Featured

Fenomena Pasar Santa: Tempat Hipster atau Ruang Kreatif?

Booming Pasar Santa harusnya lebih dari sekedar jadi tempat nongkrong anak muda hipster Ibukota. Bukan tidak mungkin Pasar Santa akan jadi atraksi turis domestik sampai mancanegara, atau bahkan berkontribusi besar pada perekonomian kreatif kita.

Kalau lo adalah salah satu AGJ (Anak Gaul Jakarta), mungkin weekend belakangan lo sempat pergi ke Pasar Santa. Tempat yang lagi hip di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini awalnya cuma pasar tradisional biasa yang ngejual berbagai macam sayur dan buah.

Namun, sekitar dua tahun lalu, dua anak muda pecinta kopi–Hendri Kurniawan dan Ve Handojo– membuka gerai yang namanya ABCD (A Bunch of Caffeine Dealers) sekadar untuk ajang latihan membuat kopi. ABCD sejak beberapa bulan lalu mulai menarik pengunjung karena konsepnya yang menarik. Pemiliknya menjalankan ABCD bukan sebagai kafe, tapi sebagai playground for coffee geeks. Konon, gerai kopi ini hanya buka di hari-hari tertentu, dan nggak mematok harga untuk kopi yang dihidangkan. Unik? Iya.

Pasar Santa (image: thedustysneakers.com)

Keunikan ABCD kemudian menarik orang-orang lain untuk membuka gerai yang sama hispternya, misalnya Laidback Blues dan Substore yang menjual piringan hitam jadul, seperti lagu-lagu John Lennon dan Ella Fitzgerald. Ada juga Post, sebuah ruang kreatif yang bebas digunakan anak muda untuk berbagai acara dengan harga terjangkau.

Baca juga: Melawan Media Mainstream dengan Zine

Pasar Santa bisa dibilang udah jadi tempatnya para hipster. Di social media aja, para netizen banyak yang ngaku merasa gak gaul karena belum ke Pasar Santa. Hashtag #Jajandipasar di Twitter booming. Di waktu weekend, banyak yang nge-Path fotonya lagi nongkrong di Pasar Santa. Harga sewa di tempat ini pun meningkat dua kali lipat dengan cepat. Kalo dipikir-pikir lagi, ke depannya, apa Pasar Santa cuma bakal jadi fad buat para anak hipster?

Coba kita lihat distrik Tianzifang di China. Awalnya, Tianzifang cuma distrik biasa yang ditempati rumah-rumah warga, jadi suasananya benar-benar “lokal” banget. Kemudian, pada tahun 2006, Tianzifang mau dihancurkan buat redevelopment. Rencana ini pun mendapat banyak komplain dari pemilik bisnis lokal dan seorang seniman bernama Chen Yifei yang punya studio seni di Tianzifang. Mereka membuat proposal ke pemerintah lokal agar area tersebut tetap dijaga ambience tradisionalnya.

Baca juga: Budaya Latah Harus Segera Punah

Tianzifang (image: studio-111blog.com)

Setelah itu, satu-persatu merchant lokal mulai masuk ke Tianzifang, termasuk sekolah-sekolah dan studio seni. Lama-kelamaan, keunikan Tianzifang yang lokal banget dengan bisnis-bisnis kreatifnya—dibanding area-area komersil di Shanghai–bikin area ini banyak diliput media lokal dan internasional. Saat ini, Tianzifang jadi tourist attraction top di Shanghai yang terdiri dari banyak toko kerajinan, coffee shop, art studio trendi, dan lebih dari 200 bisnis kecil lainnya.

Kalau Tianzifang bisa jadi pusat bisnis kecil kreatif gara-gara local concept-nya, kita mesti optimis kalau semangat “indie” dari gerai-gerai hipster Pasar Santa satu ini boleh jadi satu keunggulan yang bisa digunakan untuk banyak hal positif.

Iya, Pasar Santa punya segala potensi untuk jadi lebih dari sekadar tempat nongkrong anak muda hipster Ibukota. Alih-alih sekedar nongkrong dan show off di social media kalau sah “gaul” dengan datang ke Pasar Santa, tempat ini bisa jadi space dan showcase kreatif yang melahirkan (dan memicu lahirnya) banyak produk dan karya anak muda.

Baca juga: Nggak Usah Takut Dibilang Pencitraan

Nggak seperti tipikal resto atau tempat nongkrong yang booming hanya di awal, kalau Pasar Santa dihidupkan sebagai pusat komunitas dan bisnis kreatif anak muda, gaungnya akan terus-menerus ada. Entah itu dengan difungsikannya Pasar Santa sebagai coworking space, atau digelarnya lebih banyak event kreatif di sana. Bukan tidak mungkin Pasar Santa akan jadi atraksi turis domestik sampai mancanegara, atau bahkan berkontribusi besar pada perekonomian kreatif kita.

Anak-anak muda hipster, yang notabene unik kreatif dong tentunya, kalau tumpah ruah jadi satu di Pasar Santa, masa sih nggak bisa menghasilkan apa-apa. Pasar Santa seharusnya bisa jadi ruang kolaborasi antar anak muda Ibukota. Agar kreativitas dan idealisme mereka nggak mentok di mal-mal yang makin banyak aja jumlahnya, melainkan berkembang di space dan komunitas kreatif, potensi yang Pasar Santa punya.

Gimana, terima tantangannya?

Baca juga: Kreativitas Bukan Barang Eksklusif

Header image credit: delahaye.nl