Insight

Faktanya, Gak Ada Cukup Uang Untuk Membayar Semua Hutang di Dunia

Today, there is more debt, in the world, than money.

Pernyataan dari Jem Bendell di atas mungkin mengejutkan bagi sebagian orang yang belum sadar gimana cara kerja bank. Misalnya, lo pergi ke bank untuk meminjam uang. Lo pikir si bank sebenarnya punya uangnya gitu? Gak. Mereka punya uang untuk dipinjemin, dari interest yang diperoleh dari piutang lainnya. Jadi pernyataan di atas makes sense: there is more debt than money in the world.

Apakah Ziliun sekarang tiba-tiba jadi sosialis? Gak dong. We only try to tell you that the real wealth is not money. Seperti cerita Jim Bendell di bawah ini, tentang desa di zaman dahulu di mana kekayaan itu terletak di sawah, ladang, ternak, serta tetangga-tetangga kita yang juga memproduksi kebutuhan lain seperti makanan dan pakaian. Alkisah, kemudian seorang ksatria datang dan meminjamkan 10 token uang ke semua orang, dengan syarat pada akhir tahun token-token itu sudah berjumlah 11 saat dikembalikan (kayak bunga di bank aja).

Apa dong yang terjadi? Ya awalnya semua orang seneng pake token itu, karena gak harus barter. Tapi kan tiap orang cuma punya 10 token ya, dan mereka harus ngebalikin 11? Akhirnya tiap orang naikin harga aset yang mereka punya, dengan harapan bisa membayar bunga sejumlah 1 token itu. Ya tapi karena tiap orang juga melakukan hal yang sama, gagal deh. Akhirnya mereka ga bisa bayar hutang ke si ksatria dan aset-aset mereka diambil.

Poinnya bukan masalah si orang-orang desa gak bisa bayar hutang. Memang gak ada cukup uang untuk membayar semua hutang di dunia ini. Tapi orang-orang desa yang awalnya sangat valuing their assets and neighbors akhirnya jadi bergeser, yaitu valuing the token. The currency has changed.

Real wealth doesn’t lie in money, fyi aja 😀

Baca juga: Sebelum Ada Barter, Ternyata Manusia Dulu Saling Berhutang

Header image credit: wikihow.com