah selanjutnya adalah dengan melakukan finalisasi desain.

Baca juga: Ide Buat Branding Startup Lo? Kenapa Enggak!

Kalau sudah ada keputusan, ya prototype harus segera dibuat. Ini nih tahapan sebenarnya dalam sebuah design sprint. Pada proses ini, tim developer punya tanggungjawab lebih untuk menciptakan prototype yang siap uji. Selanjutnya, prototype ini dikenal dengan Alpha Version yang mana hanya beberapa orang saja yang boleh mencobanya seperti para developer, tim uji produk dan beberapa user yang expert di bidangnya.

User testing pada Alpha Version ini akan menghasilkan beberapa feedback seputar kelebihan dan kekurangan aplikasi yang telah ada. Setelah kamu berhasil mendapatkan feedback positif dan negatif, jangan senang dulu! Kamu masih punya tanggungjawab lebih lanjut untuk menjadikan Alpha Version menjadi Beta Version.

Oke, konsep brainstorming sudah. Tahapan design sprint juga sudah. Sekarang, waktunya kamu yang merealisasikan idemu!

Baca juga: Cara Tepat Untuk Validasi Ide Startup